Jubir Prabowo Ungkap Sosok Penumpang Gelap yang Sesungguhnya

Rabu, 14/08/2019 12:28 WIB
Dahnil Anzar Simanjuntak, Juru Bicara Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (Media Indonesia)

Dahnil Anzar Simanjuntak, Juru Bicara Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (Media Indonesia)

Jakarta, law-justice.co - Dahnil Anzar Simanjuntak, Juru Bicara Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mengungkapkan bahwa penumpang gelap yang ramai dibicarakan saat ini bukan lah kelompok seperti yang beredar di masyarakat.

Penumpang gelap itu disebut-sebut memiliki langkah politik yang bertolak belakang dengan prinsip Prabowo yang mementingkan bangsa dan negara.

Melansir dari Suara.com, Dahnil menerangkan bahwa diksi penumpang gelap pertama kali oleh Wakil Ketua Umum Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad yang prihatin dengan kondisi Prabowo saat Pilpres 2019 akan berakhir dengan konflik horizontal. Akan tetapi, ada satu pihak yang disebut penumpang gelap itu malah menyepelekannya.

"Namun ada satu pihak, bukan kelompok, yang menganggap konflik itu hanya collateral damage, dan pak Prabowo Subianto keberatan itu," kata Dahnil melalui akun Twitternya @Dahnilanzar pada Selasa (13/8/2019).

Dahnil kemudian mengungkapkan kalau Prabowo tidak akan pernah memberikan kesempatan sekecil apapun kepada penumpang gelap tersebut. Karenanya Prabowo lebih memilih langkah-langkah politik dengan istilah Leiden is Lijden. Istilah yang dipopulerkan H. Agus Salim itu dilakukan Prabowo demi kepentingan bangsa.

Dengan demikian, Dahnil menegaskan bahwa penumpang gelap itu bukan untuk dituduhkan kepada kelompok seperti relawan, tokoh politik, ataupun pendukung dari kalangan emak-emak.

"Penumpang gelap ini adalah satu pihak yang pak Prabowo berkeberatan dengan motivasi politik dia," ucapnya.

Dengan tegas Prabowo juga enggan mengorbankan kepentingan bangsa demi memberikan tempat satu pihak tersebut. Ketegasan Prabowo itu dilakukan agar pihak yang disebut penumpang gelap tersebut tidak bisa mewujudkan motivasinya.

"Semoga bisa mengakhiri polemik lainnya, terutama para pihak yang merasa tertuduh, yang jelas satu penumpang gelap ini telah ditutup rapat pintunya agar bisa melakukan aksi-aksi politik destruktifnya," tandasnya.

(Gisella Putri\Editor)
Share:


Berita Terkait

Komentar