Paskalis Kossay, Politisi Papua

Nasib Tapol Papua Korban Konspirasi Rasisme

Kamis, 16/01/2020 10:03 WIB
Aksi protes atas penyerbuan dan ucapan rasis terhadap mahasiswa Papua di Surabaya (Faja.co.id)

Aksi protes atas penyerbuan dan ucapan rasis terhadap mahasiswa Papua di Surabaya (Faja.co.id)

Jakarta, law-justice.co - Rasisme di Surabaya ( 15-17/8/2019 ) berdampak luas.  Menyedot perhatian luas masyarakat di dalam negeri maupun di luar negeri. Berkembang menjadi isu politik tak terkendali .

Di dalam negeri diekspresikan dengan demonstrasi massa yang berakhir dengan kerusuhan di mana-mana. Di luar negeri dengan demonstrasi massa yang diprotes terhadap perilaku rasisme di Indonesia.

Indonesia merasa dipojokan dengan kecaman masyarakat dunia. Segera dibangun konspirasi politik memulihkan kepercayaan publik dunia kepada Indonesia.

Karena itu semua aksi protes yang berujung kerusuhan dituduh didalangi oleh kepentingan politik Papua merdeka. Maka tidak lama kekudian para aktivis kemerdekaan papua ditangkap langsung ditetapkan sebagai pelaku makar.

Penangkapan para aktivis itupun tanpa melalui prosedur hukum yang benar. Hanya atas dasar praduga tetapi dipaksa ditahan dan ditetapkan status sebagai makar.

Apa kaitannya makar dengan peristiwa ujaran rasisme di Surabaya. Dalam logika sehat, sebenarnya tidak ada kaitan sama sekali.

Rasisme peristiwa mis sosial yang merendahkan harga diri kemanusian itu justru dikait-kaitkan masuk dalam rana politik.

Di sini jelas kelihatan benang merah konspirasi politik penguasa Indonesia dalam mempolitisasi kasus rasis dari dimensi sosial menjadi dimensi politik.

Memang ada tujuan politik yang ingin dicapai penguasa untuk mengkonspirasi isu rasis tersebut menjadi isu politik. Tujuannya hanya ingin mengkriminalisasi keberadaan para aktivis pejuang kemerdekaan papua dimata dunia internasional. Sebab perjuangan mereka tentang isu papua sudah semakin mendunia.

Banyak mengalir kuat dukungan dari negara-negara kawasan pasifik melakui KTT Pasific Island Forum (PIF) dan Melanesian spearhead Group (MSG) serta dukungan negara-negara Afrika, Caribia dan pasific semakin nyata.

Apa lagi pemimpin United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) Benny Wenda diberi penghargaan  Oxford Award sebagai tokoh dunia pejuang nilai kemanusiaan oleh Dewan Kota Oxford Kerajaan Inggris.

Perkembangan kemajuan diplomasi isu papua merdeka di luar negeri itu cukup merepotkan pemerIntah Indonesia. Indonesia sudah mati langkah dalam hal upaya mengcaunter kemajuan isu papua diluar negeri dengan alasan yang kuat.

Oleh karena itulah, isu rasisme dikonspirasikan sebagai isu politik, menuduh para aktivis papua merdeka sebagai aktor intelektual semua rentetan aksi kerusuhan di papua dan papua barat. Tidak lama kemudian dikejar dan ditangkap lalu langsung dikenakan status makar.

Padahal jika dilihat seccara jernih dan kontekstual, rentetan aksi massa rakyat papua sebenarnya sikap protes atas ujaran rasisme di Asrama Mahasiswa Papua Surabaya.

Tetapi masalah rasisme itu kemudian sengaja dipelintir menjadi isu politik papua merdeka lalu menuduh dan mengkriminalisasi para aktivis papua merdeka.

Sangat disayangkan begitu piciknya pola pikir para penguasa Indonesia saat ini. Ketidakmampuan lobi dan diplomasi mengcaunter isu papua di luar negeri itu akhirya memporak porandakan situasi politik dan sosial di dalam negeri.

Kerusuhan terjadi di mana mana di seluruh tanah papua. Harta benda dan nyawa rakyat kecil menjadi korban sia-sia. Kapolri dan Panglima TNI berlagak pahlawan kesiangan turun naik datang menghibur rakyat korban kerusuhan.

Banyak memberikan janji dan harapan kepada rakyat agar pemerintah akan segera membangun kembali sejumlah properti yang rusak sampai sekarang belum kunjung datang dibangun. Memang rakyat harus menjadi korban demi keselamatan negara bangsa.

 

(Tim Liputan News\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar