Kiprah Anarko-Sindikalisme (Tulisan-2)

Kaum Milenial Lebih `Sreg` dengan Gerakan Anarko

Jum'at, 14/06/2019 16:43 WIB
Anti kemapanan (foto: Robinsar Nainggolan/Law-justice.co)

Anti kemapanan (foto: Robinsar Nainggolan/Law-justice.co)

Jakarta, law-justice.co - Polisi telah memeriksa sebagian besar anak muda yang terlibat dalam aksi memancing rusuh saat peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day 2019. Mereka adalah pelajar, mulai dari tingkat SMP hingga mahasiswa. Sesuai perkembangan psikologis, mereka kalangan yang sedang mencari identitas diri. Jiwa muda yang meletup-letup dan hasrat untuk menabrak tatanan sosial, aturan, dan norma cocok mereka salurkan lewat kelompok pengusung ideologi yang sejalan. Dalam hal ini, gerakan anarko.

Ketertarikan kaum muda pada ideologi anarkisme merupakan fenomena yang senantiasa tumbuh tenggalam dalam sejarah. Di Indonesia, menurut sejumlah literatur, paham anarkisme mulai tumbuh kembali pada akhir 1980-an. Kebanyak pegiatnya masuk melalui musik punk-rock.  Salah seorang aktifis aliran musik punk yang telah pensiun dan kini hijrah menjadi seorang muslim taat mengatakan musiknya sekian lama anti mainstream.

“Kita dulu underground. Anti banget sama yang namanya media-media. Prinsip kita, Do it Yourself (D.I.Y),” kata Richard Stephen Gosal yang berganti nama menjadi Muhammad Thufail Al Ghifari sejak masuk Islam tahun 2002,  kepada Law-justice.co.  D.I.Y adalah prinsip anak-anak punk yang mengusung konsep kebebasan. Mereka menyebut diri anti-fashion dan bersemangat do it yourself.

“Nampaknya saat itu ideologi anarko belum ditemukan,” ucap Rahung Nasution alias Coki, salah seorang pentolan gerakan anarko di Bandung yang kini lebih banyak menggeluti dunia kuliner. “Dinamika terjadi justru ketika udah gabung dengan PRD [Partai Rakyat Demokratik].  “Ada literatur yang diharamkan di PRD. Ya, sebagian orang penasaran dan mulai baca-baca. Itu yang terjadi,” jelas pria beranak satu yang sekarang telah menjadi selebriti media sosial.

Sebelumnya bernama Persatuan Rakyat Demokratik, PRD dibidani  sejumlah intelektual dan aktifis muda khususnya mahasiswa. Kegelisahan terhadap sistem pemerintahan yang militeristik mendorong mereka melakukan perlawanan dengan menempuh jalur ekstraparlementer. Sejak awal berdiri, partai berlambang bintang-gerigi ini sudah menempatkan diri sebagai oposisi terhadap pemerintah otoriter Orde Baru-nya Jenderal (purnawirawan) Soeharto.

 
Pas bagi kaum muda (foto: Robinsar Nainggolan/Law-justice.co)

Para pegiat gerakan anarko mengangap PRD merupakan wadah yang pas dalam mewujudkan cita-citanya yakni menciptakan masyarakat tanpa strata politik, ekonomi, dan sosial. Namun belakangan mereka kecewa karena PRD mulai ketat mengendalikan komite-komite mahasiswa dan buruh.

“Teman-teman anarko banyak yang keluar setelah itu. Mereka kemudian mengorganisir buruh dan anak-anak punk, khususnya di Bandung, Jakarta, dan Yogya. Tahun 1999 mereka membentuk gerakan dan jaringan Anti Fasis Nusantara atau Antifa,” jelas videografer yang sekujur tubuhnya—dari kepala hingga kaki—bertato.  

Anarko yang baru-baru ini muncul di Bandung dan di sejumlah kota saat May Day, menurut dia, merupakan pengembangan gerakan yang sebelumnya. “ Yang saya tahu teman-teman anarko yang masih eksis ada di gerakan rakyat Kulon Progo dan gerakan buruh di Bandung.”

Untuk lebih  memahami pola gerakan anarko di negeri kita  Law-justice.co mewawancarai Eko Prasetyo, Direktur Social Movement Institute dan Resistbook. Pengamat gerakan mahasiswa, lelaki yang bermukim di Kota Gudeg, Yogyakarta,  ini populer di kalangan mahasiswa yang  gemar dengan wacana kiri. Berikut tuturan penulis buku Bangkitlah Gerakan Mahasiswa dan Islam Kiri.

***

Bagaimana sejarah gerakan anarko di Indonesia?

Munculnya gerakan-gerakan anarko dan sejenisnya setidaknya disebabkan oleh 3 faktor yang mendukung.

Pertama, kampus tengah mengalami proses mekanisasi yang luar biasa, dimana gerakan-gerakan ideologis mulai lumpuh. Kalaupun ada, gerakan mahasiswa tidak bisa mengartikulasikan tuntutan-tuntutan politik mereka ke kampus. Upaya protes terhadap kebebasan akademik tidak bisa dijalankan dengan baik. Selalu saja ada pemberedelan dan pemberangusan diskusi sehingga sekan-akan kampus tidak memiliki kebebasan akademik. Sehingga munculah gerakan-gerakan seperti itu sebagai sebuah alternatif yang ekstrim.

Kedua, hilangnya kampus dalam dunia advokasi di masyarakat. Kampus semakin dituduh sebagai agen kapitalisme yang selalu mengabsahkan pembangunan yang sangat eksploitatif. Kita bisa ambil contoh, sering terjadi kasus lingkungan dimana kampus sebagai perumus AMDAL [analisa dampak lingkungan]-nya. Itu membuat upaya perlawanan yang dilakukan kemudian menjadi gerakan alternatif seperti anarko. Karena merekalah yang bisa mengartikulasikan protes secara langsung. Melibatkan persoalan-persoalan kemanusiaan ke tengah arena akademik. Hanya mereka yang berani terang-benderang seperti itu.

Ketiga, mungkin ini sebagai bentuk arus frustasi dari mahasiswa yang para alumninya banyak berkhianat pada idealisme. Banyak di antara mereka yang kecewa pada seniornya. Dulu mengagungkan gerakan kiri, sekarang enggak lagi. Kekecewaan itu membuat gerakan anarko menjadi sebuah alternatif, karena mereka berani mengguncang status quo. Model gerakan seperti ini sangat diminati oleh anak muda.

Mengapa bisa begitu?

Ciri utama Anarko adalah menentang hierarki. Untuk anak-anak milenial, kelompok ini menjadi alternatif karena semua orang bisa menjadi koordinator, semua orang bisa berinisiatif. Pola seperti itu yang membuat kelompok ini sangat diminati.

Dan memang, situasi kultural dan politik yang ada saat ini memberikan dukungan. Kalau kita lihat, pada semua yang memiliki hierarki pasti akan bermasalah di level kepemimpinan pusat. Semua gerakan pada dasarnya akan mengalami pembusukan, seperti yang dikritik anarko.

Saya rasa, ini satu kampanye yang relatif berhasil karena mereka mengkritik iklim umum dari gerakan apa pun. Mereka menyuarakan hal yang sama, bahwa banyak elit pemimpin gerakan itu telah berkhianat dan mengecewakan.

 
Eko Prasetyo, Direktur Social Movement Institute dan Resistbook (foto: Januardi Husin/Law-justice.co)

Itu suatu kampanye politik yang relatif efektif. Mereka seperti menyoroti personal-personal para pembina sebuah gerakan. Seperti mencoba untuk mengkritik gerakan yang meletakkan standar idealisme pada seseorang dan itu kemudian menghancurkan gerakan tersebut secara umum.

Singkatnya, mereka mencoba untuk mengangkat sentimen moral itu ke permukaan. Biasanya, gerakan seperti itu lebih mudah untuk menimbulkan simpatik dan dukungan publik.

Selain itu, mereka bisa dibilang kecewa pada ideologi negara yang dianggap sebagai sebuah kekuatan inheren untuk perubahan. Pada konteks Indonesia, mungkin mereka tidak percaya pada sistem negara ini.

Atau, paling tidak, mereka mencoba alternatif di luar demokrasi, yang tampak mengecewakan ini. Selama tidak ada pilihan alternatif, kelompok seperti anarko ini selalu diperhitungkan dan diminati karena mereka berani melucuti instrumen demokrasi.

Wacana seperti itu pada dasarnya sudah dikemukakan oleh tokoh-tokoh seperti Mikhail Bakunin atau Friedrich Nietzsche. Kedua orang itu mencoba mengemukakan bahwa mereka tidak percaya pada hierarki dan pada tatanan yang mengarah pada sebuah penyeragaman.

Sekali lagi, anarko telah menjadi gerakan yang alternatif bagi anak muda. Saat ini, perkembangannya cukup masif. Apa yang menjadi kritik tajam mereka, pada dasarnya ya seperti yang kita saksikan saat ini.

Gerakan seperti anarko punya potensi untuk menjadi semakin besar. Kita bisa melihat Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), tumbuh subur karena mengkritik demokrasi dan kapitalisme. Gerakan yang mengkritisi sebuah narasi besar biasanya lebih cepat berkembang dan mendapatkan dukungan.

Sayangnya, saya rasa anarko baru berada pada tahapan melakukan kritik atas tatanan dan status quo. Ide politik alternatif memang belum tampak pada mereka. Di Indonesia, mereka mencoba untuk menghimpun rasa kecewa pada sistem yang ada hari ini. Mereka mengampanyekan ketidakpercayaan pada hierarki dan sistem yang ada.

 
Berpakaian serba hitam saat beraksi (foto: Tribunnews)

Kalau kita baca, ide politik alternatif ala anarko adalah mengusulkan ketiadaan negara. Semua orang mengurus kepentingan sendiri dan komite-komite. Tapi itu sangat utopis. Gagasan seperti itu masih sebatas terjemahan dari buku-buku klasik.

Saya rasa, salah satu penyebabnya karena belum banyak ide-ide politik yang muncul dari para pemukanya. Kalau dulu, zaman PRD, ada Budiman Sudjatmiko sebagai tokoh yang paling menonjol. Di anarko belum jelas siapa pemimpinnya dan siap ideolognya. Orang-orang berdatangan begitu saja dari media sosial. Tidak terpaku pada suatu figur tertentu.

Untuk dikatakan sebagai sebuah gerakan, kita belum melihat postur yang lengkap di anarko. Sebuah gerakan politik butuh aktor intelektual dan ideolog yang muncul guna menyampaikan wacana tersebut kepada publik. Harus jelas siapa yang bertanggung jawab.

Anarko adalah gerakan alternatif yang muncul pada tahapan kapitalisme hari ini. Sayangnya, orang-orang masih melihat gerakan kiri sebagai sebuah alternatif. Gerakan kiri belum dianggap sebagai sebuah gerakan politik yang konkrit.

Karena itulah, polisi memperlakukan mereka layaknya geng-geng motor atau suporter sepak bola. Ditangkap, ditelanjangi, dan digunduli. Anarko belum dianggap sebagai sebuah gerakan ideologis yang butuh penanganan lebih ekstra. Polisi masih melihat mereka sebagai vandalis. Belum pada tahapan ancaman politik yang menjadi ancaman serius layaknya gerakan-gerakan politik.

Perlakuan seperti itu sebetulnya tidak pantas. Sangat berbahaya menyamakan anarko dengan  geng-geng motor karena mereka memiliki basis ideologis yang jelas. Hanya saja, memang masih sebatas identitas itu yang muncul di mereka. Sekali lagi, kita belum melihat proyek politik seperti apa yang ingin anarko tawarkan.

(Januardi Husin\Rin Hindryati)
Share:


Berita Terkait

Komentar