Cukai Plastik Rp200 per Lembar, Rp30.000 per Kg Dinilai Relevan

Rabu, 03/07/2019 19:08 WIB
Kantong Plastik (AyoBandung.com)

Kantong Plastik (AyoBandung.com)

Jakarta, law-justice.co - Direktur Jenderal Bea Cukai, Heru Pambudi menyebutkan tarif cukai yang diusulkan kepada Komisi XI DPR saat ini, yaitu Rp 30 ribu per kilogram atau sebesar Rp 200 per lembar telah sesuai dengan kemampuan produsen plastik dan masyarakat. Selain itu, dia percaya dengan adanya cukai ini dapat mengendalikan jumlah sampah plastik sehingga dapat mengurangi dampak terhadap lingkungan.

"Itu kalau kita melihat best practice di internasional," ujar dia di Kantor Pusat Bea Cukai, Jakarta, Rabu (3/7/2019).

Heru lantas membandingkan tarif usulan itu dengan penerapan di sejumlah negara. Ada negara yang mematok tarif lebih rendah dari Indonesia, ada pula yang menetapkan lebih tinggi.

Misalnya saja Vietnam yang mematok tarif Rp 24.900 per kilogram, Kenya di kisaran Rp 19 ribu-Rp 16 ribu, Malaysia Rp 63 ribu per kilogram, hingga Filipina yang mengkaji harga sebesar sekitar Rp 120 ribu per kilogram.

Menurut Heru, angka ini diambil pemerintah setelah mempertimbangkan beberapa alasan. Salah satunya adalah soal pengendalian konsumsi untuk mengurangi dampak terhadap lingkungan hidup. Tarif cukai itu mesti berimbas pada penurunan produksi dan konsumsi di masyarakat.

Di sisi lain, kata Heru, plastik masih menjadi kebutuhan masyarakat. Jadi jangan sampai penerapan cukai plastik itu justru menghilangkan kesempatan bisnis dan berusaha serta mengganggu pemenuhan kebutuhan masyarakat.

"Karena itu kami ambil titik tengah, kepentingan industri dan kepentingan lingkungan hidup," ujarnya.

Dengan segala pertimbangan itu, Heru mengatakan bahwa besaran tarif Rp 200 per lembar adalah yang paling relevan. Angka tersebut juga sesuai dengan apa yang sudah diimplementasikan di pasar retail sekarang. Saat ini, ujar dia, sudah banyak toko yang mematok tarif Rp 200  hingga Rp 500 per lembar plastik.

"Tentunya ini kami akan review naik turunnya, yang paling penting adalah kita harus monitor produksi dan konsumsinya," tutur Heru.

"Keberhasilan daripada cukai ini tentunya diukur dari seberapa jauh penggunaan plastik itu bisa kita kurangi dan seberapa jauh masyarakat bisa sadar dan mengganti di luar plastik."

Seperti diketahui usulan tarif cukai dari Kementerian Keuangan ini belum disetujui oleh DPR. Lembaga legislatif tersebut mengaku perlu pendalaman lebih lanjut terkait tarif cukai ini.


Sumber: Tempo.co

(Regi Yanuar Widhia Dinnata\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar