Alihkan Pasukan ke Lebanon, Benjamin Netanyahu Akan Setop Serang Rafah

Senin, 24/06/2024 09:10 WIB
PM Israel Benjamin Netanyahu (Al Jazeera)

PM Israel Benjamin Netanyahu (Al Jazeera)

Jakarta, law-justice.co - Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa serangan pasukan militer ke Rafah, wilayah ujung selatan Jalur Gaza sekaligus tempat jutaan warga Palestina mengungsi, akan segera dihentikan.

Selanjutnya, pasukan militer akan dikerahkan ke utara Israel, perbatasan dengan Lebanon selatan.

Dalam wawancara pertamanya dengan jaringan Israel sejak agresi meletus 7 Oktober lalu, Netanyahu mengatakan pasukan pertahanan Zionis akan dikerahkan ke perbatasan utara untuk "tujuan pertahanan."

"Fase intens pertempuran melawan Hamas akan segera berakhir," kata Netanyahu seperti melansir cnnindonesia.com.

"Bukan berarti perang (secara keseluruhan) akan segera berakhir. Namun perang dalam fase intens di Rafah akan berakhir," lanjut Netanyahu.

Dia berujar setelah serangan di Rafah berhenti, ia akan memindahkan sejumlah pasukan ke utara untuk tujuan pertahanan serta untuk membawa kembali penduduk.

"Setelah akhir fase intens, kami akan memindahkan beberapa pasukan ke utara. Kami akan melakukan itu, khususnya untuk tujuan defensif serta untuk membawa penduduk (pengungsi) kembali ke rumah," kata Netanyahu.

Puluhan ribu warga Israel telah mengungsi dari Israel utara sejak Oktober lantaran pasukan militer bersitegang dengan milisi Lebanon Hizbullah di kawasan tersebut. Hizbullah menyerang Israel di perbatasan Lebanon sebagai bentuk solidaritas terhadap milisi Hamas di Gaza.

Ketegangan antara Israel dan Hizbullah pun semakin panas setelah salah satu komandan Hizbullah, Taleb Abdallah, tewas imbas serangan Israel di Kota Joya, Lebanon selatan, 11 Juni lalu.

Kematian Abdallah memantik amarah kelompok itu karena dia merupakan "orang paling penting di Hizbullah yang tewas dibunuh sejak dimulainya perang" antara Israel dan Hamas.

Menteri Luar Negeri Israel, Israel Katz, menegaskan negaranya akan segera mengambil keputusan untuk perang habis-habisan dengan Hizbullah setelah lebih dari delapan bulan perbatasan kedua negara menegang.

Dia juga menyatakan militer Israel telah menyetujui "rencana operasi serangan ofensif di Lebanon."

Menanggapi hal itu, pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah mengancam akan menyerang Siprus jika Israel benar-benar menyerang pihaknya.

Nasrallah menuding Siprus telah membantu Israel dengan mengizinkan Negeri Zionis menggunakan bandara dan pangkalannya untuk latihan militer.

Dia juga menegaskan Hizbullah tak takut untuk berperang dengan Israel dan sebaliknya mereka akan berperang "tanpa aturan" dan "tanpa batasan" jika itu terjadi.

Potensi perang kedua negara ini pun membuat was-was sejumlah negara termasuk Amerika Serikat. Washington menyatakan bakal mendukung penuh Israel bila terjadi perang besar-besaran dengan Hizbullah.

 

(Ade Irmansyah\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar