Anggota DPR Australia Diduga `Mata-mata` Pemerintah China

Jum'at, 16/08/2019 15:03 WIB
Gladys Liu, anggota DPR Australia (The Canberra Times)

Gladys Liu, anggota DPR Australia (The Canberra Times)

Jakarta, law-justice.co - Gladys Liu, anggota DPR Australia keturunan Tiongkok ternyata memiliki hubungan dengan organisasi kepanjangan tangan pemerintah China.

Organisasi itu adalah sayap rahasia yang bertujuan mempengaruhi pemerintah asing dan para ekspatriat China di luar negeri.

Melansir dari ABC News, Rabu (14/8/2019), fakta ini terungkap oleh Tim Investigasi ABC, setelah menyelidiki latar-belakang politisi keturunan China yang membuat sejarah karena merupakan yang pertama terpilih ke DPR atau Majelis Rendah Parlemen Australia pertengahan 2019 lalu.

Gladys Liu ternyata pernah ditunjuk sebagai ketua kehormatan World Trade United Foundation (WTUF) yang berbasis di Hong Kong. Para sumber ABC menyebut organisasi ini berafiliasi dengan China untuk mempengaruhi pemerintah asing dan ekspatriat China di negara lain.

Tokoh Partai Liberal Bruce Atkinson yang merupakan anggota parlemen negara bagian Victoria, juga memiliki hubungan dengan WTUF selama beberapa tahun.

Atkinson yang dihubungi ABC membantah dengan mengatakan dia tidak berperan aktif di WTUF serta menolak tuduhan bahwa dirinya jadi sarana pengaruh China dalam politik Australia.

Gladys sendiri mengakui bergabung dengan WTUF tapi, katanya, untuk "mempromosikan perdagangan Australia dan Hong Kong". Dia juga mengaku telah mengundurkan diri dari WTUF "sekitar 2016".

WTUF meneyebut sendiri lembaganya sebagai "organisasi nirlaba global".

"Sebagai organisasi non-pemerintah dengan status konsultatif untuk PBB. WTUF berpengalaman 18 tahun dalam diplomasi publik," kata jurubicara WTUF.

"Ini menjadikan WTUF sebagai platform internasional dengan pengaruh sosial yang besar."

WTUF menyebut diri berdedikasi mendorong perdagangan bebas, tapi pengamat di Hong Kong mengungkap kegiatan perdagangan WTUF hampir tidak ada buktinya.

Mereka menambahkan, WTUF adalah bagian dari United Front PKC, yang bertujuan memajukan kepentingan PKC melalui berbagai organisasi sayap.

Sejumlah besar pengurus WTUF dan ketua kehormatannya, adalah sosok yang memegang posisi pemerintahan dan organ PKC yang berperan mengarahkan kegiatan United Front.

Pengamat China memastikan hal ini sebagai pertanda pasti bahwa WTUF disetujui oleh Beijing dan PKC.

Di Australia sendiri, sejumlah organisasi diduga memiliki kaitan dengan United Front tersebut.

Apa itu United Front

United Front adalah perwujudan strategi Beijing dalam meningkatkan reputasi dan kekuasaan dengan mempengaruhi warga China serta ekspatriatnya di negara seperti Australia.

Pada level tertinggi, organisasi ini didukung oleh Presiden Xi Jinping sendiri.

"Tujuan United Front China pada dekade lalu adalah melayani kebangkitan China, memobilisasi dunia luar semaksimal mungkin, melayani kepentingan dan kebijakan China, terutama Belts and Roads Initiatives," jelas Dr Wu Qiang, analis politik yang banyak memantau kegiatan United Front.

Pada 2015 Presiden Xi memutuskan bahwa program United Front harus ditingkatkan secara substansial.

"Kegiatan United Front, dana, dan efektivitasnya meningkat secara signifikan," kata Dr Wu.

Dana kegiatan United Front mencapai 293 miliar dolar setahun (Rp 2.900 triliun) untuk "pemeliharaan stabilitas". Jumlah itu dialokasi ke United Front dan proyek-proyek lainnya.

United Front beroperasi melalui perusahaan dan organisasi yang tampaknya independen dari Pemerintah dan PKC. Tujuannya untuk mempengaruhi kegiatan dan pernyataan publik warga China di China dan di luar negeri.

Pengaruh ini bertujuan meredam kritikan ke China dan memberi penghargaan kepada para pendukungnya.

Sebagian besar organisasi tersebut secara nyata tidak menyatakan diri sebagai bagian dari United Front.

WTUF teridentifikasi sebagai bagian United Front

World Trade United Foundation (WTUF) didirikan oleh Baima Aose, pria yang menyebut dirinya "Buddha hidup", yang banyak menampilkan foto-foto dirinya dengan Presiden AS Donald Trump dan Wapres Mike Pence.

WTUF diketahui menyumbang sejumlah kegiatan di Australia.

Aktivitas Baima Aose sendiri memiliki jejak-jejak persetujuan dari Beijing.

Dia dan pengurus WTUF lainnya hadir dalam perjamuan negara di China tahun 2015 dan 2016. Perjamuan itu digelar oleh Dewan Negara di Aula Rakyat, untuk merayakan berdirinya Republik Rakyat China.

Undangan untuk acara yang juga dihadiri Presiden Xi Jinping ini, harus mendapat persetujuan Politbiro PKC.

Tim akademisi Hong Kong Sonny Shiu-hing Lo, Steven Chung-fun Hung, dan Jeff Hai-chi Loo telah menyelidiki pengurus WTUF dan menyimpulkan mereka itu terlibat kerja-kerja United Front.

Dalam buku yang segera diterbitkan, China`s New United Front Work in Hong Kong, mereka menguraikan bagaimana pengurus WTUF Brave Chan Yung dan Lo Man-tuen, terlibat dalam politik pro-Beijing di Hong Kong.

Sejumlah besar pengurus WTUF lainnya berasal dari Konferensi Konsultatif Politik China atau United Front Work Department, dua kendaraan utama kegiatan United Front.

Menurut Feng Chongyi, akademisi di Sydney, daftar pengurus WTUF menunjukkan hubungan yang jelas dengan United Front.

"Jika melihat struktur dan kepemimpinan, termasuk ketua kehormatan dan pemegang jabatan eksekutif, kita bisa melihat kaitan mereka dengan operasi United Bersatu," katanya.

Salah satu kebijakan United Front yaitu mempengaruhi warga China ekspatriat untuk masuk partai politik di negara tempat tinggal mereka, dan brusaha jadi caleg.

"Pada dekade lalu, kita melihat perkembangan terbaru United Front yang mendorong orang China untuk aktif berpartisipasi dalam pemilu di negara lain dan menjadi politisi lokal," ujar Wu Qiang, mantan dosen Universitas Tsinghua di Beijing.

"Diharapkan dengan cara ini, akan bisa mempengaruhi kebijakan dan pemerintahan negara lain," katanya.

Juru bicara WTUF tidak bersedia menjawab langsung pertanyaan ABC, apakah WTUF terlibat dalam United Front.

Namun juru bicara WTUF mengatakan, "Kami tidak setuju dengan teori atau dugaan Anda."

(Regi Yanuar Widhia Dinnata\Editor)
Share:


Berita Terkait

Komentar