Ekonomi Indonesia Lesu karena Kredit Macet

Rabu, 10/07/2019 14:30 WIB
Ilustrasi ekonomi lesu (San Yang Tax Consultants)

Ilustrasi ekonomi lesu (San Yang Tax Consultants)

Jakarta, law-justice.co - Peneliti Institute For Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira Adhinegara menilai tingginya undisbursed loan atau fasilitas kredit yang belum dicairkan nasabah di perbankan mencerminkan lambatnya perekonomian nasional.

Hal ini karena permintaan pencairan kredit yang rendah, risiko dunia usaha yang masih tinggi. Pengusaha yang masih wait and see karena risiko luar maupun dalam negeri.

Suku bunga yang tinggi juga membuat pengusaha agak malas mencairkan kredit karena ini akan mempengaruhi biaya pinjaman.

Bank juga waspada dengan risiko rasio kredit bermasalah.

"Jadi bisa disimpulkan memang terjadi perlambatan ekonomi yang menaikkan tingkat risiko," kata Bhima seperti dikutip dari Detik.com Selasa (9/7/2019).

Dia mengungkapkan, undisbursed loan ini akan turun dengan sendirinya jika siklus ekonomi dalam masa pemulihan. Karena itu, memang harus menunggu perkembangan ekonomi global dan domestik.

Statistik perbankan Indonesia (SPI) periode April 2019 mencatat undisbursed loan atau kredit yang belum dicairkan oleh nasabah tercatat Rp 1.564 triliun angka ini meningkat sekitar 6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp 1.474 triliun.

Pada April 2019, kredit yang diberikan tercatat Rp 5.363 triliun. Ini artinya jumlah kredit yang masih nganggur di perbankan ada sekitar 29,4% dari keseluruhan kredit. Angka ini terdiri dari kredit yang sudah commited Rp 370 triliun dan yang uncommitted Rp 1.194 triliun.

(Regi Yanuar Widhia Dinnata\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar