Sumanto Al Qurtuby:

Berlomba Bangun Rumah Ibadah, Bisa Buat Tuhan Bahagia?

Sabtu, 16/11/2019 00:01 WIB
Ilustrasi (Superstock)

Ilustrasi (Superstock)

law-justice.co - Tiba-tiba saya teringat sebuah buku yang ditulis oleh Leszek Kalakowski, salah satu filsuf dan pemikir humanis berpengaruh di abad ke-20, yang berjudul “Is God Happy?”. Di dunia modern dewasa ini, masyarakat agama semakin kreatif dalam melakukan berbagai aktivitas ritual-ibadah untuk “membahagiakan” Tuhan.

Dalam rangka membahagiakan Tuhan ini, ada yang berlomba-lomba membangun tempat ibadah dari yang sederhana sampai yang super-megah. Dari kampung-kampung sampai kota-kota metropolitan, mereka hiruk-pikuk “semangat ’45” membangun tempat-tempat ibadah: masjid, gereja, kuil, dll. Meskipun sudah banyak tempat ibadah di sekitarnya, mereka tidak peduli: pokoknya bikin lagi dan bikin lagi sampai banyak, sampai setiap sekte dan kelompok agama mempunyai tempat ibadah masing-masing.

Karena itu, masjid atau gereja saat ini memiliki “jenis kelamin” sendiri-sendiri. Ada masjid Muhammadiyah, masjid NU, masjid Ahmadiyah, masjid Syiah, masjid LDII, masjid PKS, masjid Wahabi dan seterusnya. Gereja lebih banyak lagi “jenis kelaminnya”. Ada gereja Katolik, gereja Mormon, gereja Mennonite, gereja Kristen ini dan itu, gereja Pantekostal. Sila dhitung sendiri.

Di kampungku yang kecil mungil saja ada lima masjid dan mushola. Padahal “penghuninya” sedikit. Orangnya itu-itu doang. Meskipun jarang ke masjid, kalau diminta gotong-royong membangun masjid atau langgar, orang-orang kampung semangatnya minta ampun. Arab Saudi juga semangat sekali kalau membangun masjid. Di kampusku ini saja ada berpuluh-puluh masjid, dan hampir setiap gedung mempunyai “mushola”. Mereka rela mengeluarkan banyak uang demi membangun “rumah Tuhan”.

Bagi yang modalnya cekak, mereka rela “ngamen” di jalan-jalan raya meminta sumbangan dari para pengemudi mobil dan motor yang lewat. Atau meminta sumbangan “door to door” dari rumah ke rumah. Untuk apa semua itu? Ya, untuk “membahagiakan” Tuhan tadi. Kadang-kadang saya berpikir, kasihan sekali Tuhan untuk membangun rumah-Nya saja, harus meminta-minta kesana-kemari.

Ada lagi cara umat beragama untuk membuat Tuhan “bahagia”, yaitu dengan membersihkan agama dari hal-ihwal yang berbau lokal sehingga diharapkan agama tadi bisa menjadi murni, asli, tidak terkotori dengan aneka inovasi tradisi, kebudayaan, dan nilai-nilai spiritualitas lokal.

Dalam rangka upaya “pemutihan” agama ini, mereka sering kali bukan hanya dengan perkataan saja melainkan juga dengan perbuatan anarkis atau tindakan kekerasan: orang atau kelompok yang dianggap “menyimpang” dalam mempraktekkan ajaran agama langsung dimaki, dilibas, digasak, dan dihancurkan. Mereka tidak peduli dengan tangisan dan penderitaan umat agama dan sekte lain, pokoknya yang penting Tuhan “bahagia”.

Pertanyaannya adalah apakah dengan berlomba-lomba membangun tempat ibadah (atau “rumah Tuhan”) dan berlomba-lomba melakukan kekerasan terhadap umat, agama, dan sekte lain itu bisa membuat Tuhan “bahagia”? Mari kita renungkan bersama…

Sumanto Al Qurtuby, Antropolog Budaya di King Fahd University of Petroleum and Minerals, Arab Saudi

Sumber: Sumantoalqurtuby.com

(Tim Liputan News\Reko Alum)
Share:


Berita Terkait

Komentar