Cerita Orangtua Amelia, Lulusan IPB yang Tewas Mengenaskan

Rabu, 24/07/2019 11:33 WIB
Ilustrasi Pembunuhan (Grid.id)

Ilustrasi Pembunuhan (Grid.id)

Jakarta, law-justice.co - Enang Supandi (52) tak menyangka, Sabtu (20/7/2019) akhir pekan lalu merupakan pertemuan terakhir dengan anaknya, Amelia Nurul Supandi (22).

Setelah itu ia kehilangan kontak dengan putrinya. Hingga kemudian mendapat kabar duka, Amelia ditemukan tewas mengenaskan di Kampung Surasa, Kelurahan Babakan, Kecamatan Cibeureum, Kota Sukabumi pada Senin (22/7/2019).

Seperti dilansir Tribun Jabar, jenazah lulusan D3 Institut Pertanian Bogor (IPB) itu ditemukan di pinggir sawah dalam kondisi setengah telanjang.

Amelia diidentifikasi sebagai warga Cianjur yang tinggal di Gang Mulus Tornado, Jalan Prof Moch Yamin, RT 2/9, Kelurahan Sayang, Kecamatan Cianjur. Jenazahnya langsung dibawa ke Cianjur setelah diautopsi Kepolisian Sukabumi.

Jenazah tiba Selasa (23/7/2019) tengah malam dan langsung disambut Isak tangis oleh keluarga.

Ditemui selesai melakukan acara pemakaman, duka mendalam masih terlihat dirasakan orangtua Amelia. Ayah Amelia, Enang Supandi mengungkapkan terakhir anaknya pamit untuk berangkat ke Bogor pada Sabtu (20/7/2019) menjelang Ashar.

"Ia berangkat menjelang Ashar dan pamit akan salat di masjid sekitar Panembong di mana ada angkutan umum L300 yang biasa ia naik menuju Bogor," kata Enang ditemui di rumah duka, Selasa (23/7/2019).

Anaknya minta izin untuk mengambil persyaratan melanjutkan kuliah ke jenjang sarjana di Bogor. Kata Enang, Amelia berniat kuliah di Universitas Juanda karena di kampus tersebut terdapat program yang sama.

"Sabtu kemarin ia berangkat setelah makan menuju perempatan untuk naik angkutan umum menuju Bogor dari Panembong," kata Enang.

Enang mengatakan, ia menginap di rumah temannya pada Sabtu malam.

Pada Minggu (21/7/2019), anaknya mengabarkan akan pulang. Ia sempat berpesan agar anaknya tak pulang terlalu malam.

"Malam Senin mengabarkan mau pulang, sempat dichat jangan pulang malam-malam, ia mengabarkan lagi makan di warteg bersama temannya, lalu sekitar pukul setengah tujuh temannya mengantar sampai ke Botani Square dari situ anak saya sempat mengabarkan lagu naik angkutan ke Ciawi," tuturnya.

Setelah dari Ciawi, lanjut Enang, ia kehilangan kontak dengan anaknya. Saat itu diperkirakan pukul 20.00 WIB.

"Di Ciawi yang menjadi misteri bagi saya hingga saya kehilangan kontak dengannya."

Hingga larut malam Enang diselimuti kecemasan, pasalnya anaknya selalu mengabari ke mana pun ia pergi. Paginya, Enang lantas melapor ke Polres Cianjur.

Langkah tersebut diambil karena tak kunjung mendapat kabar dari anaknya.

"Baru sampai rumah, lalu datang polisi dari Sukabumi mengonfirmasi. Katanya menemukan korban pembunuhan dilihat dari sidik jari, namanya sama dengan anak saya, saya langsung lemas."

Enang mengatakan, setelah lulus dari D3 IPB anaknya saat ini bekerja di pabrik Pou Yuen sambil menunggu pendaftaran program sarjana di Universitas Juanda.

(Annisa\Editor)
Share:


Berita Terkait

Komentar