Polisi Tuding Pelaku Kerusuhan di Wamena Bukan Penduduk Asli

Senin, 30/09/2019 13:47 WIB
Aksi rusuh di Papua (asia.nikkei.com)

Aksi rusuh di Papua (asia.nikkei.com)

Jakarta, law-justice.co - Polisi menduga pelaku pembakaran hingga menyebabkan puluhan korban meninggal dunia yang terjadi di Wamena, Papua tidak dilakukan oleh penduduk asli.

Penduduk Lembah Baliem, penduduk asli Wamena, justru banyak membantu memberi perlindungan kepada para pendatang dengan mengamankan di rumah warga maupun gereja.

"Pelaku mencari korban tidak ditujukan ke etnis tertentu, tapi membabi buta," kata Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Irjen Pol Muhammad Iqbal dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (29/9/2019).

Melansir dari iNews.id, ia mengatakan, saat ini TNI-Polri telah melakukan evakuasi warga pendatang menggunakan berbagai moda transportasi termasuk pesawat Hercules ke beberapa kota di Papua, antara lain ke Jayapura.

"TNI-Polri menjamin keamanan di Wamena, tidak benar jika saat ini kondisi di Wamena tidak terkendali," ujar Iqbal.

Demi menjaga situasi dan kondisi Wamena agar tetap kondusif, TNI-Polri telah berdialog tokoh adat, agama dan masyarakat sekitar.

"Forkompimda, tokoh agama, tokoh masyarakat, kepala suku dan tokoh terkait lainnya sudah beberapa kali melakukan dialog dengan tujuan untuk menjaga wamena dan sekitanya terus aman," tutur Iqbal.

Kepala Suku Lembah Baliem (Wamena), dia menambahkan, juga meminta para pendatang untuk tidak mengungsi.

"Masyarakat asli Wamena sangat mencintai masyarakat Papua pendatang dan yakin para perusuh adalah kelompok di luar Wamena," kata Iqbal.

Adapun jumlah pengungsi pascakerusuhan di Wamena yang tiba di Jayapura 3.213 orang. Saat ini masih tinggal di pengungsian berjumlah 543 orang. Mereka tersebar di Lanud Silas Papare sebanyak 101 orang, Rindam (104), YON 751 (172), Paguyuban Minang (106), Mushola Attaqwa (66).

(Gisella Putri\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar