Tinggal Mimpi Menagih Janji Jokowi Rupiah di Bawah Rp10.000 Per Dolar

Sabtu, 22/06/2024 00:01 WIB
Tinggal Mimpi Menagih Janji Jokowi Rupiah di Bawah Rp10.000 per Dolar  foto:ekonomi.bisnis.com

Tinggal Mimpi Menagih Janji Jokowi Rupiah di Bawah Rp10.000 per Dolar foto:ekonomi.bisnis.com

[INTRO]

Menjelang akhir masa jabatan Presiden Joko Widodo (Jokowi), nilai tukar rupiah kembali melemah, menembus level psikologis Rp16.000 per dolar AS. Pelemahan ini memicu refleksi publik terhadap janji Jokowi di Pilpres 2014, di mana ia berjanji untuk menurunkan nilai tukar rupiah hingga Rp10.000 per dolar AS.

Saat Jokowi dilantik pada Oktober 2014, nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp12.000 per dolar AS. Namun, alih-alih menguat, rupiah justru menunjukkan tren pelemahan. Bahkan, di akhir masa jabatan pertamanya, rupiah nyaris menyentuh Rp15.000 per dolar AS.

Memasuki periode kedua pemerintahan Jokowi pada 2019, rupiah sempat menguat ke level Rp13.990. Namun, tren pelemahan kembali berlanjut, dan rupiah tak kunjung kembali ke level Rp12.000.

Situasi semakin memburuk dengan datangnya pandemi Covid-19 pada awal 2020. Rupiah anjlok ke level terendahnya sejak krisis moneter 1998, yaitu Rp16.700 per dolar AS pada April 2024.

Meskipun janji penguatan rupiah belum tercapai, perlu diingat bahwa nilai tukar mata uang dipengaruhi oleh berbagai faktor kompleks, tidak hanya janji politik. Faktor global seperti kebijakan moneter negara maju, fluktuasi harga komoditas, dan kondisi geopolitik turut memengaruhi pergerakan rupiah.

Pemerintah telah berupaya untuk menstabilkan nilai tukar rupiah melalui berbagai kebijakan, seperti intervensi Bank Indonesia di pasar valas dan penerbitan Surat Berharga Negara (SBN).

Meskipun demikian, pelemahan rupiah masih menjadi tantangan tersendiri bagi perekonomian Indonesia. Pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya impor, mendorong inflasi, dan menekan daya beli masyarakat.

Di tengah situasi ini, penting untuk terus memantau perkembangan nilai tukar rupiah dan dampaknya terhadap perekonomian nasional.

Sebagai penutup, perlu ditekankan bahwa janji penguatan rupiah merupakan salah satu janji politik Jokowi di masa Pilpres 2014. Meskipun janji tersebut belum tercapai, upaya pemerintah untuk menstabilkan nilai tukar rupiah melalui berbagai kebijakan patut diapresiasi.

 Jokowi Panggil KSSK Merespons pelemahan rupiah ini, Presiden Jokowi memanggil sejumlah perwakilan dari Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) ke Istana Negara pada Kamis (20/6/2024) untuk membahas perkembangan nilai tukar. Setiap perwakilan tiba di kompleks Istana Kepresidenan memenuhi panggilan Jokowi, mulai dari Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, hingga Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Kepada Presiden Jokowi, Menkeu Sri Mulyani menjelaskan perkembangan nilai tukar rupiah dan langkah pemerintah ke depan.

 

Masyarakat juga perlu memahami bahwa nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh berbagai faktor kompleks, dan tidak hanya janji politik semata.

 

(Patia\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar