Surat Menteri Rini Ini Bikin 7 Perusahaan Tambang Raksasa Merana

Minggu, 23/06/2019 17:12 WIB
Tambang batu bara (Foto: YouTube)

Tambang batu bara (Foto: YouTube)

Jakarta, law-justice.co - Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), ada 7 perusahaan tambang batu bara yang akan habis atau terminasi dalam waktu dekat. Tanito Harum menjadi yang pertama.

Sebagaimana yang dilansir dari CNBC, ketujuh pemegang PKP2B (Perjanjian Karya Pertambangan Batu Bara) generasi pertama itu adalah:

1. PT Tanito Harum yang habis di Januari 2019
2. PT Arutmin Indonesia pada 2020
3. PT Adaro Energy pada 2022
4. PT KPC pada 2021
5. PT Multi Harapan Utama pada 2022
6. PT Kideco Jaya Agung pada 2022
7. PT Berau Coal pada 2025.

7 Tambang batu bara ini menginginkan ada kepastian perpanjangan segera untuk merencanakan pengembangan proyek mereka. Namun, akibat surat yang ditulis oleh Menteri BUMN Rini Soemarno pada Maret lalu ke Sekretariat Negara yang intinya meminta BUMN diprioritaskan, nasib perpanjangan 7 raksasa batu bara ini pun jadi digantung.


Berikut profil masing-masing perusahaan

Tanito Harum

Tanito Harum bergerak di bidang penambangan batubara. Perusahaan ini mengoperasikan tambang batubara di Samarinda di Kalimantan Timur, Indonesia. Perusahaan didirikan pada tahun 1988 dan berpusat di Jakarta Pusat, Indonesia.

Struktur organisasi perusahaan yakni, Kiki Barki (President Director), Lawrence Barki (Managing Director), H Kirtiadi (Executive Director), Eddy Sumarsono (General Manager) (Site), J Kosashi (Shipping & Adm. Manager) (Site)

Pemegang sahamnya yakni Kiki Barki (75 %) (Indonesia) dan Anita Barki (25 %) (Indonesia)

MINING AREA

Sukodadi, Pondok, Busang
Caloric Value ADB : 6,310-6,680 kcal/kg
Total Sulphur : 0.17-0.31%
Ash : 2-5%

Sebulu, Sigihan, Ketapang
Caloric Value ADB : 6,687-7,263 kcal/kg
Total Sulphur : 1-2 %
Ash : 3-7 %

Kutai Kertanegara
Caloric Value ADB : 5,900 kcal/kg
Total Sulphur: (adb) 0,7%
Ash: (adb) 7%

Arutmin

PT Arutmin Indonesia (Arutmin) adalah perusahaan batubara terkemuka yang beroperasi berdasarkan Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) dengan pemerintah di area konsesi seluas total 57.107 hektar.

Operasi penambangan Arutmin tersebar di tiga kabupaten yang berbeda, yaitu Tanah Bumbu, Tanah Laut, dan Kota Baru, di Kalimantan Selatan. Saat ini Arutmin beroperasi di lima lokasi penambangan, Tambang Senakin, Tambang Satui, Tambang Kintap, Tambang Asam Asam, dan Tambang Batulicin. Perusahaan juga memiliki terminal batubara berstandar internasional bernama Terminal Batubara Pulau Utara (NPLCT).

Di tahun ini, PT Arutmin Indonesia menargetkan total volume produksi batu bara tahun ini sebesar 32 juta, atau meningkat sebesar 18% dari periode tahun lalu. Produksi batu bara perusahaan pada tahun lalu hanya 27 juta ton.

Artumin akan memasok batu bara untuk kebutuhan nasional (Domestic Market Obligation/DMO) sebesar delapan juta ton pada 2019. Tahun lalu perusahaan juga sudah memenuhi DMO sebesar 25% dari total produksi.

Adaro Energy

PT Adaro Energy Tbk adalah perusahaan yang berbasis di Indonesia yang bergerak di bidang penambangan batubara terintegrasi melalui anak perusahaannya.

Kegiatan bisnisnya meliputi penambangan, pengapalan, pemuatan kapal, pengerukan, layanan pelabuhan, pemasaran dan pembangkit listrik. Perusahaan menghasilkan batubara termal dari lokasi penambangannya yang berlokasi di Kalimantan Selatan, Indonesia.

Batubara dipasarkan dengan merek Envirocoal. Anak perusahaannya termasuk PT Alam Tri Abadi dan PT Saptaindra Sejati.

Di 2018, mencatatkan kenaikan tipis produksi batu baranya di 2018. Perseroan mencatat hingga akhir tahun lalu membukukan produksi hingga 54,04 juta ton.

Produksi ini naik 4,34% dibanding tahun 2017 yang sebanyak 51,79 juta ton. "Produksi ini sesuai dengan panduan yang ditetapkan 54-56 juta ton di 2018," tulis perusahaan dalam keterangan tertulisnya, Senin (11/2/2019).

Sementara untuk penjualan, di 2018 naik 5% menjadi 54,39 juta ton dari 51,82 juta ton di 2017. Untuk kuartal IV 2018, Adaro memproduksi batu bara sebanyak 15,61 juta ton dan penjualan 15,2 juta ton atau naik hingga 22% dibanding periode serupa di 2017.

Sementara untuk 2019, perusahaan masih menargetkan produksi serupa di kisaran 54 juta ton hingga 56 juta ton dengan EBITDA operasional US$ 1 miliar-US$ 1,2 miliar dan belanja modal US$ 450 juta hingga US$ 600 juta.

Penjualan batu bara perusahaan di 2018 masih didominasi oleh pembeli di kawasan Asia Tenggara 40%, Asia Timur 30%, India 14%, China 11%, dan lainnya 5%.

Kaltim Prima Coal (KPC)

Berlokasi di Sangatta, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, tambang batu bara bernama Kaltim Prima Coal (KPC) membentang seluas 84.938 hektar yang berdiri sejak 1982. Pada 2003, tambang ini diambil alih kepemilikannya oleh PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sebanyak 100%.

Saat ini, kepemilikan BUMI di KPC 51%, sebanyak 30% dimiliki oleh Tata Power asal India, dan 19% dimiliki oleh China Investment Cooperation (CIC).

Tahun lalu produksi batu bara KPC sekitar 58 juta ton. Di tahun ini, produksi akan ditingkatkan menjadi sekitar 60-62 juta ton.

Di 2018, KPC merajai produksi batu bara secara nasional. Dengan produksi sekitar 58 juta ton, KPC menyumbang sekitar 11% dari produksi batu bara nasional yang pada tahun lalu mencapai 528 juta ton.

Direktur Independen BUMI Dileep Srivastava, mengatakan tahun lalu KPC menyumbang pajak dan royalti ke negara hingga US$ 1,5 miliar.

Jumlah sumber daya batu bara KPC mencapai 7,055 miliar ton dengan cadangan 1,178 miliar ton. Dari cadangan tersebut, sebanyak 948 juta ton di Sangatta dan 230 juta ton di Bengalon.

Tambang raksasa batu bara ini juga memiliki pelabuhan sendiri untuk mengirimkan batu bara langsung ke para pembelinya. Untuk listrik, tambang KPC di Sangatta memiliki pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berkapasitas 3x18 MW dan 2x5 MW.

PLTU ini sebanyak 18 MW diberikan KPC kepada PLN untuk melistriki warga di Sangatta. Pembangkit ini juga menggerakkan conveyor yang berfungsi mengirim batu bara dari tempat pengolahan batu bara mentah menuju ke pelabuhan.

Multi Harapan Utama

PT Multi Harapan Utama (MHU) adalah kontraktor yang ditunjuk oleh Pemerintah Republik Indonesia untuk melakukan kegiatan penambangan batubara (eksplorasi dan operasi produksi), berdasarkan Perjanjian Kerjasama No. 086 / Ji / 292 / U 1986, tanggal 31 Desember 1986 (atau lebih dikenal dengan Kontrak Karya Batubara.

Perjanjian ini milik Generasi Pertama CCoW. Wilayah operasi MHU terletak di Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur.

Kideco Jaya Agung

Kideco adalah tambang batubara terbesar ketiga di Indonesia. Didirikan pada tahun 1982 sebagai perusahaan yang berspesialisasi dalam pengembangan sumber daya, KIDECO mengoperasikan Tambang Pasir yang merupakan tambang tunggal terbesar ketiga di Indonesia.

Setelah hampir 10 tahun persiapan termasuk penyelidikan tambang dan uji validitas dari awal 1980-an hingga awal 1990-an, KIDECO membuka Tambang Pasir.

Dimulai dengan 3 juta ton produksi komersial batubara pada tahun 1993, volume produksi mencapai lebih dari 300 juta ton pada Mei 2013 melalui ekspansi infrastruktur dan peningkatan sistem penambangan yang berkelanjutan. Tambang Pasir sekarang menghasilkan 40 juta ton batubara setiap tahun.

Berau Coal

DeskripsiBerau Coal merupakan sebuah perusahaan multinasional yang menghasilkan berbagai macam produk tambang. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1983. Bermarkas di Berau, Indonesia. Perusahaan ini umumnya menghasilkan produk tambang seperti batu bara.

Perusahaan pernah mencatatkan produksi sebesar 15,6 juta ton di 2018, dan melakukan ekspor 11,8 juta ton batu bara di tahun yang sama.

(Annisa\Editor)
Share:


Berita Terkait

Komentar