Yane Ansanay, Perempuan Papua Pertama Peraih Doktor Fisika

Selasa, 22/10/2019 22:35 WIB
Yane Ansanay (ABC Indonesia/Detik)

Yane Ansanay (ABC Indonesia/Detik)

- “Saya bermimpi, akan ada lebih banyak lagi perempuan Papua yang mampu bersaing di kancah nasional dan internasional,” kata Yane Oktovina Ansanay.

Yane, 33 tahun, adalah perempuan pertama asal Papua yang berhasil meraih gelar doktor fisika. Ia mulai tertarik pada ilmu fisika saat duduk di bangku sekolah menengah pertama. Di matanya, fisika adalah ilmu yang menarik karena bisa menjelaskan banyak hal yang ada di alam, atau soal sederhana yang ada di sekitar manusia.  "Misal kita lihat awan bergerak, itu kan karena angin dan itu bisa dijelaskan dengan teori fisika," katanya.

Jalan untuk menempuh jenjang pendidikan tinggi bagi gadis Papua ini, mungkin akan berbeda, jika ia tidak bertemu dengan Profesor Yohanes Surya. Pada 2003, Surya Institute yang dipimpin oleh  Profesor Yohanes membuat program pencarian anak jenius. Program itu dikhususkan untuk anak-anak yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata.

Yane pun ikut mendaftar, dan berhasil lolos seleksi untuk mengikuti pelajaran yang diberikan langsung oleh Profesor Yohanes. Targetnya, anak-anak yang masuk dalam program tersebut bisa mengikuti ajang Olimpiade Fisika Internasional.

"Tahun 2003-2004 setelah kelas satu SMA, saya lolos ikut sekolah dengan Profesor Johanes Surya di Tangerang. Muridnya semua anak-anak pintar dari berbagai daerah, dari 14 orang, saya perempuan satu-satunya dan dari Papua," kisah Yane.

Selepas sekolah menengah umum, Yane melanjutkan pendidikan S1 di Universitas Pelita Harapan. Ia kemudian mengambil S2 di Universitas North Caroline State University di Amerika Serikat. Tidak puas sampai di situ, Yane masih bercita-cita untuk melanjutkan ke S3. Ia lalu mendaftar beasiswa Graduates Research Assistant PhD Candidate, masih di universitas yang sama, North Caroline.

Saat itu, Yane harus bersaing ketat dengan peserta dari Jepang, Amerika dan Eropa, agar bisa mendapatkan peluang itu. Berkat kegigihannya, Yane berhasil mendapatkan beasiswa tersebut, dan lulus pada 2015.

Bertahun-tahun menimba ilmu di luar negeri, justru membuat Yane selalu teringat pada tanah kelahirannya. Ia sadar, kondisi Papua terutama dari segi infrastruktur, masih banyak tertinggal dari pulau-pulau lain di Indonesia. Situasi inilah yang membuatnya bertekad untuk pulang dan memajukan Papua, dimulai dari menerapkan ilmu yang dimilikinya.

Menurut Yane, ilmu fisika bio material dengan spesifikasi energi baru dan terbarukan sangat diperlukan di Papua. Hingga saat ini, minyak tanah masih menjadi sumber energi bagi masyarakat Papua.

"Seminggu sekali atau dua minggu sekali mobil Pertamina masuk untuk mengantar minyak tanah dan orang-orang akan berjejer 10-20 meter mengantri minyak tanah. Itu pemandangan umum tidak cuma di pedalaman tapi juga di kota Jayapura," ujar Yane.

Masyarakat Papua, lanjut Yane, membutuhkan sumber energi alternatif untuk menggantikan minyak tanah, selain listrik yang juga sudah ada, meski pun masih terbatas.

"Di Papua belum semua desa atau kampung mendapat aliran listrik. Walau ada program pemerataan listrik dari pemerintah tapi pada praktiknya mengalami kendala, karena topografi Papua yang memang sulit berbukit-bukit atau pegunungan. Jadi harus ada pendekatan lain yang lebih sesuai dengan alam Papua untuk penuhi kebutuhan energi," jelasnya.

Yane mengatakan, pemanfaatan energi baru dan terbarukan sudah sangat mendesak untuk dilakukan di Papua. Apalagi menurutnya, tanah Papua penuh dengan kekayaan alam yang bisa dikonversi menjadi energi terbarukan

"Hal yang sederhana bisa dimulai dari limbah buah-buahan dari pasar. Kalau ada buah yang tidak dikonsumsi atau sisa, ini bisa dimanfaatkan untuk bioethanol. Bioethanol jika proses pembuatannya sempurna, bisa dijadikan pengganti bensin. Tapi kalau hanya melalui proses yang sederhana yang bisa dibuat di rumah-rumah, bisa dijadikan pengganti minyak tanah," ujarnya.

Namun, Yane mengaku mimpinya untuk menghadirkan sumber energi alternatif melalui bio ethanol masih perlu proses panjang agar bisa terealisasi. Meski pun begitu, ia tidak mau menunda-nunda. Langkah awal sudah dimulainya  dengan mengabdikan diri sebagai dosen Teknik Geosfisika di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) di Universitas Cendrawasih, Papua.

"Di Uncen kami punya tim energi baru dan terbarukan, kita tengah meneliti potensi mikro algae untuk pengganti solar, itu endemik di setiap tempat di dunia. Tapi sejauh ini saya tertarik untuk mengembangkan bio etanol untuk mengurangi sampah. Saya berharap sekarang setelah menjadi dosen penuh di kampus, ide energi bioethanol ini bisa dikembangkan,” katanya.

Kepedulian Yane pada tanah kelahirannya, ternyata bukan hanya soal energi terbarukan. Ia juga memiliki perhatian yang lebih pada anak-anak muda berprestasi yang ada di Papua. Yane kemudian mendirikan Yayasan Gerakan Papua Muda, untuk mewadahi sumber daya manusia unggulan dari berbagai disiplin ilmu dan pengetahuan. Anggotanya adalah putra-putri asli dari tanah Papua.

Semua yang dilakukan Yane itu akhirnya mendapat perhatian dari pemerintah. Ia dipercaya untuk memimpin rencana pendirian laboratorium sains teknologi terpadu di Papua.

"Saya dipercaya Pak Jokowi untuk membangun laboratorium terpadu bersertifikasi. Nantinya ini akan menjadi lab gabungan fisika, kimia, biologi dan IT untuk menghasilkan berbagai penelitian untuk menghasilkan produk industri dari sumber daya alam yang ada di Papua dan dikelola oleh orang Papua," jelasnya.

Jika laboratorium terpadu itu terealisasi, Yane yakin akan mampu menjawab tantangan yang selama ini dihadapi kalangan akademisi dan ilmuwan di Papua dalam melakukan penelitian sains dan teknologi. (ABC Indonesia/Kabar Papua/Detik)

 

(Reko Alum\Reko Alum)
Share:


Berita Terkait

Komentar