Jokowi Pamer Sepatu Kotor, Greenpeace:Paru-paru Warga Lebih Kotor

Senin, 23/09/2019 08:30 WIB
Jokowi Pamer Sepatu Kotor Usai Tinjau Karhutla di Riau. (Harianaceh)

Jokowi Pamer Sepatu Kotor Usai Tinjau Karhutla di Riau. (Harianaceh)

Jakarta, law-justice.co - Juru Kampanye Greenpeace Arie Rampos menegaskan, seharusnya Jokowi tak hanya berkunjung langsung memantau karhutla. Akan tetapi berani memberikan sanksi tegas kepada perusahaan pembakar hutan.

"Ya kalau Jokowi ke sana hanya foto-foto ya, itu kemudian menyakiti korban-korban asap yang selamanya sudah terpapar," ujar Arie. seperti melansir Tirto.id.

Arie pun menyindir soal riuhnya komentar terkait sepatu kotor Jokowi. Menurutnya, paru-paru masyarakat jauh lebih kotor karena menghirup udara beracun dampak karhutla.

"Yang harus dipikirkan adalah bagaimana paru-paru masyarakat yang hidup di sana menjadi kotor karena dia [Jokowi] tidak menangani kasus kebakaran hutan tersebut dengan tindakan yang serius," tegasnya.

Menurut Arie, sejak kasus karhutla tahun 2015, tak ada saksi tegas, misalnya pencabutan izin dari pemerintah. Sehingga peristiwa serupa terus terulang secara rutin.

"Makanya pemerintah, seharusnya juga sejak dari 2015, sudah mempublikasikan perusahaan-perusahaan mana yang melakukan pembakaran dan publik juga. Jadi tahu siapa perusahaannya, termasuk, bagaimana progres penanganan dari kebakaran hutan dan lahan," ujarnya.

Presiden Joko Widodo belum lama ini melakukan peninjauan langsung lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau, Selasa (17/9/2019). Ia hadir mengenakan kemeja putih, tanpa masker, dan sepatunya yang kotor menjadi perbincangan di sosial media karena unggahan Pramono Anung.

Namun, kehadiran Jokowi dianggap tak akan banyak menurunkan dampak karhutla.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana (BNPB), memang terdapat penurunan titik panas yang terjadi belakangan ini. Pada data 21 September 2019 pukul 08.00 WIB, terdapat 2766 titik panas. Angka tersebut menurun dari minggu lalu, Sabtu (14/9/2019), dengan 4012 titik panas.

Namun, angka tersebut tak bisa dijadikan acuan telah menurunnya dampak karhutla. Sebab perhitungan titik panas itu dilakukan melalui pantauan satelit. Dalam kondisi kabut asap yang semakin pekat, titik api tak lagi terlihat dari satelit.

"Dari sisi hotspot menurun karena ada hujan, sehingga sebagian titik api jadi asap. Makanya asap malah tambah banyak mengakibatkan kualitas udara juga turun [semakin buruk]," ujar Pelaksana tugas (plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Agus Wibowo, Sabtu (21/9/2019).

Peningkatan kabut asap, jelas Agus, disebabkan menjalarnya titik kebakaran yang masih terjadi, khususnya di lahan gambut. Api pun masih menyebar dari lapisan bawah gambut.

"Susah dipadamkan," tegasnya.

Kualitas udara memang berada pada tingkat "berbahaya" dalam beberapa hari belakangan. Salah satunya Palangkaraya. Berdasarkan data Air Visual, Kamis (19/9/2019) siang, Air Quality Index (AQI) polusi Palangkaraya berada di angka 1057.

Kemudian, Jumat (20/9/2019) siang, berada pada angka 451. Dalam standar Air Visual, 301-500 ke atas berarti kondisi udara berbahaya.

(Annisa\Editor)
Share:


Berita Terkait

Komentar