Sering Beri Diskon, Ovo Bakal Ditinggal Lippo Grup?

Jum'at, 15/11/2019 12:20 WIB
Ovo. (Foto: Grid.id/Facebook Ovo)

Ovo. (Foto: Grid.id/Facebook Ovo)

Jakarta, law-justice.co - Ovo dikabarkan bakal ditinggal oleh salah satu investor utamanya yaitu Lippo Group. Lippo Group disebut tak kuat memasok dana untuk mendukung aksi bakar uang dengan layanan gratis, diskon dan cashback. Apakah benar?

"Lippo Group berencana cabut dari OVO. Tiap bulan OVO menghabiskan US$50 juta (Rp 700 miliar)," ujar sumber tersebut seperti dilansir dari CNBCIndonesia.com, Jumat (15/11/2019).

OVO adalah dompet digital miliki PT Visionet International. Lippo Group merupakan pemegang saham utama perusahaan. OVO awalnya merupakan aplikasi untuk mengelola reward point belanja di jaringan ritel milik Lippo Group.

Pada 2017, OVO mendapatkan lisensi uang elektronik (e-wallet) dan aktif menggelar promosi diskon dan cash back untuk menjaring pengguna. Bahkan OVO kini disebut sebagai penantang serius GoPay di pasar uang elektronik.

Namun isu hengkangnya Lippo Group dibantah langsung oleh John Riady, putra James Riady CEO Lippo Group, yang kini menduduki posisi sebagai CEO Lippo Karawaci.

"Tidak benar" ujarnya singkat kepada CNBC Indonesia.

Informasi ini juga dibantah oleh CEO OVO Karaniya Dharmasaputra. Menurutnya, pada awalnya, OVO didirikan, dirintis, dan dikembangkan oleh Lippo Group. Saat ini pemegang saham OVO sudah sangat beragam.

Seiring pertumbuhan OVO yang sangat pesat hanya dalam waktu dua tahun ini. OVO saat ini merupakan perusahaan iindependen yang dikelola oleh manajemen profesional.

"Soal rumor itu, saya malah beberapa waktu lalu baru saja ketemu dan ngobrol panjang dengan Pak John Riady, soal pengembangan OVO ke depan. Kepada saya, Beliau banyak memberikan masukan dan selama ini sangat suportif terhadap berbagai upaya pengembangan bisnis OVO," ujarnya.

Karaniya menambahkan ia tidak bisa memaparkan soal biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk dana promosi dan operasional.

"Tapi mohon dicatat bahwa OVO punya roadmap yang jelas untuk menuju profitabilitas, sebagai sebuah entitas bisnis yang sustainable. Kami baru berusia dua tahun, dan sedang dalam tahap edukasi dan pengembangan pangsa pasar," jelas Karaniya.

"Ini penting, karena e-money masih berada di level infancy di Indonesia pada saat ini, dan akan terus berkembang dengan teramat pesat dalam 1-2 tahun ke depan," jelasnya.

 

 

(Arif Muhammad Ryan\Editor)
Share:


Berita Terkait

Komentar