Luhut Yakin Rupiah Bisa Tembus Rp 10.000/US$, Bagaimana Caranya?

Rabu, 04/12/2019 13:15 WIB
Luhut Binsar Pandjaitan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman (ist)

Luhut Binsar Pandjaitan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman (ist)

law-justice.co - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan meyakini kurs rupiah atas dolar Amerika Serikat (AS) bisa balik ke Rp 10.000/US$ dari posisi saat ini sekitar Rp 14.000. Caranya, pemerintah terus mendorong ekspor dan menekan impor.

Mengacu data Bank Indonesia, Rabu pagi ini (4/12/2019), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih melemah di perdagangan pasar spot. Dolar AS sudah nyaman di kisaran Rp 14.100. Rabu ini pukul 09:00 WIB, US$ 1 dibanderol Rp 14.125. Rupiah melemah 0,18% dibandingkan posisi penutupan perdagangan Selasa kemarin.

Selain ketergantungan impor energi, Luhut menyebut bahwa nilai tukar rupiah bisa menguat, sampai di bawah Rp 10.000. Syaratnya, pengurangan impor termasuk impor minyak bisa jauh ditekan dan ekspor bisa terus meningkat.

"Dalam dua tahun ke depan lah, kalau ini [tekan impor, genjot ekspor] sesuai rencana ya jalan," katanya di kantornya, usai menggelar rapat koordinasi terkait strategi industrialisasi untuk mengatasi defisit transaksi berjalan seperti dikutip dari CNBC Indonesia, Selasa (3/12/2019).

Pensiunan jenderal ini meyakini Indonesia bisa menghilangkan ketergantungan terhadap minyak impor.

Apalagi proyek B20 yang sudah dilakukan dinilai berhasil menghemat 25% dari total impor minyak untuk solar yang mencapai Rp 300 triliun. Pun dengan B30 yang juga berhasil mengurangi impor energi sebanyak 35%.

Kini, Luhut sedang melihat penghematan dari sumber lain untuk mengurangi besarnya angka impor minyak.

"Kami lagi hitung berapa persen tadi B.50–B.100, apa iya kita enggak perlu lagi impor energi," kata Luhut.

Demi mendukung target tersebut, katanya, pemerintah mempercepat hilirisasi. Misalnya komoditas nikel yang bisa memberikan nilai tambah.

"Saya jelaskan mengenai program pemerintah soal hilirisasi. Itu penting untuk mempengaruhi CAD [current account deficit, defisit transaksi berjalan] kita. ekspor kita kan nilai tambah, contoh nikel ore kan bagus," ujar Luhut.

(Gumilang Hidayat\Editor)
Share:


Berita Terkait

Komentar