Bos Intel Israel Mundur Imbas Kebobolan Serangan Hamas 7 Oktober

Senin, 22/04/2024 16:40 WIB
Potret saat rudal-rudal Hamas ditangkis oleh Iron Dome milik Israel. (Foto: Vox).

Potret saat rudal-rudal Hamas ditangkis oleh Iron Dome milik Israel. (Foto: Vox).

Jakarta, law-justice.co - Kepala intelijen militer Israel, Aharon Haliva, mengundurkan diri dari jabatannya karena gagal mencegah serangan Hamas pada 7 Oktober lalu.

Serangan Hamas itu menjadi pematik agresi brutal Israel ke Jalur Gaza Palestina hingga hari ini. Setidaknya 1.139 warga Israel tewas dan lebih dari 200 orang lain termasuk warga asing disandera oleh Hamas dalam serangan sporadis itu.

Melalui sebuah pernyataan pada Senin (22/4), militer Israel mengatakan kepala staf militer menerima pengunduran diri Haliva dan berterima kasih atas pengabdiannya.

Militer Israel menuturkan Haliva sendiri yang mengajukan agar masa tugasnya diakhiri. Dalam surat pengunduran diri yang diajukan pada Senin, Haliva mengatakan direktorat intelijen yang dipimpin tak bisa menjalankan tugas dengan baik.

"Hari-hari saya kelam sejak saat itu, hari demi hari, malam demi malam," ujar dia dalam surat, dikutip Associated Press.

Haliva lalu berkata, "Saya akan menanggung rasa sakit akibat perang selamanya."

Dikutip Al Jazeera, Haliva merupakan pejabat paling senior pertama Israel yang mengundurkan diri akibat kegagalan pemerintah dan militer mencegah serangan Hamas 7 Oktober lalu.

Tak lama usai serangan itu terjadi, Haliva sendiri telah mengatakan kepada publik bahw dia memikul tanggung jawab besar soal ini karena tidak mencegah ancaman nasional.

Sebagai kepala departemen, Haliva bertanggung jawab memberi peringatan intelijen dan peringatan harian ke pemerintah serta militer.

Dikutip Al Jazeera, selain Haliva beberapa pejabat militer dan keamanan lainnya diperkirakan akan mengundurkan diri dalam waktu dekat sebagai tanggapan atas kegagalan besar mencegah serangan tersebut.

Namun waktu pengunduran diri tersebut tidak jelas karena Israel masih memerangi Hamas di Gaza. Ketegangan dengan Iran juga meningkat menyusul serangan balasan.

Meskipun Haliva dan beberapa pejabat lainnya telah mengaku gagal menghentikan serangan Hamas, pejabat lainnya termasuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu tidak pernah mengakui kesalahannya lalai atas serangan tersebut.***

(Tim Liputan News\Yudi Rachman)

Share:




Berita Terkait

Komentar