Politik Karbitan dan Bidak Beracun SBY

Kamis, 13/06/2019 05:38 WIB
Komandan Kogasma Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) (Foto: Ist)

Komandan Kogasma Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) (Foto: Ist)

Jakarta, law-justice.co - Langkah-langkah lompat pagar ala Partai Demokrat dalam Koalisi Indonesia Adil Makmur akhir-akhir ini membuat publik prihatin dan situasi politik nasional kembali panas. Begitu menari-narinya "Putera Mahkota SBY" Partai Demokrat (AHY/Agus Yudhoyono) dengan lobi-lobi yang begitu masif terhadap kubu Koalisi Indonesia Kerja. Saking aktifnya dalam lobi dia tidak sadar, bahwa dia melakukan tindakan tidak sesuai dengan ucapan Bapaknya, yang menyatakan bahwa keluarga mereka masih dalam suasana berkabung.                               

Demikian dikatakan pengamat politik, Dr. Safri Muiz kepada Law-Justice.co di Jakarta, Kamis (13/6). Hal yang berbau politik jangan dikait-kaitkan dengan keluarga SBY. Karena tidak elok, istilah SBY untuk mengatakan mereka masih berkabung atas meninggalnya Ibu Ani Yudoyono.

Safri mengatakan kalau kita cermati langkah-langkah yang dilakukan AHY ini, bagaikan permainan tapi sangat membahayakan bagi etika kesantunan dalam pelajaran politik buat rakyat Indonesia. Mereka melangkah bagaikan bidak-bidak beracun. Bidak-bidak beracun yang dijalankan keluarga SBY ini tidak mencerminkan bahwa beliau sebagai negarawan sejati, sepertiyang selalu didengungkan oleh kader-kader Partai Demokrat.                

Langkah AHY menunjukan bahwa dia terburu-buru dan sudah tidak sabar untuk berkuasa. Syahwat kekuasaan ini jelas tergambar dari raut wajahnya dan dari pernyataannya yang sok dewasa dan sok menguasai permasalahan membuat rakyat jadi muak. Tingkah lakunya bagaikan buah durian yang masak karena karbitan. Baunya harum tapi rasanya tidak manis. Karena matengnya buah durian itu karena dikarbit, tegas Safri.

Jangan sampai AHY menjadi tokoh kayak buah durian yang dikarbit. Janganlah memaksakan dirinya untuk tampil sebagai calon pemimpin nasional dengan segala cara. Jangan pula menjadikan anakmu bak kelinci percobaan. Biarkan dia belajar menjadi dirinya sendiri. AHY sekarang sudah layu sebelum berkembang, dengan nekat mundur dari dinas ketentaraannya. Dia mundur pada saat diusia muda sekali, padahal karir dia di tentara masih panjang dan terang benderang, lanjut Safri.     

Rakyat tahu yang mana emas atau tembaga. Jangan hanya karena ambisi sang bapak,karier anak jadi hancur dan masa depannya menjadi dagangan politik karbitan yang tak bernilai di mata rakyat, timpal Safri menutup pembicaraan.

(Warta Wartawati\Editor)
Share:


Berita Terkait

Komentar