Trauma Diperkosa, Seorang Gadis di Belanda Minta Disuntik Mati

Jum'at, 07/06/2019 12:03 WIB
Noa Pothoven (The Spinoff)

Noa Pothoven (The Spinoff)

law-justice.co - Di usia 11, Noa Pothoven, seorang gadis asal Belanda,  mengalami pelecehan seksual di sebuah pesta sekolah. Tiga tahun kemudian, dia diperkosa oleh dua pria. Rasa takut dan malu membuat gadis ini menyimpan rapat-rapat apa yang dialaminya.

Hidupnya kemudian makin sengsara karena mengalami stres pasca-trauma (PTSD), depresi, dan gangguan makan. Dalam masa sulit itu, Noa berusaha mengungkapkan apa yang dialaminya, dengan menerbitkan buku otobiografi yang berisi tentang pengalaman hidupnya. Di buku itu, ia mencoba mendobrak tabu bagi kaum muda yang menderita trauma akibat pelecehan dan berjuang untuk mendapatkan dukungan.

Bertahun-tahun Noa berjuang untuk memulihkan jiwanya. Namun akhirnya ia merasa sudah cukup, dan memilih menyerah.

Curahan hatinya itu ia tuliskan di akun instagramnya,  "Setelah bertahun-tahun berjuang dan bertarung, saya kehabisan tenaga. Saya sudah berhenti makan dan minum untuk sementara waktu sekarang, dan setelah banyak diskusi dan evaluasi, diputuskan untuk membiarkan saya pergi karena penderitaan saya tidak tertahankan.”

"Karena takut dan malu, aku menghidupkan kembali rasa takut, rasa sakit itu setiap hari. Selalu takut, selalu berjaga-jaga. Dan sampai hari ini tubuhku masih terasa kotor. Rumahku telah dibobol, tubuhku, yang tidak pernah bisa dikembalikan seperti semula.”

Noa kemudian melakukan mogok makan. Namun keluarganya tetap meminta rumah sakit untuk memberikan makananan lewat selang infus. Rupanya keinginan Noa untuk mengakhiri hidupnya sudah tidak bisa diganggu gugat. Keluarga akhirnya merelakan kepergiannya dengan mengizinkan dokter melakukan euthanasia atau suntik mati.

Isa, saudara perempuan Noa, menggambarkan saat-saat terakhir Noa, di akun instagramnya, “Tanggal 2 Juni, pukul 02.40, Noa sudah pergi. Tidurlah yang lelap. Kami akan selalu mengingatmu.”  Noa meninggal di rumahnya dengan kelilingi orang-orang yang mengasihinya.

Keputusan euthanasia yang diminta Noa, sempat menimbulkan kontroversi. Namun pemerintah Belanda menegaskan bahwa negaranya menganut hukum “Palliative Sedation” yang bertujuan untuk meringankan penderitaan pasien, ketika harapan hidupnya tidak lebih dari dua minggu.

Pemerintah Belanda, meluruskan media yang mengatakan bahwa Noa meninggal karena disuntik mati. Melalui penjelasan dari The End-of-Life Clinic,  karena memang Noa tidak mau terus hidup, ia melakukan mogok makan dan minum.  Maka untuk menghentikan penderitaannya, ia diizinkan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara euthanasia, sesuai permintaannya. (BBC)

 

(Reko Alum\Reko Alum)
Share:


Berita Terkait

Komentar