Sexy Killer Ungkap Kerusakan Lingkungan Akibat Tambang Batu Bara

Selasa, 16/04/2019 14:05 WIB
Film Dokumenter Sexy Killer (JPIC-OFM)

Film Dokumenter Sexy Killer (JPIC-OFM)

Jakarta, law-justice.co - “Ini kita lihat sudah berubah semua, dulu ini sawah sampai di pohon kelapa itu batasnya,” ujar ketut sambil menunjuk sebuah wilayah gersang bekas tambang kepada salah satu kru film dokumenter Sexy Killer.

Ketut merupakan seorang sarjana hukum. Ia bertekad mendapatkan gelar sarjana hukum untuk merebut kembali tanah ayahnya, yang direbut oleh perusahaan tambang. Asap-asap dan limbah dari tambang batu bara di kampungnya telah memberikan penyakit kepada rakyat, khususnya daerah Kertabuana Kabupaten Kutai Kartanegara tanah kelahirannya.

Persoalan tambang-menambang memang menjadi rahasia umum, tapi tak banyak media yang berani memberitakannya. Antara takut hilang atau tak ada kuasa. Hadirnya Sexy Killer dan beberapa film lainya menjadi referensi kuat bagi kita.

Sexy Killer sendiri merupakan film dokumenter terakhir yang diproduksi Dandy Laksono bersama Tim Ekspedisi Indonesia Biru, beberapa film yang sebelumnya telah tayang seperti. Samin vs Semen, Kala Benoa, The Mahuzes, Asimetris juga berbicara mengenai ekploitasi alam diberbagai wilayah di Indonesia yang dilakukan oleh kaum elit.

Seperti yang kita pahami film dokumenter merupakan film yang merepresentasikan sebuah peristiwa tanpa rekayasa. Adegan pembuka yang memperlihatkan sepasang kekasih yang tengah berbulan madu menguatkan pesan pada film sebelum bercerita tentang batu bara, bagaimana dampaknya yakni listrik yang sampai pada ranah paling privat manusia. Nyatanya, cinta romantis itu membutuhkan energi yang banyak: lampu tidur 9 watt, kulkas 250 watt, televisi 150 watt, laptop 87 watt, pengering rambut 400 watt, dan AC 350 watt.

Sebagian besar pasokan energi listrik di negara ini bersumber dari PLTU dengan bahan bakar utamanya adalah batu bara. Karena dianggap bahwa energi ini merupakan yang paling murah dibanding gas, angin dan energi lainnya. Namun disisi lain hal yang tidak bisa terhindarkan dari pertambangan batu bara adalah soal kerusakan lingkungan hidup, ketidakadilan terhadap masyarakat, dan beragam soal krusial lainnya seperti munculnya penyakit karena udara yang terpolusi.

Sexy Killers menampilkan dengan sangat baik bagaimana persoalan yang muncul dari upaya memenuhi kebutuhan masyarakat umum. Namun menurut penulis ada beberapa hal penting yang bisa ditarik dari film Sexy Killer Garapan Dandy Laksono dkk ini, diantaranya: isu lingkungan hidup, dalam film yang berlatar di Pulau Kalimantan, Palu, dan Bali ini ditampilkan banyak kurasakan lingkungan seperti bekas tambang yang tidak direklamasi atau ditimbung dan polusi dari PLTU itu sendiri.

Isu selanjutnya adalah, isu penegakan Hukum dan HAM, misalnya beberapa petani yang ditangkap dikriminalisasi karena melawan pembangunan batu bara hingga perampasan lahan dan sebagainya. Terakhir isu agraria, batu bara ini berdiri atas kepemilikan diatas Hak Guna Dana Usaha (HGU), disinggung juga dalam debat Pilpres mengenai kepemilikan HGU atau kelompok oligarki yang menunggangi calon presiden ini.

Secara garis besar film ini mendukomentasikan bagaimana bisnis batu bara dan PLTU memberikan dampak yang negatif terhadap kehidupan sosial, lingkungan dan ekonomi masyarakat. Selain itu film ini secara gamblang juga menunjukkan nama-nama perusahaan dibalik bisnis tersebut serta tokoh yang menunggangi calon presiden sekarang. (Sumber: profesi-unm.com)

(Gisella Putri\Editor)
Share:


Berita Terkait

Komentar