Umat Kristiani di Irak Tak Rayakan Natal Demi Hormati Korban Demo

Rabu, 04/12/2019 11:30 WIB
Ilustrasi Perayaan Natal (Pegi-Pegi)

Ilustrasi Perayaan Natal (Pegi-Pegi)

law-justice.co - Kepala Gereja Katolik Irak mengumumkan masyarakat tidak akan mengadakan perayaan Natal demi menghormati orang-orang yang terbunuh dan terluka dalam protes anti-pemerintah baru-baru ini.

Demonstrasi massa yang mengguncang ibu kota Irak dan wilayah lain dipenuhi dengan kekerasan oleh pasukan keamanan dan kelompok-kelompok bersenjata. Unjuk rasa itu menewaskan hampir 430 orang dan 20.000 lainnya terluka.

Protes terkonsentrasi di daerah mayoritas Muslim Syiah, tetapi pada Selasa (3/12/2019), sebagian besar komunitas Kristiani Irak menyatakan akan ambil bagian dalam tindakan solidaritas.

"Tidak akan ada pohon Natal yang dihiasi di gereja-gereja atau jalan-jalan, tidak ada perayaan dan tidak ada resepsi di kediaman pihak gereja," demikian pengumuman Kepala Komunitas Katolik Irak, Louis Raphael Sako, seperti dilaporkan AFP, Rabu (4/12/2019).

Minoritas Kristen Irak telah dilanda perang bertahun-tahun, dan hanya sepertiga yang tersisa dari 1,5 juta orang Kristen yang tinggal di negara itu sebelum 2003.

Kebanyakan dari mereka menetap di Baghdad atau provinsi utara, Nineveh.

"Keputusan ini untuk menghormati orang yang meninggal dan terluka di antara demonstran dan pasukan keamanan, dan dalam solidaritas dengan penderitaan keluarga mereka."

Ketika demonstrasi memasuki bulan ketiga, komunitas non-Syiah lainnya di Irak juga menyatakan solidaritas.

Mosul yang mayoritas Sunni mengadakan parade peringatan bagi mereka yang terluka, dan Provinsi Salahaddin mengumumkan tiga hari berkabung bagi mereka yang terbunuh.

Ratusan siswa juga berbaris dalam acara parade multi-etnis di Kirkuk.

(Gumilang Hidayat\Editor)
Share:


Berita Terkait

Komentar