Tambang Berlian Terbesar di Dunia Segera Tutup

Minggu, 14/07/2019 20:18 WIB
Tambang Argyle di Australia segera tutup (foto: jewellery editor)

Tambang Argyle di Australia segera tutup (foto: jewellery editor)

Jakarta, law-justice.co - Tambang berlian terbesar di dunia – lebih dikenal karena memproduksi sejumput berlian pink dan merah yang mahal ketimbang penghasil utama batu berkualitas rendah – akan ditutup oleh Rio Tinto Grup setelah beroperasi selama lebih dari empat dekade. Para pesaing dari Rusia dan Kanada berharap penutupan ini dapat mendongkrak harga berlian yang anjlok sejak 2011.  

Tambang Argyle milik Rio Tinto yang berlokasi di daerah terpencil di Australia bagian Barat telah bertransformasi sejak 1983 ketika mereka mulai memasok berlian ke pasar. Produksi di Tambang Argyle yang terletak sekitar 2.600 km dari Ibu Kota Perth, Australia dijadwalkan akan berakhir sebelum akhir tahun depan setelah lelah memasok sekian lama, kata Arnaud Soirat, Head of Copper and Diamonds Rio.

“Akan ada sedikit pasokan yang akan kami keluarkan ke pasar. Pada akhir 2020, kami akan mulai menghentikan operasi dan memulai rehabilitasi pertambangan,” katanya dikutip dari Bloomberg, Jumat (12/7).

Tambang Argyle terkenal sebagai pemasok utama atau sekitar 90% pasokan berlian pink yang memiliki harga tertinggi dari seluruh jenis berlian. Sebagai gambaran, pada April 2017, Sotheby’s pernah melelang berlian pink yang ditambang saingan Rio, De Beers seharga US$ 71 juta.

Argyle juga merupakan produsen berlian terbesar di dunia berdasarkan volume produksinya. Ini yang membuat Argyle menjadi pusat kelebihan pasokan berlian di dunia. Sayangnya, tiga perempat dari produksi di Argyle memproduksi berlian cokelat yang bernilai rendah.

Secara total, rata-rata produk berlian di Argyle berharga US$ 15 hingga US$ 25 per karat, jauh di bawah harga rata-rata De Beers senilai US$ 171 per karat.

Kelebihan pasokan berlian murah ini pada tingkat selanjutnya juga turut mengikis pendapatan pelaku industri pendukungnya. Mulai dari pemotong, pemoles, hingga penjual. Bahkan pada Desember 2018 lalu, beberapa pelanggan Rio menolak membeli pasokan berlian murah.

Meski demikian, karena permintaan terhadap berlian sendiri sejatinya stabil, penurunan produksi yang ditandai dengan penutupan Tambang Argyle diprediksi bisa kembali menaikkan harga berlian. Beberapa pelaku industri lain pun optimistis kenaikan harga akan terjadi.

(Rin Hindryati\Rin Hindryati)
Share:


Berita Terkait

Komentar