Jika Jadi Presiden, Anies Mau Indonesia Tak Cuma Dekat dengan China

Minggu, 03/12/2023 12:26 WIB
Bakal calon presiden Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP) Anies baswedan melakukan pertemuan dengan tim kecilnya atau tim 8 hari ini. Anies membeberkan ada beberapa isu serius yang mulai dibahas. Anies mengatakan Koalisi Perubahan yang digagas Partai NasDem, Partai Demokrat dan PKS sudah mulai membahas topik yang menyentuh masyarakat. Robinsar Nainggpoal

Bakal calon presiden Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP) Anies baswedan melakukan pertemuan dengan tim kecilnya atau tim 8 hari ini. Anies membeberkan ada beberapa isu serius yang mulai dibahas. Anies mengatakan Koalisi Perubahan yang digagas Partai NasDem, Partai Demokrat dan PKS sudah mulai membahas topik yang menyentuh masyarakat. Robinsar Nainggpoal

Jakarta, law-justice.co - Belum lama ini, Calon Presiden (Capres) nomor urut 1, Anies Baswedan ditanya tentang arah haluannya menyangkut hubungan internasional.

Dalam hal ini, apakah dia akan mengikuti jejak Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang kerap disebut dekat dengan China, atau justru ambil langkah berbeda.

Anies menilai, Indonesia harus dekat dengan semua negara. Hal ini selaras dengan Indonesia yang punya banyak kepentingan sehingga membutuhkan kerja sama dengan berbagai pihak untuk mengakomodirnya. Hal ini termasuk lewat kedekatan dengan China dan Uni Eropa.

"Jadi harus dekat dengan Uni Eropa, harus dekat dengan China, dan kita mengadopsi One China Policy yang itu tidak berubah. Kita akan pertahankan kebijakan One China Policy, kita akan menjunjung tinggi kebijakan One China Policy," ujarnya, ditemui usai acara CIFP 2023 di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Sabtu (2/12/2023).

"Dan kita harus dekat juga dengan Jepang, harus dekat juga dengan Korea, harus dekat juga dengan Amerika Serikat, dengan Australia, Singapura, dengan Malaysia," sambungnya.

Anies mengatakan, kondisi dunia saat ini telah terbentuk konstelasi multipolar atau kekuatan dunia yang terdistribusi ke banyak aktor.

Oleh karena itu, Indonesia harus bertindak kreatif dalam membangun kedekatan dengan semua pihak demi memanfaatkan peluang yang ada.

Di samping itu, ia juga mengelompokkan sejumlah negara sebagai mitra strategis berdasarkan aspeknya. Misalnya untuk aspek ekonomi, menurutnya lima mitra yang paling strategis antara lain China, Jepang, Uni Eropa, AS, dan Singapura.

Lalu yang kedua dari aspek kebudayaan, sosial, dan keagamaan, Indonesia punya hubungan intensif dengan negara seperti Arab Saudi. Dalam hal ini, jutaan orang Indonesia setiap tahun datang ke sana untuk melakukan kegiatan keagamaan.

"Lalu kita juga menyaksikan di dalam kapasitas hubungan internasional. Australia adalah mitra yang penting dalam konstelasi internasional," pungkasnya.

(Annisa\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar