Indikator Politik: Meski Kaesang Ketum, PSI Tetap Tak Lolos Parlemen

Senin, 11/12/2023 05:49 WIB
Resmi Jadi Ketua Umum PSI, Ini Ajakan Kaesang untuk Pendukung Bapaknya. (Gelora).

Resmi Jadi Ketua Umum PSI, Ini Ajakan Kaesang untuk Pendukung Bapaknya. (Gelora).

Jakarta, law-justice.co - Hasil survei terbaru lembaga survei, Indikator Politik Indonesia menyatakan bahwa sebanyak 23,5 persen responden memilih PDI Perjuangan dalam Pemilu 2024, sedangkan PPP hanya memperoleh dukungan 2,6 persen.

Peneliti Utama Indikator Politik Indonesia, Hendro Prasetyo mengatakan, hasil itu membuat PPP terancam tidak lolos ke DPR RI 2024-2029 mengingat ambang batas parlemen sebesar 4 persen dari jumlah suara sah nasional.

Sebagai informasi kata dia, survei Pemilu 2024 ini dilakukan 23 November-1 Desember 2023 lalu.

"Pertama itu PDIP 23,5 persen, disusul Gerindra 16,9 persen. Posisi ketiga Partai Golkar 10,8 persen, PKB pada posisi keempat 7,8 persen," kata Peneliti Utama Indikator Politik Indonesia, Hendro Prasetyo melalui konferensi pers daring dikutip Minggu, 10 Desember 2023.

Dia melanjutkan, posisi kelima, keenam, hingga kedelapan ditempati Partai NasDem dengan 6,3 persen, Partai Demokrat (6), kemudian PKS (5,5), disusul PAN (4,4), dan PPP (2,6).

Hal yang menarik kata dia, PSI berada diurutan ke 10 dengan 1,6 persen. Artinya, PSI yang memasang Kaesang Pangarep putra bungsu Presiden Jokowi sebagai Ketum gagal lolos ambang batas parlemen.

Dia mengungkapkan PDIP mengalami tren penurunan pemilih dibandingkan perolehan dukungan 24,1 persen responden pada periode survei sebelumnya meski masih menempati posisi teratas.

Dia menambahkan, jenaikan justru dialami oleh Partai Gerindra yang memperoleh tambahan dukungan responden sekitar 2,5 persen dibanding periode sebelumnya.

"PDIP mengalami penurunan sedikit ya atau stagnan dibandingkan survei sebelumnya yang kita lakukan pada Oktober sampai November, itu agak turun. Kita temukan kenaikan yang tampak sekali itu Gerindra 14,4 menjadi 16,9 persen dalam rilis kita sebelumnya Oktober dan sekarang," katanya.

Kenaikan juga dirasakan oleh Partai Golkar, PKB, dan Partai Demokrat yang di periode survei sebelumnya masing-masing hanya memperoleh dukungan 9,3 persen, 7,7 persen, dan 5,2 persen.

Dia menjelaskan hasil tersebut dilakukan dengan menggunakan simulasi langsung, yakni simulasi surat suara, dan tidak menanyakan simbol partai atau top of mind responden.

"Kita tidak lagi bertanya simbol partai atau top of mind, biasanya seperti itu, tetapi karena sekarang sudah memasuki masa Pemilu sehingga sudah tersedia partai yang bisa ikut atau tidak bisa ikut, termasuk calon-calonnya, kita pakai simulasi surat suara. Pertanyaannya sebetulnya berikut adalah nama-nama partai dan nama-nama calon anggota DPR RI," katanya.

Survei nasional Indikator Politik Indonesia menggunakan metode multistage random sampling dengan jumlah sampel basis sebanyak 1.200 orang yang berasal dari seluruh provinsi yang terdistribusi secara proporsional.

 

(Annisa\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar