Bisnis Media Harus Adaptif Hadapi Revolusi Industri 4.0

Selasa, 23/07/2019 16:00 WIB
Menghadapi era revolusi industri 4.0 atau biasa kita sebut sebagai era digital, menjadi tantangan positif bagi bisnis media. (Winna Wijaya/law-justice.co)

Menghadapi era revolusi industri 4.0 atau biasa kita sebut sebagai era digital, menjadi tantangan positif bagi bisnis media. (Winna Wijaya/law-justice.co)

Jakarta, law-justice.co - Menghadapi era revolusi industri 4.0 atau biasa kita sebut sebagai era digital, menjadi tantangan positif bagi bisnis media. Sebab tugas media bakal lebih gampang dalam menyebarluaskan informasi ke masyarakat luas.

Namun yang perlu disoroti adalah mengenai kesiapan dari bisnis media itu sendiri. Ketua Dewan Pers, Muhammad Nuh, beranggapan bahwa media perlu adaptif dan inovatif terhadap kemajuan teknologi yang kini sedang berkembang.

"Siapapun yang ngga mau berubah, ya selesai. Ke depan melekat teknologi pada setiap seseorang. Kalau kita ingin memberikan sesuatu pada orang lain, pertimbangan yang kita miliki atau pada yang dibutuhkan sama orang? Jawaban terbaik adalah sesuai kebutuhan orang," kata Nuh dalam acara diskusi "Bisnis Media pada Revolusi Industri 4.0" dalam rangka memperingati 31 tahun Lembaga Pers Doktor Soetomo (LPDS) di Gedung Dewan Pers, Jakarta Pusat, Selasa (23/7).

Sementara Direktur Utama PT Tempo Inti Media, Thoriq Hadad, menyepakati bahwa kecanggihan teknologi masa kini merupakan alat yang patut disyukuri oleh industri media.

"Saya kira harus sejalan dengan pemerintah. Ada proyek Palapa ring. Kita lupakan saja media punya tanggungjawab menyebarkan media cetak sampai ke pelosok. Melainkan bagaimana media memanfaatkan jaringan yang dibangun pemerintah untuk menyampaikan informasi," jelas Thoriq.

"Era digital ini sangat memberikan manfaat bagi media untuk menunaikan pemberian informasi yang baik kepada publik," imbuhnya.

Hanya saja kini memang tidak semua wilayah sudah tersentuh jaringan internet. Bahkan di Pulau Jawa pun yang tergolong maju pembangunannya masih banyak yang belum menikmati jaringan internet.

Wakil Pemimpin Redaksi Harian Kompas, Tri Agung Kristanto, menyikapi persoalan adaptasi industri bukan lagi terletak dalam lokalitas. Menurutnya revolusi industri 4.0 terlanjur menyentuh orang atau komunitas. Sehingga mendapati kelemahan berupa implementasi yang sangat personal.

"Itu kekuatan dan kelemahan. Tidak pernah ada gadget ditempel di kelurahan. Media bertugas membangun kesadaran agar masyarakat maju dan berkembang bersama. Tanggungjawab utama media pada masyarakat. Mendorong mereka yang tidak tersentuh digital menjadi tersentuh," tutup Tri Agung.

(Winna Wijaya\Editor)
Share:


Berita Terkait

Komentar