Ali Mustopha, Penulis Opini

Fakta Sebenarnya di Balik Kecurangan Pilpres 17 April

Minggu, 21/04/2019 10:55 WIB
Pemilu Indonesia 2019 (Foto: Brilio)

Pemilu Indonesia 2019 (Foto: Brilio)

Jakarta, law-justice.co - Pertama, TNI-AD (dengan perangkat Babinsa) dan Polri telah diperintah RI-1 untuk melakukan pendataan hasil Pemilu, dimana itu praktis paralel dengan tugas dan kewenangan KPU alias menyalahi UU. Namun begitu pandataan yang dilakukan TNI-AD/Polri lebih lengkap daripada KPU.

Di pendataan TNI-AD/Polri ada angka-angka berapa yang tidak nyoblos, pria/wanita dsb.

Kedua, Skenario pasca pencoblosan:
Pencoblosan selesai jam 13.00. Kenapa Lembaga Survei baru boleh rilis QC pk 15.00?
Ini jawabannya:

Hasil pendataan TNI/Polri diserahkan antara pukul 13.00-14.00 (yang penting untuk wilayah WIB krn penduduk mayoritas ada di situ). Bila ternyata 01 menang, maka QC dirilis seperti apa adanya. Namun bila 01 kalah, maka ada cukup waktu (1-2 jam) untuk menyiapkan angka QC bohong2an.

Yang terjadi:
01 kalah, maka Lembaga Survey Bayaran kompak bikin angka masing2 dengan beda 10%. Tidak disadari bahwa angka-angka tersebut mencurigakan karena tidak disangka bahwa IDM (Indonesia Development Monitoring) sudah merilis hasil Exit Poll dimana 02 unggul atas 01, 53% vs 43%. Ini membuat istana jadi gagap dan muncul skenario dadakan seperti KPU entry data secara ngawur.

Ketiga, bagaimana hasil pendataan TNI/Polri yang dilaporkan ke istana?:

Hasilnya adalah 62% untuk 02, dan sekitar 36% untuk 01.
Memang dari awal istana sudah bikin skenario (bila hasil pencoblosan 01 ternyata kalah), yaitu:
1)Penggiringan opini via QC
2)Setelah itu KPU melakukan entry dengan merubah angka2 C1.
Namun tidak disangka-sangka IDM sudah rilis duluan, ini yang bikin skenario istana berantakan dan ketahuan bohongnya.

Keempat, skenario Istana dijegal oleh Skenario Allah Azza wa Jalla:

Tidak dinyana rupanya TNI-AD dan Polri membocorkan hasil pendataan mereka ke Prabowo, yang TNI via Jend. Joko Santoso, yang Polri via Jend. Sofyan Yakub.
Kenapa kedua institusi tersebut membocorkan?

1. TNI-AD tidak mau dipimpin oleh Hadi T & Andika P karena banyak Jenderal-jenderal TNI-AD yang potensial dan berprestasi dinon-job-kan oleh Hadi & Andika
2. Jenderal-jenderal Polri sudah lama ingin menyingkirkan Tito karena melewati 3 lifting

Kelima, Posisi Prabowo:

Dengan data-data dari kedua institusi tersebut maka saat ini rahasia istana terpegang oleh Prabowo. Prabowo di atas angin. Kalau info tersebut (laporan TNI-AD/Polri) dibuka ke publik, maka habislah istana. Dengan demikian, maka Prabowo saat ini dengan sangat yakin mendeklarasikan diri sebagai Pemenang.

Keenam, Apa langkah istana?:

Ada info bahwa Jokowi kirim utusan khusus untuk bertemu Prabowo. Diduga utusan tersebut membicarakan bagaimana skenario untuk mencari solusi terbaik, artinya 02 tetap menang tanpa membongkar skenario kotor istana.

Makanya Prabowo menolak bertemu dengan Luhut, karena pertemuan itu oleh 01 akan Menggiring opini yang menguntungkan Jokowi. Inilah yang membuat nasib Jokowi sudah di ujung tanduk! Menyedihkan!

(Annisa\Editor)
Share:


Berita Terkait

Komentar