Wali Kota Prediksi Ada 100.000 Pendatang Baru `Serbu` Bekasi

Kamis, 13/06/2019 11:12 WIB
Kota Bekasi (Foto: Tribun)

Kota Bekasi (Foto: Tribun)

Bekasi, law-justice.co - Sedikitnya ada 100.000 pendatang baru dari sejumlah daerah diprediksi "menyerbu" Kota Bekasi, Jawa Barat, untuk mengadu nasib di kota yang dipenuhi industri. Kedatangan ini biasanya marak usai libur lebaran, Kamis (13/6).

Wakil Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto Tjahyono di Bekasi, Kamis, mengatakan, sebagai daerah yang kini menjelma menjadi Kota Metropolitan, kota berjuluk Kota Patriot ini memiliki daya tarik tinggi sehingga diminati para pendatang baru dari berbagai daerah di tanah air.

"Sampai sekarang hingga akhir Juni 2019 prediksi kami 100.000 pendatang baru," ujar dia.

Menurutnya, prediksi tersebut berdasarkan angka pendataan petugas saat menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018 hingga Pemilu April 2019.

"Saat Pilkada ada 2,7 juta jiwa di Kota Bekasi, namun saat Pemilu jumlah penduduknya menembus angka 2,8 juta jiwa. Makanya kita prediksi 100.000 pendatang lagi akan masuk Bekasi pasca lebaran ini," ungkapnya.

Dia menambahkan, wilayahnya merupakan daerah terbuka untuk umum sehingga siapa saja dipersilakan datang ke Kota Bekasi.

"Para pendatang baru ini tidak hanya mengubah nasib mereka sendiri tapi juga mengubah tata kota daerah," katanya.

Tri menyebutkan, Kota Bekasi memerlukan orang-orang yang memiliki visi sehingga berkontribusi terhadap pembangunan daerah lewat sektor pajak.

"Kami tidak pernah melarang warga yang ingin ke Kota Bekasi tapi tentunya kita berharap mereka memiliki keahlian dan kemampuan kerja," ujarnya.

Sebagaimana yang dilansir dari Antara, ada tiga kawasan industri di Kota Bekasi yakni Kawasan Wahab Affan di Jalan Sultan Agung, Kawasan Kaliabang di Pondok Ungu, serta Kawasan Narogong di Bantar Gebang yang dapat dijadikan destinasi kerja para pendatang baru.

Di kawasan tersebut, terdapat 1.350 lebih perusahaan dengan rincian 1.258 perusahaan menengah ke atas, sementara sisanya adalah 90 perusahaan besar dan menengah ke bawah, termasuk perusahaan asing.

(Muhammad Mu'alimin\Editor)
Share:


Berita Terkait

Komentar