Polri Tetapkan 5 Akun Medsos yang Picu Kerusuhan di Papua

Selasa, 20/08/2019 17:44 WIB
Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jendral Polisi Dedi Prasetyo (Foto Istimewa)

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jendral Polisi Dedi Prasetyo (Foto Istimewa)

Jakarta, law-justice.co - Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo menyebutkan bahwa pihaknya telah mengantongi sebanyak lima akun media sosial (Medsos) yang diduga menjadi pemicu aksi unjuk rasa yang berujung kerusuhan di Papua.

Penemuan tersebut atas penyelidikan dari Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipid Siber) Bareskrim Polri, kata Brigjen Dedi Prasetyo seperti dilansir CNN Indonesia.

"Ada lima akun, ya," kata Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Selasa (20/9/2019).

Dedi menyampaikan saat ini Dittipid Siber masih mengumpulkan data terhadap akun media sosial tersebut, baik Youtube maupun Facebook.

Akun itu, kata Dedi, diduga menyebarkan narasi hingga video berkonten provokatif.

"Viralkan narasi-narasi maupun video provokatif," ujarnya.

Selain itu, Dedi mengungkapkan Dittipid Siber juga menganalisa akun Instagram yang juga diduga menyebarkan konten provokatif.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyebut aksi demo yang terjadi di Papua Barat dan Papua dipicu oleh insiden yang sebelumnya terjadi di Asrama Papua di Surabaya dan Malang. Namun peristiwa itu sudah bisa diselesaikan.

Tito menduga ada oknum tertentu yang memanfaatkan kejadian di dua kota tersebut untuk memicu kerusuhan yang lebih besar lagi.

Oknum tersebut kemudian menyebarkan informasi yang tak benar atau hoaks di media sosial. Di antaranya ucapan atau makian yang dialamatkan kepada mahasiswa Papua. Lalu ada informasi bahwa ada satu mahasiswa Papua yang tewas di Surabaya.

Hal itulah yang diduga menjadi penyebab warga Papua di Manokwari dan Jayapura memanas. Alhasil, kerusuhan di wilayah tersebut semakin membesar tidak bisa lagi terhindarkan.

"Muncul hoaks mengenai ada kata yang kurang etis dari oknum tertentu. Ada juga gambar seolah adik-adik kita dari Papua meninggal. Ini berkembang di Manokwari kemudian terjadi mobilisasi massa," kata Tito.

Selain itu, viral video yang merekam sejumlah oknum berseragam TNI di depan Asrama Papua. Dalam video itu tampak lima orang berseragam loreng meminta orang yang berada di asrama segera keluar. Makian terdengar dalam video tersebut, namun sumber suara tidak diketahui jelas.

Video makian tersebut viral di media sosial dan memicu kemarahan warga Papua di sejumlah kota pada Senin (19/8/2019). Aksi protes berujung kerusuhan pecah di Manokwari, Jayapura, Sorong, bahkan meluas ke Makassar. Mereka memprotes aksi rasial yang dianggap menghina warga Papua.

Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan menyatakan akan menyelidiki dugaan aksi rasial berupa makian terhadap mahasiswa Papua di Kota Surabaya. Dia menyatakan pihaknya menjalin komunikasi dengan instansi terkait dalam kasus ini.

(Regi Yanuar Widhia Dinnata\Editor)
Share:


Berita Terkait

Komentar