Andi Setiono Mangoenprasodjo:

Ada FPI dalam Kerusuhan Manokwari?

Selasa, 20/08/2019 08:21 WIB
Kerusuhan di Manokwari, Senin (19/8) (BBC Indonesia)

Kerusuhan di Manokwari, Senin (19/8) (BBC Indonesia)

law-justice.co - Bagi kalangan non-muslim dan kelompok muslim yang tidak sealiran dengan ormas ini, FPI (Front Pembela Islam) sungguh menjijikkan. Tidak percaya, tanyakanlah pada peristiwa kerusuhan Manokwari. Saya sejujurnya sudah curiga, sejak peristiwa "penyerangan" terhadap Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya terjadi. Apa dan siapa pembawa sial itu?

Disebut bermula dari peredaran foto bendera merah putih yang rusak di depan asrama tersebut, di sejumlah grup WhatsApp. Hal itu diungkapkan oleh perwakilan organisasi masyarakat FPI yang mendatangi asrama, pada Jumat 16 Agustus malam lalu.

Mereka mengajak sejumlah elemen masyarakat lain, untuk mendatangi asrama dua lantai tersebut hingga suasana ricuh. Sementara itu, Juru Bicara Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Dorlince Iyowau, yang saat itu tengah berada di asrama tersebut, membantah bahwa pihaknya melakukan perusakan bendera.

FPI membangun opini, seolah-olah mahasiswa Papua anarkis, dan ingin memecah-belah NKRI. Padahal barang bukti yang berupa bendera yang dicabik-cabik itu sama sekali tak ada. Sialnya, aparat kepolisian justru ikut memojokkan saudara kita, anak-anak Papua itu, hingga ikut melakukan pengepungan.

Menurut keterangan Juru Bicara Front Rakyat Indonesia untuk West Papua (FRI-WP) Surya Antanya, aparat tidak melakukan investigasi mendalam terlebih dulu terkait perusakan Bendera Pusaka. Selain itu, aparat juga `membiarkan` ormas reaksioner yang turut melakukan pengepungan.

Situasi diperparah saat aparat justru ikut menyerang asrama yang disertai tembakan gas air mata. Pihak aparat yang ada di lokasi sebelumnya, tidak melakukan proses investigasi kepada mahasiswa di asrama terlebih dahulu. Bahkan lebih jauh pengepungan dan penyerangan ini juga diiringi perusakan berbagai fasilitas asrama.

Para pengepung juga beberapa kali melontarkan makian bernada rasis kepada mahasiswa Papua. Tercatat ada 43 mahasiswa yang terjebak di asrama. Mereka bertahan dan mengamankan diri di dalam tanpa makan dan minum semalaman.

Tidur di emperan lantai asrama yang masih ada gas air matanya. Tak bisa keluar karena dikepung, ada anjing penjaga juga di depan pagar, mereka takut untuk keluar. Akibat peristiwa tersebut sedikitnya lima mahasiswa asal Papua terluka.

Keesokan harinya, Sabtu (17/8), polisi merangsek ke dalam asrama dengan membawa senjata laras panjang, dan memperlakukan mereka seperti teroris yang harus dibekuk! Tindakan yang sangat berlebihan, dan saya pikir memang sangat keterlaluan. Para mahasiswa itu lalu diangkut ke Polrestabes Surabaya untuk menjalani pemeriksaan.

Sependek yang saya ikuti perkembangannya, peristiwa yang nyaris sama juga terjadi di Asrama Mahasiswa Papua Semarang. Juga beberapa kota lain di Jawa Timur, walau tidak terekspos secara luas. Syukurlah jumlah mahasiswa di kota lain tidaklah banyak, dan mereka lebih bersifat kooperatif.

Dari kondisi tersebut, tampaknya memang ada pola yang sama yang digerakkan oleh ormas yang sama di berbagai daerah untuk memprovokasi situasi. Menyakitkan karena hal tersebut dilakukan menjelang Peringatan Kemerdekaan Indonesia! Mendeskreditkan mahasiswa Papua yang sekali pun memang sering berdemo dan seolah-olah "bebas-hukum", tapi tampaknya dalam peristiwa ini justru jadi korban fitnah!

Sesungguhnya peristiwa seperti ini sudah sangat biasa terjadi di kota pelajar seperti Jogja, tapi sejauh ini reaksi masyarakat lokal, walau kesal tapi masih toleran. Hingga barangkali, masuknya ormas-ormas radikal yang memang mulut dan kelakukannya menyebalkan sekali itu; meledaklah peristiwa kerusuhan di Manokwari yang sesungguhnya berupa aksi protes yang tak nyambung!

Mungkin saja hal itu akibat akumulasi banyak hal. Lihat saja, mengapa mereka lebih memilih membakar Gedung DPRD? Tak jelas. Mungkin bentuk kekesalan terhadap perilaku para wakil rakyat yang gagal menyuarakan mereka!

Saya jelas ada dalam pihak mahasiswa Papua! Itu protes keras terhadap sikap ambigu pemerintah terhadap organisasi macam FPI. Yang keberadaannya tak pernah jelas betul legalitasnya. Pembiaran yang berlarut-larut.  Kasus Enzo mungkin dianggap terlalu sepele oleh TNI. Kasus UAS (ustad Abdul Somad) yang bahkan dibela MUI, sebagai bukan penghinaan agama orang lain.

Tanda kepekaan aparat keamanan memang tipis! Sial betul mereka malah seolah menjadi beking sejenis FPI, HTI, dan sejenisnya. Kemarin sudah jelas, api kecil yang dihembuskan FPI di Surabaya mampu membakar cepat Manokwari. Masihkah kau beri tempat dan lindungi mereka wahai NKRI!

Andi Setiono Mangoenprasodjo, akademisi lulusan Universitas Indonesia dan Institut Pertanian Bogor, tinggal di Yogyakarta. 

 

(Tim Liputan News\Editor)
Share:


Berita Terkait

Komentar