Akibat Boikot Israel, Kapitalisasi Pasar Starbucks Menguap Rp 186,87 T

Sabtu, 09/12/2023 08:20 WIB
Starbucks akan tutup 8.000 gerai sehari untuk pelatihan mengenai bias rasial (foto; all balcks media)

Starbucks akan tutup 8.000 gerai sehari untuk pelatihan mengenai bias rasial (foto; all balcks media)

Jakarta, law-justice.co - Perang yang terjadi antara Israel dengan Hamas, berdampak signifikan pada bisnis Starbucks. Dilaporkan, nilai kapitalisasi pasar Starbucks menguap US$ 12 miliar atau setara dengan Rp 186,87 triliun (kurs Rp 15.573).

Penurunan tajam nilai kapitalisasi pasar terjadi di tengah kekhawatiran penjualan dan boikot terhadap Israel.

Mengutip New York Post, Starbucks mengalami penurunan nilai kapitalisasi pasar sebesar hampir US$ 12 miliar selama sebulan terakhir karena penjualan dilaporkan melambat di tengah ketatnya dompet konsumen dan meningkatnya perselisihan tenaga kerja.

Bahkan ada yang berspekulasi bahwa rantai gerai kopi tersebut terkena dampak boikot terkait perang Israel-Gaza.

Menurut Bloomberg yang mengutip data penjualan dari analis JPMorgan, investor semakin khawatir bahwa konsumen akan enggan membeli minuman mahal selama musim liburan ketika anggaran semakin ketat. Ini mengisyaratkan “perlambatan material” di Starbucks pada bulan November.

Meskipun menghasilkan pertumbuhan penjualan yang lebih baik dari perkiraan sebesar 8% pada kuartal fiskal keempat, harga saham kedai kopi tersebut telah melambat dari minggu ke minggu, mengikuti tren di industri makanan ringan dan kopi.

Ketika pasar dibuka pada hari Senin lalu, saham Starbucks turun 1,6%. Penurunan bahkan terjadi selama 11 sesi berturut-turut yang merupakan penurunan terpanjang sejak debut Starbucks di publik pada tahun 1992.

Kemerosotan ini menghapus 9,4% nilai pasar Starbucks, atau turun hampir US$ 12 miliar.

Sebelumnya, pekerja Starbucks melakukan aksi mogok kerja dan menuntut penambahan staf dan jadwal.

Aksi protes tersebut hanyalah yang terbaru dari perselisihan Starbucks dengan serikat pekerja.

Bulan lalu, kedua entitas tersebut mengajukan tuntutan hukum yang saling bertentangan atas postingan media sosial serikat pekerja yang menyatakan “Solidaritas dengan Palestina!” setelah serangan mematikan Hamas.

Setelah Workers United mempublikasikan pernyataan kontroversial tersebut dalam postingan yang telah dihapus di X bulan lalu – yang memiliki hampir 100.000 pengikut – Starbucks dengan cepat menjauhkan diri dari organisasi tersebut.

“Kami dengan tegas mengutuk tindakan terorisme, kebencian dan kekerasan, serta tidak setuju dengan pernyataan dan pandangan yang diungkapkan oleh Workers United dan anggotanya. Perkataan dan tindakan Workers United adalah milik mereka, dan mereka sendiri,” kata Starbucks saat itu.

Tanggapan tersebut ditafsirkan sebagai bentuk dukungan terhadap Israel atas Palestina, sehingga memicu seruan boikot.

Terlepas dari upaya Starbucks untuk meredam seruan boikot, tagar #boycottstarbucks masih menjadi tren di media sosial.

Menurut Pusat Kreatif TikTok, tagar tersebut telah digunakan sekitar 16.000 kali selama 30 hari terakhir, da telah dilihat sebanyak 167 juta dalam kurun waktu 30 hari terakhir.***

(Gisella Putri\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar