Prabowo Yakin Mampu Terbangkan Ekonomi RI ke 8 Persen dalam 3 Tahun

Kamis, 16/05/2024 18:07 WIB
Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI resmi menetapkan pasangan calon presiden dan calon wakil presiden (capres-cawapres) nomor urut 2, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, sebagai presiden dan wakil presiden terpilih hasil Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024. Penetapan ini dilakukan selang dua hari setelah Mahkamah Konstitusi (MK) menolak seluruh gugatan sengketa hasil pilpres. Robinsar Nainggolan

Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI resmi menetapkan pasangan calon presiden dan calon wakil presiden (capres-cawapres) nomor urut 2, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, sebagai presiden dan wakil presiden terpilih hasil Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024. Penetapan ini dilakukan selang dua hari setelah Mahkamah Konstitusi (MK) menolak seluruh gugatan sengketa hasil pilpres. Robinsar Nainggolan

Jakarts, law-justice.co - Presiden terpilih Prabowo Subianto yakin mampu membuat ekonomi Indonesia tumbuh 8 persen dalam tiga tahun sejak ia menjabat.

Bahkan, Prabowo mengklaim pertumbuhan ekonomi bisa melampaui 8 persen dalam satu periode masa jabatannya.

Hal tersebut disampaikan dalam forum internasional Qatar Economic Forum, yang dikutip dari tayangan Youtube Bloomberg Live, Kamis (16/5).

"Saya sangat percaya diri. Saya sudah berbicara dengan ahli saya. Saya sudah mempelajari angka-angkanya. Saya sangat yakin kita bisa dengan mudah mencapai (pertumbuhan ekonomi) 8 persen dan saya bertekad untuk melampauinya," ujar Prabowo dengan optimis.

Namun, ia menekankan pertumbuhan itu tak bisa dicapai dalam satu tahun. Setidaknya, ia membutuhkan waktu sekitar tiga tahun.

"(8 persen dalam lima tahun?) Dalam dua atau tiga tahun," imbuhnya.

Menurut Prabowo, berbagai program yang telah dijalankan Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan dilanjutkan oleh pemerintahannya nanti. Di antaranya hilirisasi dan swasembada pangan hingga energi yang dinilai sebagai kunci utama untuk mencapai pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen.

"Pada tahun-tahun pertama adalah konsentrasi kita pada pertanian, pangan, produksi pangan, distribusi pangan dan energi. Kami ingin menjadi ramah lingkungan dengan cara yang sangat cepat. Kami ingin memproduksi solar dari minyak sawit dan hal ini akan menjadi pendorong pertumbuhan yang sangat kuat," ujarnya.

Lanjutnya, apabila pemerintah berhasil menciptakan bahan bakar sendiri, utamanya dari sumber daya alam (SDA) yang dimiliki, maka penghematan besar akan terjadi. Sehingga, anggaran impor minyak selama ini sangat besar bisa digunakan untuk program lainnya yang lebih dibutuhkan.

"Anda tahu, kita mengimpor US$20 miliar setiap tahun untuk minyak solar. Jadi bisa anda bayangkan penghematan yang akan kita dapatkan ketika kita beralih ke biofuel," pungkasnya.***

(Gisella Putri\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar