Karya Sineas Indonesia Tembus Festival Film Locarno

Kamis, 15/08/2019 21:28 WIB
Cover film Hiruk-Pikuk Si Al-Kisah atau The Science of Fictions. (Foto: Dok. Yulia Evina Bhara)

Cover film Hiruk-Pikuk Si Al-Kisah atau The Science of Fictions. (Foto: Dok. Yulia Evina Bhara)

Jakarta, law-justice.co - Setelah 10 tahun kepesertaan Indonesia, akhirnya film karya sineas muda Yosep Anggi Noen berjudul Hiruk Pikuk Si Al-Kisah atau The Science of Fiction untuk judul internasional terpilih dalam kompetisi utama Festival Film Locarno 2019. Helatan yang digelar di Locarno, wilayah Ticino, Swiss dilaksanakan sejak 7 hingga 17 Agustus mendatang.

Festival film Locarno setara dengan festival film Cannes, Venice, Berlin dan Sundance, memperebutkan piala Golden Leopard dan merupakan ajang festival prestisius yang diadakan setiap tahun sejak 1946.

KBRI Bern mengadakan Indonesian Movie Cocktail di sela-sela penyelenggaraan Festival Film Locarno tersebut sebagai bentuk apresiasi terhadap film Indonesia yang berhasil masuk nominasi kompetisi utama Festival Film Locarno--sejak kesertaan Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir.

Dilansir dari Antara pada Rabu (14/8/2019), film Hiruk-Pikuk Si Al-Kisah ini bercerita tentang seseorang bernama Siman, pemuda dari pelosok Yogyakarta yang melihat pengambilan gambar film pendaratan manusia di bulan yang dilakukan di Pantai Parangtritis, Yogyakarta, tahun 1960-an oleh kru asing. Namun, Siman justru mengalami naas pada saat itu.

Selain film Hiruk-Pikuk Si Al-Kisah, Indonesia juga mengirim film pendek berjudul “Kasiterit” karya sutradara Riar Rizaldi, serta dua proyek Open Doors Hub yang berjudul “Autobiography” dan “Imah” untuk berpartisipasi pada festival ini.

Pensosbud KBRI Bern menyebutkan kantor Perwakilan RI, KBRI Bern mendukung kemajuan perkembangan film Indonesia pada Festival Film Locarno.

Diharapkan melalui Indonesian Movie Cocktail, seluruh produser, sutradara, artis, serta pegiat film Indonesia dapat lebih bersemangat untuk berkarya mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.

Pada Indonesian Movie Cocktail kali ini hadir produser, sutradara, serta media asing yang mengapresiasi keberhasilan film Indonesia masuk sebagai karya unggulan Festival tahunan para sineas dari seluruh dunia.

Yosep Anggi Noen bersaing dengan beberapa sutradara besar seperti Pedro Costa dari Portugis dan Koji Fukada dari Jepang.

Golden Leopard pernah diterima oleh sutradara-sutradara besar dunia termasuk Jim Jarmusch (1984), Claire Denis (1996), Lav Diaz (2014), Jafar Panahi (1997) dan Hong Sang Soo (2015).

(Annisa\Editor)
Share:


Berita Terkait

Komentar