Kisah Haru, Polisi di Hong Kong Terpaksa Hadapi Istri Demonstrasi

Rabu, 11/09/2019 17:45 WIB
Demonstran Hong Kong bentrok dengan kepolisian (Foto: ISt)

Demonstran Hong Kong bentrok dengan kepolisian (Foto: ISt)

Jakarta, law-justice.co - Istri polisi tersebut bernama Sunny (bukan nama sebenarnya) 26 tahun yang memiliki dua anak ini adalah demonstran anti-pemerintah Hong Kong.

Suaminya bertugas melawan demonstran saat unjuk rasa berubah jadi kerusuhan selama sekitar tiga bulan terakhir.

Saat Sunny turun ke jalan menentang pemerintah, sang suami bersama pasukannya membangun barikade mengadang demonstran.

Silang pandangan antarkeduanya terjadi sejak Juni lalu, saat aksi protes RUU Ekstradisi mulai berlangsung.

Melansir liputan6.com, Sunny meminta nama lengkapnya disembunyikan. Dia takut akan ada pembalasan dari pemerintah atau petugas lain kepada keluarganya.

Saat aksi, Sunny dan suami terpisah barikade kubu yang berbeda. Namun ketika di rumah, pasangan itu kembali kompak mengasuh dua putri mereka.

Seiring aksi yang semakin sering diwarnai kekerasan, situasi dalam rumah tangga mereka juga memburuk. Kondisi ini juga dirasa sejumlah keluarga lain yang terlibat dalam instansi pemerintahan. Bahkan, barisan keluarga polisi Hong Kong.

"Pada awalnya, tampaknya tidak berbeda dari protes lain yang selalu kami alami selama bertahun-tahun," kata Sunny.

Sunny dan sang suami sudah saling kenal sejak mereka masih kanak-kanak. Keduanya menikah lima tahun lalu.

Sunny bercerita, suaminya begitu bangga ketika lulus dari akademi kepolisian Hong Kong. Bahkan, sang suami sempat menitikan air mata bahagia.

"Saat itu, dia pikir (polisi) itu adalah profesi yang mulia," kenang Sunny. "Tetapi ternyata tidak seperti harapan. Hanya dalam beberapa bulan dia menyadari bahwa hierarki (di kepolisian) itu terlalu parah."

Tak Hanya Sunny

Tekanan pemerintah kepada pihak kepolisian untuk memperketat penjagaan dan semakin gencar melakukan penangkapan, memperkuat kesenjangan antara polisi dan demonstran. Situasi antara pengunjuk rasa dan polisi semakin tegang.

Sekretaris Keamanan John Lee mendukung sikap kepolisian untuk melakukan tindakan tegas, termasuk penangkapan. Dia mengatakan, pasukan kepolisian Hong Kong tetap yang paling profesional di Asia.

"Terlepas dari bahaya dan kesulitan yang mereka hadapi, mereka masih menjalankan tugas hukum mereka dengan berani," katanya.

Pada sebuah pernyataan publik, para pejabat menuduh para demonstran telah melecehkan petugas lewat media sosial ataupun secara langsung. Bahkan, dikatakan bahwa hal itu juga terjadi pada anggota keluarga petugas.

Berada di dua kubu berbeda, bukan hal mudah bagi Sunny dan sang suami. Setiap suaminya pulang ke rumah, Sunny selalu mencoba menenangkan sang suami. Mencoba menghilangkan emosi selepas berada di garis depan menghalau demonstran.

"Percakapan tidak selalu damai," ucapnya.

Kepada sang suami, Sunny mencoba membujuk agar tidak terlalu merasa tertekan. "Kamu tidak perlu menggunakan kekuatan berlebihan karena kamu bukan penyiksa. Kamu adalah seorang petugas polisi," katanya pada sang suami yang enggan disebut namanya itu.

"Saya terus mengatakan kepadanya, hal yang normal untuk merasa marah," imbuhnya.

Sementara itu, suami Sunny berpendapat banyak tekanan yang mengarah kepadanya dan keluarga. Namun, ia mengaku tidak punya pilihan lain, selain menangkap dan menghukum mereka yang dianggap melanggar hukum. Hanya sekadar menjalankan tugas sesuai perintah.

Perwira polisi itu menyadari, tindakan polisi di jalan yang mendukung pemerintah semakin membuat benci masyarakat. "Rasanya seperti kita memiliki musuh bersama."

Sunny dan suami bukan satu-satunya pasangan yang terbelah barikade aksi. Sebuah grup di platform media sosial Facebook, dibentuk untuk menjadi wadah bagi para istri polisi yang memiliki kondisi serupa.

Seorang anggota Phillis (42) telah menikah dengan seorang perwira polisi selama 21 tahun. Ketika silang pandangan politik terjadi, Phillis menyadari laki-laki yang menjadi cinta pertamanya itu sudah seperti orang lain.

"Aku sudah memberitahunya bahwa ketika anak-anak sudah dewasa, aku akan memikirkan untuk bercerai," katanya.

Untuk menghindari ketegangan di rumah tangganya, Phillis memilih untuk tidak lagi menonton televisi. Segala diskusi yang berkaitan dengan politik dibicarakannya di luar rumah bersama putrinya, jauh dari sang suami.

Pilih Mundur dari Kepolisian

Hal berbeda dipilih Cathy Yau (36). Setelah 11 tahun bergabung dengan kepolisian Hong Kong, Cathy mengundurkan diri dari posisinya bulan Juli lalu. Cathy kemudian berbalik mengkritisi polisi di depan umum.

Sebelum memutuskan keluar dari satuan kepolisian, dia ditugaskan di luar Perpustakaan Pusat Hong Kong. Saat itu, Cathy memantau para demonstran yang berkumpul di seberang jalan di Victoria Park.

Dia ingat ketika pengunjuk rasa meneriaki "polisi kotor" padanya ketika berpapasan. Sejak saat itu, dia mulai merasa berada di sisi yang salah.

"Sebagai seorang perwira polisi yang terlatih, saya tahu apa yang mereka lakukan tidak sepenuhnya benar," kata Cathy.

Meski demikian, dirinya tetap menghargai satuan kepolisian, tempatnya pernah bernaung. Cathy merasa, pemerintah bersembunyi di balik kepolisian. Menurutnya, para anggota polisi hanyalah warga biasa ketika mereka melepas seragam mereka.

"Kita semua adalah warga Hong Kong, tetapi pemerintah tampaknya tidak peduli bahwa ada darah di jalan," ungkapnya.

Di dalam apartemen mungil miliknya, Cathy masih menyimpan sertifikat yang ia terima dari satuan kepolisian 2008 lalu. Sertifikat yang dulu membanggakan, kini terasa pahit baginya setelah kerusuhan tumpah di jalanan Hong Kong.

"Mungkin sulit bagi mereka (polisi) untuk tidak mengikuti perintah. Tetapi mereka dapat memilih untuk bertindak secara berbeda," pungkasnya.

(Annisa\Editor)
Share:


Berita Terkait

Komentar