Airlangga Klaim Peluang RI Masuk Jurang Resesi Hanya 1,5 Persen

Rabu, 15/05/2024 20:07 WIB
Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto (Foto: Istimewa)

Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto (Foto: Istimewa)

Jakarta, law-justice.co - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengklaim peluang Indonesia mengalami resesi paling kecil dibandingkan negara lainnya.Ia mengatakan peluang Indonesia masuk jurang resesi hanya 1,5 persen.

"Dari berbagai survei probabilitas resesi kita salah satu terendah di dunia dibandingkan negara lain. Bahkan Eropa zone itu 40 persen, Thailand 30 persen, tapi Indonesia 1,5 persen," katanya dalam Rakernas Percepatan dan Pra-Evaluasi PSN di Hotel Park Hyatt, Jakarta Pusat, Selasa (14/5).

Berdasarkan paparan Airlangga, probabilitas resesi terbesar terjadi pada Jerman sebesar 60 persen. Kemudian disusul negara lainnya seperti Italia (55 persen), Afrika Selatan (40 persen), Australia (32,5 persen), Prancis (22,5 persen). Kemudian Korea Selatan (15 persen), Brasil (10 persen), Arab Saudi (10 persen), dan Malaysia (5 persen).

Lebih lanjut Airlangga menjelaskan jika dilihat dari indikator makro, kondisi Indonesia masih lebih baik dari negara lainnya. Salah satunya inflasi yang terjaga di level 3 persen, lebih rendah dari negara lain seperti Amerika Serikat (3,5 persen), Brasil (3,7 persen), Filipina (3,8 persen), Vietnam (4,4 persen), Meksiko (4,7 persen), dan Afrika Selatan (5,3 persen).

Posisi inflasi Indonesia katanya hanya lebih tinggi dari Korea Selatan (2,9 persen) dan Jerman (2,2 persen).

Sektor manufaktur katanya juga terjaga. Hal itu terlihat dari Purchasing Managers` Index (PMI) Manufaktur pada April yang tercatat pada level 52,9.

"Itu jauh di atas beberapa negara lain termasuk AS, Korea Selatan, Inggris, bahkan Jepang," ungkapnya dilansir dari CNN Indonesia.

Sebelumnya, sejumlah negara telah masuk jurang resesi seperti Jepang dan Inggris. Pertumbuhan ekonomi Jepang negatif dalam dua kuartal berturut-turut, yakni minus 3,3 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal III 2023 dan turun 0,4 persen yoy di kuartal berikutnya. Ini merupakan indikator perekonomian suatu negara berada dalam resesi teknis.

Ekonomi Inggris juga memble dalam dua kuartal beruntun. Pada kuartal III 2023 perekonomian Inggris terkontraksi 0,1 persen dan berlanjut di kuartal IV 2023 yang minus 0,3 persen.

(Gisella Putri\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar