Kekejaman KKB OPM Eksekusi Sandera, Menari Sebelum Tembak Mati

Selasa, 10/12/2019 12:30 WIB
Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB)–Organisasi Papua Merdeka (OPM). (Foto. Wartaplus.com)

Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB)–Organisasi Papua Merdeka (OPM). (Foto. Wartaplus.com)

Jakarta, law-justice.co - Peristiwa pembantaian oleh kelompok kriminal separatis bersenjata (KKSB) di Nduga, Papua pada 2 Desember 2018 lalu menjadi sejarah buruk Indonesia.

Dilansir dari Tribunpekanbaru.com dan Kompas.com, Selasa (10/12/2019), dalam pembantaian itu, sebanyak 17 orang pegawai PT Istaka Karya dipastikan meninggal dunia, 1 anggota TNI yang gugur dan ada 4 orang masih dalam pencarian.

Ada juga 4 korban yang sempat nyaris ikut dibunuh tapi berhasil melarikan diri dan selamat darii pembantaian itu.

Kompas.com berhasil menghubungi salah satu korban yang selamat dari tragedi itu, ia adalah Jimmy Rajagukguk.

Jimmy bercerita tentang kejadian yang mereka alami pada saat pembantaian itu berlangsung.

Konflik bermula ada hari Sabtu, 1 Desember 2018 saat KKSB melakukan upacara adat bakar batu di lokasi yang tak jauh dari kamp pekerja PT Istaka Karya di Kali Yigi-Kali Aurak, Nduga, Papua.

Sore itu, para pekerja sedang menikmati istirahat sambil bermain kartu domino. Tiba-tiba, terdengar suara orang mendobrak pintu kantor dan kamp pekerja.

Ternyata di luar sudah banyak anggota KKSB yang datang membawa senjata api dan senjata tajam.

Para pekerja menolak membukakan pintu dan sempat mencoba melawan. Namun anggota KKSB terlalu banyak dan mereka mulai mendobrak pintu-pintu kamp hingga pintu kamar.

"Kami dikumpulkan dan disuruh berbaris. Mereka meminta kami membuka baju dan merampas telepon, dompet dan uang milik kami," kata Jimmy dilansir dari Kompas.com.

Saat itu sebanyak 24 pegawai PT Istaka Karya dan 1 pegawai PUPR pun menyerah karena mustahil melawan KKSB.

Setelah barang dikumpulkan, para anggota KKSB berteriak dan menanyakan pimpinan mereka yang bernama Jonny Arung.

"Kami jawab, Jonny Arung, pimpinan tidak ada di sini. Dia lagi ikut bakar batu," lanjut Jimmy.

Setelah itu para korban disuruh berbaris dan masih dalam keadaan tanpa busana.

Mereka lalu diminta mengikuti KKSB menuju Puncak Kabo dan selalu ditodong senjata api.

Korban berjalan mengikuti komando dari KKSB tanpa sepatu atau alas kaki dan kondisi telanjang tidak membawa apapun.

Perjalanan ke Punca Kabo harus melewati jalan menanjak yang penuh batu kerikil tajam. Kaki para korban terluka dan langkah mereka makin berat.

"Awalnya kami mau dibawa ke Puncak Kabo. Namun setelah 2 jam berjalan kaki, KKSB meminta kami berhenti, terus kami diikat. Katanya mau menunggu bos kami, Jonny Arung," kata Jimmy.

Saat menunggu itu, seorang pendeta dan dua anggota masyarakat mendatangi KKSB dan meminta agar semua korban dilepaskan.

"Mereka enggan melepaskan kami dan meminta pada pendeta agar bos datang dulu. Kalau bos datang, kami dilepaskan. Terus pendeta itu pergi meninggalkan kami,"

Setelah dua jam menunggu, ikatan tali di tangan mereka dilepaskan dan mereka disekap di dalam sebuah bangunan kamp di Karunggame.

Semalaman, korban disekap tanpa baju dan kondisi cuaca di daerah tersebut juga sangat dingin.

Suhu di daerah tersebut bahkan bisa mencapai 0 (nol) derajat tiap malam di daerah sana.

"Kami dibangunkan pagi hari sekitar jam 6 pagi," lanjut Jimmy.

Jimmy dan korban lain dipaksa berjalan lagi menuju Puncak Kabo.

Dalam hatinya, Jimmy terus memohon pertolongan Tuhan agar bisa selamat.

`Kurang lebih dari Karunggame menuju Puncak Kabo jaraknya dua jam perjalanan. Saat sudah sampai di Puncak Kabo, semua iikat lagi dan di lokasi itu teman-teman di eksekusi mati," tutur pria yang hingga kini mengaku masih trauma itu.

Jimmy juga menambahkan kalau sebelum dieksekusi mati, semua korban diminta mengaku sebagai anggota TNI.

Menurut Kepala Penerangan Kodam XVII/Cendrawasih, Kolonel Inf Muhammad Aidi, ada sekitar 50 anggota KKSB yang berada di lokasi pembantaian.

"Para anggota KKSB menari-nari dan meneriakkan suara hutan khas pedalaman Papua. Lalu mereka secara sadis menembaki para pekerja. Sebagian besar korban langsung mati bersimbah darah, sebagian lagi pura-pura mati terkapar di tanah," ungkap Aidi.

Jimmy pun mengakui kalau ia dan 10 rekannya pura-pura mati meski sebenarnya luput dari terjangan peluru.

Karena trik tipuan itu, ia berhasil melarikan diri. Sayangnya, 11 orang yang melarikan diri ini diketahui oleh anggota KKSB.

KKSB kembali mengejar 11 korban ini dan 5 korban ditembak mati oleh KKSB.

4 pekerja berhasil melarikan diri dan selamat hingga saat ini, termasuk Jimmy. Tapi, 2 korban lain masih belum ditemukan juga.

(Arif Muhammad Ryan\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar