Ridwan al-Makassary:

Daya Tarik Khilafah HTI untuk Kaum Milenial

Rabu, 13/11/2019 00:01 WIB
Ilustrasi (Joglosemarnews)

Ilustrasi (Joglosemarnews)

law-justice.co - Sebanyak 19,5% kaum milenial, menyatakan Indonesia lebih ideal menjadi negara khilafah. Hal ini terungkap dari hasil survey IDN Research Institute 2019 di bagian Keagamaan, Nilai dan Tradisi ini. Data tersebut bisa diunduh pada laman lembaga riset tersebut.

Bagaimana kita memahami temuan itu, di mana generasi milenial dengan rentang usia 20-35, berpandangan bahwa sistem khilafah di tanah air lebih terpercaya untuk diterapkan buat Indonesia yang lebih baik.

Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang hadir di Indonesia sejak tahun 1980-an, sebagai satu gerakan bawah tanah pada masa Suharto, telah mengalami perkembangan yang cukup signifikan pada era Reformasi hingga dilarang beoperasi pada 2017 di era Presiden Joko Widodo.

Sebagai satu organisasi Islam revivalis yang bersifat secretive (rahasia), maka para pimpinan dan personil HTI tidak mudah diidentifikasi. Bermula dari kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Gadjah Mada (UGM), HTI menyebar ke seluruh Indonesia, dari Sabang hingga Merauke. Sudah cukup banyak buku, artikel dan berita yang membahas tentang kiprah HTI di tanah air.

Namun, tulisan yang mengupas apa yang mendorong ketertarikan generasi milenial pada khilafah, relatif terbatas. Karenanya, tulisan ini akan memfokuskan perhatian pada bagaimana HTI bisa bertahan dan dianut para kaum milenial. Akan dijelaskan singkat apa itu generasi milenial dan mengapa HTI bisa sukses menggoda hati kaum milenial yang akhirnya terpukau dengan khilafah HTI?  

Kaum milenial, termasuk muslim, merupakan generasi yang lahir antara tahun 1980an dan 2000an. Mereka berbeda dengan generasi sebelumnya, yang lekat dengan teknologi digital pada usia senjanya.

Sementara generasi “milennial” sejak dini telah terkoneksi dengan informasi, jaringan sosial online, dan orang dan tempat di penjuru dunia melalui pertumbuhan teknologi digital sebagai bagian yang inheren dalam tumbuh-kembang mereka sebagai manusia (Bauman, dkk, 2014).

Keberhasilan HTI menggaet kaum milenial dari kampus dan masjid pada umumnya karena menggunakan satu pendekatan dalam merekrut anggota, yang disebut pendekatan interpersonal. Pendekatan ini menyerupai strategi rekrutmen yang digunakan oleh sekte-sekte keagamaan di Barat pada 1960-an, yang menggunakan "jejaring sosial dan ikatan interpersonal yang ada".

Lorne L. Dawson menyatakan bahwa mode yang digunakan adalah "teman merekrut teman, anggota keluarga merekrut anggota keluarga lain, dan tetangga merekrut tetangga". Demikian pula, John Lofland dan Rodney Stark ketika memeriksa pengikut Sun Myung Moon (the Moonies) menemukan bahwa konversi ke sekte Kristen ini sangat ditentukan oleh ikatan afektif antara aktivis sekte dan calon anggota.

Sejumlah informan riset saya menyatakan bahwa mereka yang berpartisipasi dalam kegiatan HTI diundang dan didorong oleh keluarga, orang tua, sahabat, dan teman mereka. Pada pandangan pertama, beberapa dari mereka tidak mengetahui kegiatan HTI, dan motivasi awal mereka hanya untuk menambah pengetahuan agama. Setelah menghadiri sejumlah pertemuan, biasanya mereka yang tertarik dan akhirnya menjadi anggota dan ada yang lain setelah bergabung keluar dari HTI.

Seorang informan (yang dirahasiakan namanya) menjelaskan pola pendekatan HTI dalam menemukan kader sebagai berikut. Pertama, aktivis HTI mengundang siswa potensial untuk berpartisipasi dalam kegiatan HTI, di mana mereka akan diberi pandangan bahwa suatu negara harus berpegang pada hukum Islam. Dalam nada yang sama, informan lain menyatakan, para aktivis HTI secara konsisten mengundang beberapa pemimpin agama atau kelompok untuk bergabung dengan halaqoh (kelompok belajar).

Bagi orang-orang yang tertarik pada HT, diadakan pelatihan khusus dan para siswa ini disebut sebagai bagian dari halaqah ‘amm (peserta halaqah umum). Setelah beberapa bulan atau menurut pengamatan musyrif, status mereka akan dinaikkan sebagai darisin (peserta halaqah intensif). Selanjutnya, mereka yang berasal dari periode pelatihan dalam periode tertentu (biasanya sekitar tiga tahun) dianggap layak, baik dari thaqafah HT untuk menjadi anggota penuh.

Keberhasilan HT sangat terkait dengan kapasitasnya untuk bertindak sebagai struktur yang membangun dan menyampaikan budaya artefak yang tepat dengan makna bersama. Sejalan dengan asumsi Vygotsky tentang proses pembelajaran (1978, 1986), anggota HT (dan daris, anggotanya) terus menerus terpapar dengan budaya, nilai, dan kepercayaan organisasi setelah mereka mulai berinteraksi dengan sel-sel lokal di daerah masing-masing.

Proses pembelajaran sebagian besar terjadi dalam halaqoh di mana peserta diajar oleh seorang guru (Mushrif) pada prinsip-prinsip ideologis utama organisasi dan pada literatur yang diadopsi dari Hizbut Tahrir. Pengetahuan yang diinternalisasi memperoleh interpretasi baru berdasarkan nilai dan pengalaman pribadi pendengar itu sendiri.

Oleh karena itu, dalam HT, individu berinteraksi satu sama lain dalam konteks sosial tertentu (organisasi), menegosiasikan makna, membandingkan pemahaman mereka, dan akhirnya menyesuaikan keyakinan mereka sebelumnya dengan yang disponsori HT. Pada saat yang sama, organisasi memiliki peran “memotivasidan mendukung proses kreatif, menjaga lingkungan yang sesuai untuk inovasi.

Peran HT sebagai suatu struktur bersifat ganda: begitu individu (agen) telah menginternalisasi seperangkat keyakinan, nilai, dan kode perilaku yang disponsori HT, mereka secara efektif menjadi bagian dari organisasi. Agen menjadi kontributor utama bagi kehidupan organisasi itu sendiri dengan menyampaikan prinsip dan aturan ideologis HT kepada orang lain, dengan menyesuaikan kegiatan HT dengan konteks lokal dan dengan melakukan tugas-tugas khusus yang bertujuan untuk kelangsungan hidup organisasi dari waktu ke waktu, seperti HT- dakwah, seminar, konferensi, dan protes khusus.

Selain berperan sebagai struktur terhadap anggotanya, HT memainkan fungsi sebagai agen dalam kaitannya dengan sistem nasional, menantang pemerintah Barat dalam hal legitimasi, akuntabilitas, dan supremasi hukum. Sebagai agen, HT sangat menolak “ideologi kapitalis” (An-Nabhani, 2002) dan tatanan dunia berasal darinya.

Sejak awal berdirinya (pada tahun 1953), HT telah menjalankan peran sebagai agen kolektif yang dengan keras menentang ekspansi Barat di negara-negara mayoritas muslim sebagai struktur dominan baru. Faktanya, dalam pandangan HT, menurut An-Nabhani, Barat adalah struktur yang menindas yang bertujuan memusnahkan muslim di seluruh dunia melalui bingkai dan model budaya tertentu.

Sebagai kesimpulan, pengalaman dan observasi saya di kota Jayapura dan di Perth menunjukkan bahwa terdapat para aktivis HTI yang militan, yang bekerja menyasar kelompok milenial terutama yang ghirahberagama tinggi dan berasal dari sekolah umum dengan tingkat pengetahuan agama rendah.

Mereka mengajarkan idelogi HTI yang penuh tipu daya kepada mereka yang rentan terpapar. Ideologi HTI indah didengar tapi utopis. Cara melemahkan HTI adalah mendorong dan menanamkan pemahaman Islam yang moderat, dan juga dengan tidak memberikan celah bagi para aktivis HTI untuk menyiarkan ajaran HTI dengan pendekatan personal, terutama di kampus dan masjid. Pelarangan dan pembungkaman tidak akan mematikan ideologi HTI, bahkan bisa semakin membesar.

Ridwan al-Makassary adalah seorang peacebuilder, Co-Founder Lembaga Perdamaian Indonesia (LPI) dan peneliti pada Centre for Muslim States and Societies (CMSS UUWA), yang sedang menulis Islam Transnasional dan Perdamaian di Papua, khususnya studi HTI dan Salafy-Wahhaby.

 

(Tim Liputan News\Reko Alum)
Share:


Berita Terkait

Komentar