Ign Joko Dwiatmoko, Pengamat Kebijakan Publik:

Jokowi, Bayangan Pinokio, dan Barisan Para Pembohong

Rabu, 18/09/2019 15:31 WIB
Tentang Kontroversi Bayangan Pinokio di Majalah Tempo (kumbanews.com)

Tentang Kontroversi Bayangan Pinokio di Majalah Tempo (kumbanews.com)

Jakarta, law-justice.co -  

Jangan salah persepsi dengan judul di atas, seakan -- akan penulis ikut- ikutan menggiring opini bahwa Jokowi itu pembohong dan akan semakin panjang hidungnya jika ia bohong lagi, sebab janjinya kepada rakyat akan memberantas korupsi tetapi nyatanya lembaga anti korupsi itu penuh dengan orang- orang yang berambisi untuk mengecilkan peranan KPK yang independen dan galak pada koruptor.Jokowi dituduh abai, lalai dan cenderung.

Apakah Tempo "melecehkan" Simbol Negara lewat Gambar Sampulnya?

Tempo tampaknya mencoba mengadopsi karikatur majalah AS yang menggambarkan Trump dalam bayangan pinokio. Dan gara -- gara karikatur itu Tempo mendapat kecaman pedas terutama pada barisan pembela Jokowi. Lalu bagaimana penulis menanggapinya? Apakah marah, kecewa pada Tempo atau biasa -- biasa saja?

Barisan Pembela Jokowi tentu saja mencak- mencak, kecewa karena Tempo lancang membuat karikatur yang mengolok- olok sosok Presiden RI terpilih tersebut. Coba tebak apakah Jokowi akan marah gara- gara karikatur tersebut? Yang sensi penulis pikir adalah mereka yang membabi buta membela Jokowi.

Tetapi jika dipikir secara jernih, karikatur khan hasil pemikiran kritis perupa yang ingin menggambarkan sosok Jokowi yang berada dalam bayang- bayang kebohongan entah orang- orang terdekatnya, pembisiknya atau orang- orang yang berusaha memutarbalikkan fakta hingga membuat orang berpikiran bahwa Jokowi telah membuat kebohongan public dengan menyetujui UU KPK (dengan revisi yang telah diajukan presiden tentunya).

Banyak masyarakat terutama kalangan kampus, aktifis, HAM, pegiat hukum dan para "Blogger" merasa Jokowi salah langkah dan membuat mereka berpikir Jokowi berbohong terhadap rakyat.

Berbagai masalah yang mendera akhir- akhir ini menjadi senjata bagi para pengkritik untuk melancarkan serangan yang membuat Jokowi tergiring dalam pusaran kebohongan.

Bagaimana Sih Cerita Sebenarnya tentang "Pinokio" yang mendadak Heboh

Pinokio, sosok boneka buatan Paman Gepeto. Pria pembuat boneka yang sangat ingin mempunyai anak. Dalam angannya Paman Gepeto ingin bonekanya menjadi manusia sungguhan.

Tidurlah Paman Gepeto, ternyata angan dari Paman Gepeto didengar oleh peri yang baik hati. Saat Paman Gepeto tertidur boneka yang bernama Pinokiopun disulap menjadi manusia sungguhan.

"Papa, Papa...bangun ini aku anakmu. Pinokio?!"
Geragap Paman Gepeto, ia seperti tengah bermimpi, matanya ia kucek- kucek, seakan tidak percaya benarkah yang ada dihadapannya itu Pinokio atau ia masih dalam alam mimpi. Lalu ia mencoba mencubit tangannyanya.
"Papa, ini Pinokio... lihat baik- baik"

"Oh, terimakasih Tuhan, terimakasih peri, angan saya mendapat anak akhirnya kesampaian...Oke Pinokio... Pa..."

"Ya Papa..."

"Begini, Papa ingin kamu segera sekolah agar menjadi pandai. Ini Papa hadiahi buku agar kamu semakin pintar, menjadi anak baik, berguna bagi keluarga dan bangsa. Jangan jual buku ini ya ingat baik- baik."

"Baiklah Papa..."

Dalam perjalanan menuju sekolah Pinokio bertemu Farah. Kenalan baru Pinokio itu sebetulnya anak nakal. Tetapi karena Pinokio masih bodoh maka mau saja ia dibujuk bujuk teman barunya.

"Hei Pinokio...untuk apa kamu belajar dan membawa buku segala. Yuk ikut aku...pasti kamu senang"

"Ke mana Farah?"

"Ada Deh"

"Rupanya Pinokio diajak untuk mencuri dan dan ngutil di sebuah toko"

"Farah, kenapa kau aku ajak mengambil barang tanpa permisi."

"Ah, itu biasa dilakukan oleh anak- anak, Pinokio tenang saja."

Tiba- tiba pemilik tokonya muncul. Farah dan Pinokio kaget,Tiba tiba Farah menyeret tangannya dengan tiba- tiba. Karena kaget maka Pinokiopun terjatuh dan" Tagggghhhh, ahhhh saakitt!! Farah kakiku patah."

"Dasar manusia boneka jatuh sedikit saja sudah patah, kamu itu sebenarnya bukan manusia, Pinokio, kamu hanya boneka yang disulap menjadi manusia.
Pinokio marah ketika Farah mengatakan dirinya hanyalah boneka. Ia pulang sambil meringis kesakitan.

Sesampai di rumah, Papanya melihat muka sedih Pinokio dan melihat kaki Pinokio yang terpincang- pincang.

"kamu kenapa Pinokio?"

"Ah eh Tidak apa- apa Papa, tadi aku terjatuh ketika hendak menolong teman."

Tiba- tiba hidung Pinokio memanjang.

"Jangan bohong sama Papa pinokio, semakin berbohong hidungmu akan semakin panjang"

Dengan menyesal sedih, menangis Pinokio akhirnya mengaku bahwa ia telah bohong pada Papanya. Cerita sebenarnya ia diajak Farah si anak nakal mencuri dan terjatuh saat ia lari.

"Makanya Jangan bohong Pinokio, kamu harus menjadi anak yang jujur. Semakin kamu berbohong kamu akan tersiksa oleh bayangan dosa yang mengikutimu. Kamu tidak mau khan hidungmu semakin panjang."

Itulah dongeng tentang Pinokio yang melegenda itu (Versi ini telah dmodifikasi sendiri oleh penulis). Dongeng adalah cerita dari mulut ke mulut. Cerita Pinokio itu sudah melegenda dan menjadi peringatan pada manusia untuk tidak berbohong.

Semakin berbohong hidungnya akan memanjang dan menjadi jelek. Pesan sebenarnya adalah tidak baik jika manusia berbohong sebab hanya akan merugikan diri sendiri. Dan orang yang berbohong akan selalu dalam bayang- bayang rasa bersalah.

Tempo dan Karikatur Menyerempet Bahaya

Lalu apakah Tempo menuduh Jokowi berbohong saat menghadapi masalah pelemahan KPK ini. Media pun kemudian menjadi pengritik tajam bagi siapapun pemimpin yang diduga melakukan pembohongan publik.

Apakah Jokowi ada indikasi berbohong? Jangan cepat percaya, dicari dulu cerita yang sebenarnya. Manusia yang berpikir tentu harus sabar dan tidak langsung percaya pada khabar yang belum tentu benar.

Barangkali saja Jokowi tidak sedang berbohong, tetapi banyak pembisik, orang- orang terdekatnya, sumber kebijakannya ternyata telah berbohong dengan melaporkan cerita yang tidak sesuai, sehingga akhirnya Jokowi terkesan berbohong.

Sebuah karikatur kadang menjadi kontroversi jika ada pihak- pihak yang merasa tersindir dan tidak terima dengan kritikan pedas lewat bahasa gambar tersebut. Kalau saya menduga Jokowi tidak akan marah dengan karikatur yang dibuat Tempo.

Tempo memang kritis terhadap pemerintah siapapun, tetapi Tempo mesti hati- hati sebab dengan munculnya Media sosial, berita mudah tersebar dan akan banyak bumbu mengiringi sehingga kadang berita yang benar terlihat salah dan yang viral dan sudah terlanjur dilihat oleh publik maka berita salah itu akhirnya dipercaya menjadi cerita benar sehingga mampu mengubah persepsi masyarakat.

Jokowi mungkin tidak salah tetapi karena masyarakat terlanjur terbelah maka bagi yang benar- benar fanatik menjadi pembela Jokowi maka ledakan kemarahan malah membuat rugi reputasi Jokowi sendiri yang selalu tenang menghadapi berbagai masalah yang membelitnya. Salam damai Selalu.

(Tim Liputan News\Editor)
Share:


Berita Terkait

Komentar