Kajitow Elkayeni:

Menteri Tak Bermutu Dalam Kabinet Indonesia Maju

Senin, 09/12/2019 00:01 WIB
Ilustrasi (Tribun)

Ilustrasi (Tribun)

law-justice.co - Ketika Jokowi memilih salah satu relawan Bravo5 bernama Fachrul Razi jadi menteri, saya sudah menduga, ini adalah politik balas budi. 

Sebenarnya tidak hanya Fachrul Razi. Menteri-menteri lain juga titipan. Termasuk yang sekarang sedang jadi buar bibir. Dianggap berprestasi, padahal itu hanya gimmick. Sudah jelas dia orangnya siapa.

Anehnya, mereka ini sebenarnya juga tak berkeringat. Orang-orang yang menyalip di tikungan terakhir. Ironisnya, beberapa orang yang sudah berdarah-darah malah disingkirkan.

Saya tidak tahu, siapa yang membisiki Jokowi, sehingga orang-orang yang telah merogoh kocek dalam-dalam untuk memenangkan pilpres kemarin, malah ditendang. Orang-orang ini hanya dianggap debu yang menempel di sepatunya.

Tetapi begitulah drama politik. Jokowi bahkan menjadi pribadi yang sangat berbeda. Ia telah kehilangan dirinya. Sekadar ucapan rasa terima kasih saja tidak ada. Apalagi ntraktir cilok lima ribu rupiah. Tidak sama sekali.

Jokowi sibuk merangkul kekuatan oligarki. Sehingga memberikan jatah yang begitu besar untuk orang-orang mereka di lingkaran kekuasaannya. Sementara mereka yang sebelumnya begitu dekat dan memang berjasa, benar-benar dilupakan begitu saja.

Saya sebenarnya ingin menyebut beberapa nama, tapi ya sudahlah. Kasihan mereka nanti malah sakit hati. Habis manis, sepah dibuang pula. Jokowi lebih senang bermesra-mesra dengan pemimpin Parpol. Mungkin demi masa depan trah politiknya yang masih panjang.

Itu artinya, politik balas budi yang dilakukannya tidak menyeluruh. Yang diakomodir hanya kekuatan-kekuatan besar. Kalaupun memilih relawan, hanya relawan bentukan parpol yang diberi jabatan. Mereka yang mempengaruhi perjalanan politik trahnya saja.

Ini sebenarnya hal yang tabu untuk dibicarakan di sini. Tetapi ini adalah pil pahit, agar Jokowi segera sadar dari "guna-guna politik" yang sedang menjerumuskannya.

Salah satu menteri yang jelas tak bemutu hari ini adalah Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi. Ia yang dianggap berjasa dari relawan Bravo5. Ketika orang ini ditunjuk, semesta raya bersuka cita. Mereka mengelu-elukan namanya.

Saya hanya tersenyum kecut melihat kebodohan semacam itu. Maklum negara "berflower" ini senang dengan hal remeh dari sebuah pencitraan. Menteri-menteri yang suka drama diberi panggung luas. Padahal mereka sebenarnya tak bisa bekerja.

Sebagai langkah pembuka adalah memberikan rekomendasi perpanjangan SKT FPI. Menteri ini mungkin sebelumnya tinggal di dalam goa. Sehingga ia tidak tahu jerih-payah orang-orang sebelumnya.

Padahal dalam periode sebelumnya, kementerian terkait sepakat izin FPI tidak akan diperpanjang lagi. Alasannya banyak. Dan segenap rakyat mendukungnya. Kesepakatan itu tinggal ketok palu.

Ketika berganti organ pemerintahan. Tiba-tiba muncul badut politik dan membuat gerakan mengejutkan. Dia memberikan rekomendasi perpajangan izin FPI. Lalu dia berlepas tangan dan membebankan pada menteri dalam negeri. 

Gara-gara muslihat itu, bola panas ada di tangan Tito. Fachrul Razi cuci tangan dan tertawa lebar. Namanya tetap harum di kalangan ormas anarkis. Sementara ia bisa berkelit, bahwa keputusan sekarang ada di tangan Mendagri.

Kedunguan kedua adalah, mengembalikan sertifikasi halal pada MUI. Fachrul ini benar-benar tidak paham peta radikalisme Indonesia. MUI itu sarang dari ormas-ormas gurem tak jelas. Porsi mereka sama besarnya dengan NU atau Muhamadiyah.

Oleh sebab itu, orang seperti Tengku Zulkarnain bisa eksis dan mencemari udara media sosial kita. Itu dilakukan dengan mengatasnamakan agama. Seolah-olah Islam di negeri ini sudah kehabisan tokoh agama yang bisa berpikir jernih.

Periode sebelumnya, pemerintah telah berusaha mengembalikan hak kelola dana publik kepada negara. Melalui seritifikasi halal yang dikelola Kemenag. Ormas semacam MUI tidak boleh menggagahi kewenangan ini.

Tetapi Fachrul ini tiba-tiba banting setir. Ia ingin merogoh hati MUI dan memberikan piring emas itu kepada mereka lagi. Fachrul menjadi pembuka pintu dari barisan menteri-menteri Jokowi yang tidak bermutu. Sebenarnya ada beberapa nama lagi. Tapi kita tunggu parade ketololan mereka lebih dulu.

Kemarin yang bangga dengan slogan memerangi radikalisme keluar dari bibirnya, silakan jungkir balik sana. Boro-boro ingin memberantas radikalisme, memupuknya supaya subur malah iya. Dedengkot persoalan keagamaan di Indonesia seperti MUI dan FPI malah dirangkulnya. Memerangi radikalisme kepalamu?

Ada yang berkata, Januari tahun depan adalah bulan "baper" nasional. Kenapa begitu, karena menteri-menteri tak becus di kabinet Jokowi akan membuat pendukungnya sakit hati. Tapi saya pikir, omongan itu keliru. Karena tak perlu menunggu Januari, Desember ini saja satu-persatu menteri-menteri Jokowi mulai kelihatan ketidak-becusan mereka.

Politik balas budi memang tidak dibenarkan etika. Meskipun sebenarnya dimaklumi dalam sebuah perjuangan politik. Sayangnya, politik balas budi yang kita lihat ini salah pilih figur. Akhirnya runyam. Padahal ada banyak tokoh yang lebih berhak dan memang pantas menerimanya.

Akibat salah pilih itu, kebijakan pemerintahan jadi kalang kabut. Jokowi terlihat kepayahan mengendalikan pembantunya sendiri. Bahkan seolah tak berani menegur, apalagi menggantinya.

Menteri agama contohnya, sudah tak begitu paham agama, ternyata mentalnya "cemen" pula. Berhadapan dengan MUI dan FPI saja pipis di celana. Negara kalah melawan ormas keagamaan.

Negara macam apa ini? Indonesia, Indonesia...

Kajitow Elkayeni adalah seorang blogger

(Tim Liputan News\Reko Alum)

Share:




Berita Terkait

Komentar