Cerita Jadi Anak Orang Terkaya RI, Jonathan: Ya Seram Juga

Minggu, 11/08/2019 21:08 WIB
Jonathan Tahir. (Foto: Swa)

Jonathan Tahir. (Foto: Swa)

Jakarta, law-justice.co - Mendengar nama Dato Sri Tahir, bagi sebagian orang mungkin sudah tak asing lagi. Ia adalah salah satu orang terkaya di Indonesia dengan kekayaan US$4,5 miliar atau setara dengan Rp63.8 triliun, bila dengan kurs Rp14.400.

Konglomerat tersebut memiliki empat orang anak, sebanyak tiga di antaranya perempuan, sedangkan seorang lagi laki-laki bernama Jonathan Tahir.

Seperti dilansir dari DetikFinance, Jonathan menceritakan rasanya menjadi anak salah satu orang terkaya di Indonesia.

"Kalau orang kaya pasti banyak. Tapi mungkin saya bilang Pak Tahir adalah orang yang mampu. Saya pikir ini satu adalah bagus karena ini bisa memberikan kita opportunity atau kesempatan untuk melakukan berbagai hal yang memberikan dampak positif kepada Indonesia," ungkap Jonathan di Mayapada Tower, Jakarta pada pertengahan pekan ini seperti dilansir DetikFinance.

"Saya pikir itu membuat kita memiliki suatu platform dan kemampuan untuk bisa berbuat baik untuk negara dan juga masyarakat," sambungnya lagi.

Jonathan pun menjelaskan maksud pernyataannya. Kata dia, sebagai anak dari orang yang memiliki kelebihan materil artinya memberikan kesempatan baginya untuk juga memberikan bantuan yang lebih terhadap orang yang membutuhkan.

"Kita diberikan sesuatu itu ya kita harus melakukan kebaikan. With great power comes great responsibility," tutur Komisaris Utama dari Mayapada Healthcare tersebut.

Namun, niat baik keluarganya pun pernah dipertanyakan. Jonathan mengatakan, ada beberapa orang yang heran akan perbuatan ayahnya yang sangat banyak melakukan kegiatan amal.

"Ada orang bertanya pada saya. Kamu keberatan nggak sih, kok bantu orang banyak banget sih? Pak Tahir duitnya banyak banget buat orang? Bagi saya itu nggak pernah masalah. Asal tujuannya adalah untuk membantu orang, membantu Indonesia, saya tidak punya hak itu mengatakan `Pak Tahir, jangan`, itu saya tidak ada hak sama sekali," demikian curahan hati Jonathan.

Selain itu, Jonathan mengungkapkan sebagai anak laki-laki satu-satunya ia harus memikul beban yang cukup berat di usianya yang masih belia.

"Dengan responsibility yang besar dan saya masih muda pun, ya seram juga. Itu saya tidak bohong, masuk pertama tanggung jawab saya sudah besar, karena biasanya kan orang masuk pertama itu mulai dari sedikit-sedikit dulu kan. Saya langsung saja ini diberikan tanggung jawab besar untuk menangani suatu hal dengan keputusan saya," terang Jonathan.

Hal tersebut ia katakan sebagai tradisi Tionghoa yang memiliki kecenderungan untuk anak laki-laki satu-satunya meneruskan bisnis keluarga.

Terakhir, menurutnya ada tantangan besar yang harus ia hadapi, yakni mengembangkan bisnis keluarganya yang sudah dibesarkan seperti saat ini oleh ayahnya.

"Saya pikir tantangan terbesar itu saya harus memastikan bahwa Pak Tahir ini kan sudah achieve berbagai hal. Tugas saya itu satu adalah, pasti saya tidak boleh membuat perusahaan ini berada di bawah daripada apa yang saya terima, itu satu. Kedua, menurut saya bukan hanya cukup untuk menjaganya. Otomatis hal terberat adalah untuk bagaimana bisa menumbuhkan lagi," tandas pria kelahiran 1987 tersebut.

(Annisa\Editor)
Share:


Berita Terkait

Komentar