Arab Saudi Hapus Aturan Pemisahan Gender di Restoran dan Kafe

Senin, 09/12/2019 20:31 WIB
Ilustrasi (Insider)

Ilustrasi (Insider)

[INTRO]

Akhirnya, setelah puluhan tahun ruang dan pintu masuk di restoran bagi perempuan dan laki-laki lajang dipisahkan, Arab Saudi menghapus peraturan gender tersebut. 

Keputusan itu, yang pada dasarnya mengakhiri aturan pemisahan gender di tempat umum, diam-diam diumumkan hari Minggu (8/12) dalam pernyataan yang panjang dan disampaikan secara teknis oleh Kementerian Urusan Kota dan Pedesaan.

Walaupun sebagian restoran dan kafe di kota pesisir Jeddah dan hotel-hotel kelas atas di Riyadh telah membolehkan laki-laki dan perempuan, yang tidak ada hubungan darah, duduk dengan bebas, langkah tersebut mengodifikasi apa yang selama ini menjadi isu sensitif di kalangan orang-orang Arab Saudi. Negara tersebut selama ini memandang pemisahan gender sebagai persyaratan agama.

Namun, negara-negara Muslim tetangga Arab Saudi tidak menerapkan peraturan yang sama.

Di seluruh Arab Saudi, norma yang berlaku adalah laki-laki dan perempuan, yang bukan muhrim, tidak boleh berbaur di tempat umum. Sekolah-sekolah negeri dan sebagian besar universitas negeri masih memberlakukan pemisahan itu, begitu pula acara pesta pernikahan.

Restoran dan kafe di Arab Saudi, termasuk waralaba besar dari Barat seperti Starbucks, saat ini menerapkan pemisahan dengan menyediakan ruang khusus “keluarga” bagi perempuan yang bepergian sendiri atau disertai saudara laki-laki, dan ruang khusus “lajang`` bagi laki-laki.

Banyak juga restoran dan kafe yang menyediakan pintu masuk dan ruang terpisah untuk perempuan dan laki-laki, atau ruang untuk keluarga di mana perempuan tidak terlihat oleh laki-laki lajang. Di restoran atau kafe yang lebih kecil dan tidak mempunyai cukup ruang untuk pemisahan, perempuan dilarang masuk.

Namun, dalam beberapa tahun ini Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman telah mendesakkan reformasi sosial, sehingga kini perempuan dan laki-laki bisa menghadiri konser dan menonton di bioskop. Padahal dua hal tersebut dulunya dilarang. Ia juga membatasi kewenangan polisi agama di negara itu, yang selama ini menjadi penegak norma sosial konservatif, seperti pemisahan gender di tempat umum.

Dua tahun lalu, perempuan untuk pertama kalinya dibolehkan menyaksikan acara olahraga di stadion di bagian yang disebut sebagai `keluarga`. Perempuan-perempuan muda dalam beberapa tahun ini juga telah diizinkan mengikuti pendidikan jasmani dan olahraga di sekolah, hak yang hanya dimiliki anak laki-laki.

Agustus lalu, kerajaan Arab Saudi mencabut larangan perjalanan yang kontroversial dengan mengizinkan semua warga negara laki-laki maupun perempuan- mempunyai paspor dan bepergian dengan bebas. Hal tersebut mengakhiri kebijakan lama perwalian yang selama ini mengekang kebebasan bergerak perempuan.

Sumber: VOA Indonesia

(Liesl Sutrisno\Editor)
Share:


Berita Terkait

Komentar