Jumlah Korban Bencana Indonesia pada 2018 Paling Tinggi se-Dunia

Jum'at, 02/08/2019 09:18 WIB
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) Pusat, Letnan Jendral Doni Monardo

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) Pusat, Letnan Jendral Doni Monardo

Jakarta, law-justice.co - Indonesia ada di posisi pertama terkait jumlah korban bencana pada 2018. Hal ini diungkap Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo.

Artinya menurut Doni, kondisi ini membuktikan bahwa Indonesia jadi negara yang paling banyak memakan korban dalam urusan kebencanaan sepanjang tahun lalu. Padahal pada tahun-tahun sebelumnya, peringkat pertama diduduki Haiti.

Dilansir dari CNN Indonesia, pada 2018 jumlah korban terdampak bencana di Indonesia mencapai lebih dari 160 ribu orang.

Sementara, selama 20 tahun terakhir Indonesia menempati peringkat kedua jumlah korban terbanyak, dengan posisi pertama ditempati oleh Haiti.

"Tahun lalu (2018) Indonesia berada pada peringkat pertama korban jiwa akibat bencana, ini data. Marilah kita lihat data bahwa negara kita adalah negara dengan korban jiwa terbanyak di dunia pada tahun kemarin," kata Doni di Gedung BNPB, Jakarta Timur pada Kamis (1/8/2019) dilansir CNN Indonesia.

Sementara, selama 20 tahun terakhir Indonesia menempati peringkat kedua jumlah korban terbanyak--dengan posisi pertama ditempati oleh Haiti.

"Tahun kemarin kita pada posisi pertama. Korban kita lebih dari 160 ribu orang kalau dihitung-hitung 20 terakhir ini korban bencana itu lebih besar dibandingkan daripada korban karena sebuah peperangan di beberapa negara," ungkapnya.

Karenanya untuk mengatasi bencana ini kata Doni pemerintah tak dapat bekerja sendirian. Diperlukan kerja sama bukan hanya dengan stakeholder terkait tetapi juga seluruh masyarakat.

"Lantas apa yang perlu kita lakukan untuk bisa melindungi menyelamatkan bangsa dan rakyat kita? Pemerintah tidak mungkin bisa bekerja sendirian," kata dia.

Kerja sama ini kata Doni bisa dimulai dengan dunia usaha yang lebih memperhatikan lokasi pembangunan tempat usaha mereka. Para pengusaha perhotelan misalnya harus memperhatikan titik patahan di setiap lokasi.

Pembangunan gedung juga menurut Doni harus memperhatikan kawasan rawan gempa hingga tsunami.

Ia mencontohkannya dengan peristiwa gempa bumi di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Sulawesi Tengah yang terjadi beberapa bulan lalu. Saat kejadian berlangsung sejumlah bangunan roboh hingga menimpa masyarakat dan menyebabkan banyaknya korban.

"Kita lihat data di NTB, rumah yang bangunan yang rusak total 220 ribu. yang rusak berat itu 70 ribu sekian. Itu baru rumah saja, belum rumah sakit, jembatan, puskesmas, rumah ibadah," katanya.

"Di Sulteng, rumah yang rusak itu mencapai lebih dari 110 ribu unit. 33 ribu lebih itu rusak berat. Jadi ini pun yang menimbulkan korban jiwa itu adalah bukan gempanya, tetapi bangunan yang menimpa masyarakat kita," lanjut dia lagi.

Menurut data BNPB, pada 2017 terjadi 2.862 bencana. Setahun kemudian, terjadi 2.426 bencana. Namun, dari segi korban meninggal dunia dan hilang, jumlahnya melonjak drastis dari 378 korban menjadi 4.231 korban.

(Annisa\Editor)
Share:


Berita Terkait

Komentar