Sumanto Al Qurtuby:

Kisah Para Manusia Dewa

Minggu, 26/01/2020 00:01 WIB
Zoroaster (Medium)

Zoroaster (Medium)

law-justice.co - Kisah tentang Yesus atau Jesus (Inggris), Yasu’ (Arab), Yesu’ (Aram), Iesous (Yunani), Iesus (Latin), Yesua (Ibrani) dll sebagai manusia dewa sang Putra Allah sudah banyak diketahui di Indonesia dan mancanegara.

Tetapi tahukah Anda bahwa kisah “manusia dewa” itu bukan hanya terjadi pada sosok Yesus Kristus saja. Ada sejumlah sosok atau figur “manusia dewa” lainnya. Tidak jelas apakah figur itu tokoh sejarah yang dilegendakan atau tokoh legenda yang disejarahkan. Silakan Anda nilai sendiri. Saya hanya menyampaikan informasi berdasarkan sumber bacaan yang saya dapat.

Di antara “manusia dewa” yang dimaksud, antara lain, Zoroaster atau Zarathustra, tokoh spiritual Persi (sekarang Iran), yang kemudian menginspirasi lahirnya Zoroastrianisme (juga disebut Mazdayasna), salah satu agama kuno (lahir jauh sebelum Kristen, apalagi Islam) yang masih bertahan hingga kini. Agama ini menyembah Ahura Mazda yang secara literlek berarti Tuhan Kebajikan.

Sejumlah doktrin fundamental Zoroastrianisme adalah keyakinan atas surga, neraka, kiamat, kebangkitan kembali, penyelamatan, dan messianisme. Oleh pengikutnya, Zoroaster dipercayai sebagai pancaran cahaya Ilahi yang lahir dari seorang perawan. 

Dikisahkan Zoroaster dibaptis oleh seorang bijak di sebuah sungai. Ia juga dikisahkan pernah diganggu setan tapi mampu mengusirnya. Ia juga diceritakan mampu menyembuhkan orang-orang buta.

Sosok lain yang mirip Yesus bernama Attis. Dalam mitologi Yunani, Attis lahir dari seorang perawan bernama Nana. Ia dipercayai sebagai Putra Allah dan Bapa sekaligus. Seperti Yesus, dia juga dianggap sebagai penyelamat yang rela dibunuh demi menyelamatkan manusia dan kemanusiaan.  Pada hari “Jumat Hitam” itu ia disalib di sebuah pohon. Darahnya yang mengalir ke bumi dipercayai untuk menebus dan menyelamatkan umat manusia.

Di pesisir selatan Laut Hitam (di Samudera Atlantik) dikisahkan juga telah lahir secara ajaib “manusia dewa” bernama Glycon. Ia diyakini sebagai putra Tuhan Apollo yang sengaja dilahirkan di – atau dikirim ke – dunia untuk menunjukkan “kuasa Allah” atau katakanlah sebagai “manifestasi Tuhan di muka bumi”: menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati dan menunjukkan aneka mukjizat lainnya.

Sosok lain yang juga menyerupai Yesus bernama Dionysus yang dianggap sebagai “anak suci” yang juga lahir dari seorang perawan. Ia dipercayai sebagai seorang “guru jalanan” yang keliling untuk menebarkan kasih dan menunjukkan mukjizat pada manusia. Ia dikisahkan mampu mengubah air menjadi anggur. Ia juga konon disalib di sebuah pohon dan dianggap sebagai sang juru selamat.

Romulus juga dianggap sebagai “anak Tuhan” yang lahir dari seorang perawan. Begitu pula dengan sosok bernama Odysseus yang kisah perjalanannya sama dengan Yesus. Sosok penting lain adalah Heracles (Heraklius) si "putra Allah" Zeus yang kisah-kisah hidupnya kurang lebih sama dengan Yesus.

Juga jangan lupa sosok Krishna juga penting untuk dicatat. Dalam Bhagavata Purana, sosok Krishna dikisahkan lahir bukan melalui kelahiran normal melainkan lewat “transmisi mental” dari pikiran Vasudeva ke dalam rahim Devaki yang dipercayai sebagai ibunda Krishna, dan karena itulah ia disebut sebagai “Putra Allah”. 

Krishna juga dipercayai sebagai “jelmaan Tuhan” di dunia yang lahir tanpa dosa, singa suku Saki (kalau Yesus “singa suku Yudah”),  penyelamat dunia, dan masih banyak lagi persamaannya.

Kalau masih kurang, silakan baca sendiri buku "The World’s Sixteen Crucified Saviors" karya Kersey Graves, atau "The Christ Conspiracy", atau "Suns of God". Bisa juga, sebagai hiburan, lihat film "Religulous" karya Bill Maher atau film dokumenter "Zeitgeist”.

Sayangnya tokoh-tokoh “manusia dewa” itu semuanya laki-laki. 

Sumanto Al Qurtuby, Antropolog Budaya di King Fahd University of Petroleum and Minerals, Arab Saudi

 

(Tim Liputan News\Reko Alum)
Share:



Berita Terkait

Komentar