Lantaran Belum Bayar Upah & Uang Lembur, 15 Ribu Kurir Gugat Amazon

Rabu, 12/06/2024 12:50 WIB
Perekonomian Tak Pasti, Amazon Bakal PHK 10 Ribu Karyawan. (Istimewa).

Perekonomian Tak Pasti, Amazon Bakal PHK 10 Ribu Karyawan. (Istimewa).

Jakarta, law-justice.co - Sebanyak 15 ribu lebih pengemudi yang bertugas mengantarkan paket Amazon mengajukan tuntutan hukum yang meminta kompensasi atas lembur dan upah yang belum dibayar.

Mereka menuding raksasa e-commerce itu mengkategorikan mereka sebagai kontraktor independen, bukan sebagai karyawan.

Melansir CNN, Senin (10/6), perusahaan meluncurkan Amazon Flex pada 2015 yang memungkinkan kontraktor independen mendaftar untuk menjadi pengirim paket Amazon.

Pengemudi bebas mengatur jadwal pengiriman paket Amazon Fresh atau bisa juga pada hari yang sama dari pusat gudang perusahaan.

Kurir dari California, Massachusetts, dan Illinois tak hanya meminta kompensasi atas lembur dan upah yang belum dibayar, tetapi juga biaya pengganti untuk jarak tempuh dan penggunaan telepon seluler.

Pengacara kasus tersebut, Steven Tindall, mengatakan undang-undang tentang kesalahan klasifikasi karyawan terlihat sangat jelas di Amerika Serikat.

Tindall mengatakan bahwa sekitar 450 tuntutan serupa sebelumnya telah diajukan ke American Arbitration Association. Ia dan pengacara lainnya telah mengumpulkan klaim selama bertahun-tahun.

Sementara itu, Amazon mengatakan perusahaan memberikan pengemudi kesempatan untuk mengatur jadwal mereka sendiri dan menjadi bos bagi diri mereka sendiri sambil mendapatkan gaji yang kompetitif. Pengemudi katanya mendapatkan penghasilan sekitar US$18 hingga US$25 per jam.

Namun, Tindall mengatakan Amazon hanya membayar pengemudi untuk "blok" yang telah ditentukan sebelumnya. Jika pengemudi memesan blok tiga jam di aplikasi, mereka hanya dibayar untuk tiga jam, meskipun pengiriman membutuhkan waktu lebih lama.

"Sayangnya, arbitrase membatasi upaya pengemudi untuk mencapai keadilan. Jadi, kami tidak punya banyak pilihan selain mengajukan hampir 16 ribu gugatan arbitrase individu sekaligus," katanya.

Jutaan orang di AS memutuskan untuk bekerja di aplikasi pengiriman dan perjalanan seperti Lyft, Uber, Doordash, dan Instacart.

Namun, seiring dengan semakin populernya pekerjaan tersebut, banyak dari pekerja mengatakan bahwa mereka sebenarnya adalah karyawan, bukan buruh kontrak. Oleh karena itu, mereka berhak mendapatkan lebih banyak manfaat dan perlindungan.

Definisi dan hak pekerja kontrak dan karyawan telah diperdebatkan dengan sengit dalam undang-undang seperti Prop 22 California, yang mengizinkan pengemudi layanan ride-hailing dan pengantaran barang diperlakukan sebagai kontraktor independen dengan beberapa manfaat tambahan, termasuk jaminan penghasilan minimum.

(Annisa\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar