Bos Mayapada Group, Dato Sri Tahir (Tulisan-2)

Kritis dan Sulitnya Kembalikan Reputasi Muamalat, Is A Process and Is Not Easy

Senin, 08/04/2019 11:27 WIB
Sri Dato Tahir (Foto: Teguh Vicky Andrew/Law-Justice.co)

Sri Dato Tahir (Foto: Teguh Vicky Andrew/Law-Justice.co)

Jakarta, law-justice.co - Memberdayakan ummat Islam di negeri kita, itulah salah satu tujuan pembentukan Bank Muamalat Indonesia (BMI) pada 1 November 1991.  Mejelis Ulama Indonesia dan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI)  yang kala itu dipimpin Menteri Riset dan Teknologi BJ Habibie termasuk bidan utamanya. Selain para pengusaha yang dikerahkan pemerintah, masyarakat luas—tak terkecuali orang-orang kecil—ikut memodalinya di masa rintisan. Negara sendiri menyetor modal dengan memanfaatkan dana jemaah haji yang mendaftar pada tahun 1993-1994; pengelolaannya dikuasakan kepada Kementerian Agama dan dicatat dalam Daftar Pemegang Saham Bank Muamalat. 

Sejak resmi beroperasi pada 1 Mei 1992, Bank Muamalat terus berinovasi dan mengeluarkan produk-produk keuangan syariah seperti Asuransi Syariah (Asuransi Takaful)  dan Dana Pensiun Lembaga Keuangan Muamalat (DPLK Muamalat) yang menjadi terobosan di Indonesia.

Ternyata mulai penghujung 1997 krisis moneter mendera Indonesia. Korporasi bertumbangan. Bank banyak yang ditutup atau dimerger. Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) dikucurkan untuk mereka yang tidak dihentikan operasinya. Bank Muamalat sendiri selamat tanpa bantuan pemerintah. Tak hanya itu. Mereka kemudian menjadi bank Indonesia pertama yang beroperasi penuh di Kuala Lumpur, Malaysia. 

Sejarah awal Bank Muamalat jelas mengesankan. Tapi, seiring dengan perjalanan waktu, keadaan rupanya berubah. Sisi keummatan dan kesyariahan bank ini perlahan tergerus. Lihatlah komposisi pesahamnya yang diumumkannya pada 23 Maret 2018: Islamic Development Bank (32,74%), Bank Boubyan, Kuwait (22%), Atwil Holdings Limited (17,81%), National Bank of Kuwait (8,45%), IDF Investment Foundation (3,48%), dan BMF Holding Limited (2,84%). Di luar itu ada Reza Rhenaldi Syaiful (1,67%), Dewi Monita (1,67%), Andre Mirza Hartawan (1,66%), Koperasi Perkayuan APKINDO-MPI (1,39%), dan pemegang saham lain (6,19%). Wajarlah kalau Prof. Jimly Asshiddiqie—ia terlibat dalam persalinan untuk melahirkan Bank Muamalat—menyatakan korporasi ini sudah milik individu, terutama asing. Penerima kucuran dananya perusahaan-perusahaan besar, termasuk Texmaco yang dimiliki Marimutu Sinivasan.

Sebelum dipimpin Direktur Utama sekarang, Achmad Kusna Permana (sejak September 2017), Bank Muamalat mengalami krisis serius. Selain kredit macetnya terbilang tinggi, modalnya juga cekak. Sampai hari ini suntikan dana segar masih belum didapatkannya.  Terbetik kabar bahwa ada konsorsium yang akan masuk membantunya. Kelompok itu dipimpin Ilham Habibie, putra BJ Habibie.

Bos konglomerat Mayapada Group, Dato Sri Tahir, dikabarkan  akan turut menyuntikkan dana  segar ke Bank Muamalat karena diajak Ilham Habibie.  Dia membenarkan bahwa dirinya memang sempat berniat untuk membantu. Tapi ia kemudian berubah pikiran sebaik mengetahui bahwa pihak lain yang bakal ikut bergabung cuma pencari untung belaka. Berikut ini tuturan dia selengkapnya kepada Teguh Vicky Andrew dari Law-justice.co.

Bank Muamalat masih kesulitan untuk mencari investor yang siap menyalurkan dana segar. Anda masih tertarik investasi di sana?

Kita kan dikasih tugas sama OJK. Saya bilang begini lho: ini kan bank Islam pertama  di Indonesia, waktu itu satu-satunya bank syariah yang pemiliknya orang Muslim semua. Saya bilang ada sensitivity; jangan sampai nanti kita masuk Muamalat malah menimbulkan isu yang lain. Kalau saya sebagai transitor oke saja, tapi sebagai pemilik jangan.

Transitor itu maksudnya?

Kalau butuh dana fresh kita akan  kasih, perlu money market kita kasih. Cuma ini ya, dugaan saya lho: manajemennya ini (Bank Muamalat) setengah modelnya mafia. Jadi ada resistensinya. Mereka mungkin mau cari investor yang kira-kira  sejalan dengan cara  berpikir mereka. Nah, ini repot.

Pak Ilham Habibie sendiri bukan transitor?

Kita deket, saya dianggap kayak anak angkatnya Pak Habibie. Saya bilang sama Pak Ilham: ‘Gini lho, Mas… bank ini bukan tempat bancakan [santapan ramai-ramai]. Bank is institusi yang sangat-sangat beda, artinya different dari usaha-usaha yang lain’. Jadi you punya cara berpikir bukan profit-lost, untung-rugi.

Nah, grup yang di belakang Pak Ilham ini pikiraannya masih begitu [untung-rugi]. Dia punya pemikiran, saya pikir, dia mau  package, lalu mungkin dia mau jual lagi gitu lho. Saya bilang sama Pak Ilham: kalau itu jangan. Ini harus orang yang betul-betul mau jadi bankir di Muamalat, masuk lalu dia besarin. Kalau untuk transit-transit jangan. Saya nggak ngerti bahasa saya itu bisa di-ngerti  nggak oleh Pak Ilham. Mungkin Pak Ilham ngerti, rombongannya nggak ngerti.

Pak Heru (Heru Kristiyana) ini, komisioner (OJK), dia tegaskan terus [bahwa] gaya-gaya nawar ini nggak-nggak. Pakai  paper-lah, paper tukar paper, tapi bank-nya mau dikuasai. Permainan itu semua orang ngertilah. Semua orang tahu. Orang bank  juga tahu. Kalau  dia bank umum ya monggo-monggo saja. Inilah yang menjadi masalah. Saya udah nggak pernah ngikut. Sampai sana aja. Pak Ilham juga nggak welcome saya. Dia bilang, dia sendiri yang mau jalanin. Oke, go ahead, yang penting kan tujuan kita untuk menyelamatkan gitu.

Tapi, kemungkinan mau membantu Bank Muamalat masih ada?

Kalau sekarang, jujur nggak mampu. Bank itu kan bukan seperti nyelamatin pabrik ya. Inject Fresh Money bisa beres. Kan nggak. Mengembalikan reputasi Mualamat ini  is a process, is not easy. Yang masuk ini harus betul-betul dengan modal, reputasi, manajemen  kuat. Then, you boleh masuk. Nah, itu yang belum ditemukan OJK.  Ngumpulnya orang-orang yang punya bancakan-bancakan. Ini  nggak karuan.

OJK  tahulah permainan. Mereka [calon investor] mau restructure yang gitu-gitu lalu tawarkan ke investor [lain]. Mereka  lalu ambil profit. Ini kan bisa gede. Kalau permainan kayak gini bisa gede. Mau gaya-gaya kayak dulu:   model-model obligasi tapi dicatat sebagai modal. Ya, nggak bisa.

Pak Ilham mengajak Anda masuk konsorsium?

Dia tanya sama saya apakah mau  jadi member of consortium. Kembali lagi saya bilang: ini pikiran orang ini masih gini lho:  bikin konsorsium lalu mari kita ambil. Nggak bisa;  ini bank, bukan perusahaan biasa. Kalau perusahaan boleh. You mau nolong suatu perusahaan, petro-chemical yang jatuh atau power plant, bisa-bisa  saja. Kalau bank nggak bisa. Dia ada keunikannya. Siapa manajemennya, bagaimana spirit-nya. Kan orang taruh uang di bank Anda. Jadi, orang itu mau tahu Anda itu siapa. Ini Anda nggak jelas, ada 5 konsorsium. Kayak ambil pabrik. Kalau bank nggak bisa. Kalau BCA, orang kayak Budi Hartono; Mayapada itu Tahir; Mega itu Chairul Tanjung. Jelas gitu lho. Orangnya jelas, tinggal di sini, alamatnya jelas. Kalau konsorium-konsorsium nggak jelas. Dari Singapura-lah…nggak jelas.

Saya bilang  ke Pak Ilham: saya tidak bisa. Saya tolak. Diajak, tapi saya tolak.

Semula Anda mau menolong Bank Muamalat. Apa alasannya?

Saya ada misi. Saya bilang:  mungkin dengan reputasi kita masuk. Tapi akhirnya kita  kembalikan ke permodalan. Siapa  yang ambil bagian, misalnya. Arab mau masuk, siapa masuk…. Akhirnya kita keluar. Biar mereka masuk,  gitu lho. Tujuannya hanya itu. Kita taruh fresh money,  terus dibenahin. Tapi fresh money itu kalau 4 triliun nggak cukup. Perlu banyak karena long-term kan. Nah,  itu kita nggak mampu. Kita jujur.

Menurut OJK perlu  8 triliun rupiah….

Iya, lagi-lagi. Kalau menurut saya lebih.

Ketika dulu berniat membantu, tentu Anda sangat  mengetahui bahwa bisnis bank syariah berbeda betul dari bank konvensional…

Nah, itulah mengapa  menjadi mis-manajemen. Asalnya kan itu bank Islam, syariah. Sama manajemen dulu itu dibikin kayak bank korporasi. Ya, ngasih kredit properti, inilah-itulah. Terakhir nggak bayar semua….

Sebagai pengusaha, Anda  nggak takut rugi kalau mengucurkan dana ke Bank Muamalat?

Saya kan nggak ingin jadi pemegang saham tetap. Saya masuk, dibenahin. Secepatnya bisa ada grup yang masuk. Tabungan Haji Malaysia, misalnya, bisa masuk. Yang berkaitan dengan  Islam, gitu.

Sebagai pengusaha yang punya bank juga, menurut Anda bagaimana sebaiknya cara membenahi dan menyelamatkan Bank Muamalat?

Yang jelas, modal. Nggak ada modal nggak bisa jalan. Mau  dewa sekalipun, nggak bisa. Robby Djohan sekalipun disuruh hidup kembali, nggak bisa karena  bank itu jelas butuh modal. You mau berkembang,  kena CAR [rasio kecukupan modal]. Sekarang OJK  minta CAR-nya tinggi, 16%. Bukan lagi pakai aturan kayak dulu 12 %; sekarang minimum 16%. Jadi kalau bank itu simple saja: modal harus kuat.

Anda pernah bilang nggak menguasai lika-liku bank syariah. Apa memang aturan mainnya berbeda sekali dari yang  konvensional?               

Nggak nguasai, tapi ada tenaga profesional yang kita pakai. Waktu itu kan kita misinya cuma: supaya masuk fresh money. Dana ada kembali, reputasinya baik, finally ada investor. Yang mempunyai  misi menjalankan bank syariah itu bisa masuk. Kasihan, [investor] Dubai atau mana itu: dia kena manajemen yang nggak-nggak itu. Terakhir  omongannya dia digarap. Dia tobat juga. Kalau dia nggak yakin siapa manajemennya, mana mau dia kucurkan uang lagi…

Laporan Rin Hindryati P.

(Teguh Vicky Andrew\P. Hasudungan Sirait)
Share:


Berita Terkait

Komentar