Waspada 7 Negara Ini Dibayang-bayangi Resesi

Jum'at, 16/08/2019 14:02 WIB
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia. (Foto: CNBC Indonesia)

Ilustrasi Bursa Efek Indonesia. (Foto: CNBC Indonesia)

Jakarta, law-justice.co - Pada kuartal kedua ini, badan statistik sejumlah negara mencatatkan pertumbuhan nol persen bahkan negatif. Indikasi ini menunjukkan ancaman resesi kian meningkat di seluruh dunia.

Dana Moneter Internasional (IMF) pun telah memangkas perkiraan pertumbuhan global 2019 dari 3,3 persen menjadi 3,2 persen atau terlemah sejak 2009. Lembaga keuangan ini juga menurunkan proyeksi pertumbuhan untuk tahun 2020 menjadi 3,5 persen dari sebelumnya 3,6 persen.

Dilansir dari CNBC Indonesia, meningkatnya eskalasi perang dagang antara AS-Cina telah menurunkan kepercayaan bisnis. Bank sentral yang gagal menangani keadaan juga menyebabkan reaksi negatif di pasar keuangan, yang mengarah pada sektor riil.

Belum lagi, sektor jasa global yang selama ini mendukung pertumbuhan, mulai mencerminkan penurunan seperti yang terlihat dalam manufaktur. Ini jelas membuat investor semakin khawatir.

Melansir dari CNN International, ada beberapa negara yang paling berisiko terkena resesi. Berikut data negara-negara tersebut yang dilansir CNBC Indonesia pada Jumat (15/8/2019).

Jerman

Ekonomi Jerman berkontraksi di kuartal kedua tahun ini. Kenyataan ini terlihat setelah badan statistik setempat Destatis, mengeluarkan rilis terbaru terkait produk domestik bruto (PDB).

PDB di kuartal kedua tahun ini jatuh ke titik 0,1%. Ini sesuai dengan perkiraan, setelah sebelumnya tumbuh 0,4% di kuartal pertama 2019.

Sejumlah analis yakin tetap akan terjadi goncangan lainnya pada ekonomi Jerman di kuartal ketiga tahun ini. Sektor industri harus mulai menyeimbangkan anggaran dan memulai lagi pertumbuhan ekonomi melalui stimulus fiskal.

"Pengumuman PDB hari ini jelas merupakan tanda akhir dari era keemasan ekonomi Jerman," kata Kepala Ekonom Dutch Bank ING Carsten Brzeski. Ekonomi terbesar keempat di dunia tersebut digambarkan analis tengah terkena badai kencang.

Sejumlah perkembangan global beberapa pekan ini telah membawa dampak negatif ke Jerman, terutama jika menggunakan ekspor dan manufaktur sebagai indikatornya. Industri mesin, sektor kedua terbesar di negara tersebut dilaporkan mengalami penurunan permintaan 22% diantara April dan Juni.

Inggris

Selain Jerman, akibat kegagalan Brexit, Inggris juga terancam terkena resesi. Akibat Brexit, ekonomi Inggris menyusut pada kuartal kedua, untuk pertama kalinya sejak 2012.

Kantor Statistik Nasional (ONS) mencatat Domestik Bruto (PDB) Inggris turun 0,2% dari April hingga Juni. Angka ini lebih lemah dari ekspektasi pasar.

"PDB mengalami kontraksi pada kuartal kedua untuk pertama kalinya sejak 2012 setelah pertumbuhan yang kuat di kuartal pertama," kata kepala PDB di ONS, mengutip Scotsman.

Sebelumnya pada kuartal satu, ekonomi Inggris tumbuh 0,5%, disebabkan oleh kenaikan kuartalan tertinggi di bidang manufaktur sejak 1980-an.

Italia

Kantor Statistik Italia Istat mengindikasikan pertumbuhan yang flat pada ekonomi Italia, pada kuartal kedua 2019. Yaitu masing-masing di 0,1% QoQ dan -0,1% YoY seperti pada kuartal pertama 2019.

"Ini sesuai dengan perkiraan kami dan sedikit lebih baik daripada konsensus. Jadi, baik ekspor neto dan pertumbuhan permintaan domestik (gross of inventory) netral pada kuartal tersebut," tulis lembaga tersebut dalam laporannya, pada akhir Juli.

Istat tidak mengungkapkan rincian permintaan secara penuh. Tetapi lembaga itu mengindikasikan bahwa permintaan domestik (gross of inventory) dan ekspor neto tumbuh netral pada April-Juni.

Ekonomi Italia juga diperkirakan stagnan akibat produktivitas yang lemah. Ini juga dipicu angka pengangguran kaum muda yang tinggi, utang yang besar, dan kekacauan politik.

Brasil

Aktivitas ekonomi di Brasil turun sedikit dalam tiga bulan hingga Juni. Ini menunjukkan ekonomi terbesar di Amerika Latin itu mungkin telah tergelincir ke dalam resesi.

Pada Senin, Indeks aktivitas ekonomi IBC-Br bank sentral, mencatatkan penurunan 0,13% pada kuartal kedua. Indikator utama produk domestik bruto (PDB) di Brasil itu mencatat sebelumnya pertumbuhan juga turun 0,68% di kuartal sebelumnya.

Menurut Reuters, jika indeks IBC-Br didukung oleh data resmi PDB bulan ini, Brasil akan jatuh ke dalam resesi untuk pertama kalinya sejak krisis 2015-2016 terjadi. Namun angka kuartal kedua akan dirilis pada 29 Agustus.

Meksiko

PDB Meksiko sebenarnya meningkat 0,1% pada periode April-Juni dari kuartal sebelumnya. Namun, ekonomi negara tersebut diperkirakan akan tetap lemah tahun ini.

Investasi yang jatuh menjadi penyebab. Selain itu sektor jasa yang menjadi andalan juga tengah mengalami penurunan.

Singapura dan Hong Kong

Meski tidak ekonominya tidak sebesar Jerman, Inggris, Italia, Brasil dan Mexico, Singapura dan Hong Kong yang merupakan pusat keuangan dunia, juga turut menderita akibat ketidakpastian global.

Ekonomi Singapura diperkirakan memasuki resesi pada kuartal ketiga 2019 akibat meningkatnya perang dagang antara China dan AS. Angka PDB yang dirilis pada Selasa (13/8/2019) menunjukkan pertumbuhan Singapura tertekan hingga 3,3% di kuartal kedua, jika dibandingkan dengan pertumbuhan di kuartal pertama 2019 sebesar 3,8%.

Angka ini merupakan yang paling buruk selama tujuh tahun terakhir. Ekonomi Singapura hanya tumbuh 0,0%-1,0% dari proyeksi sebelumnya 1,5%-2,5%.

Sementara ekonomi Hong Kong terganggu akibat demo besar yang melanda wilayah ini selama dua bulan terakhir. Akibat demonstrasi yang berlarut-larut, Otoritas Hong Kong mengklaim ekonominya telah terpengaruh.

Tercatat, kunjungan turis ke Hong Kong anjlok hingga 31% dan okupansi hotel turun hingga 50%. Kementerian Perdagangan juga mengklaim 28 negara telah mengeluarkan "travel warning".

(Annisa\Editor)
Share:


Berita Terkait

Komentar