Sebanyak 718 Ribu Vitamin Ilegal di Toko Online Diungkap BPOM

Kamis, 06/10/2022 11:57 WIB
Ilustrasi Obat-obatan kadaluwarsa (langitsultra.com)

Ilustrasi Obat-obatan kadaluwarsa (langitsultra.com)

Jakarta, law-justice.co - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) membongkar peredaran produk vitamin ilegal yang diedarkan di e-commerce atau toko online.

Pelaksana tugas Deputi Bidang Penindakan BPOM, Nur Iskandarsyah mengatakan, total temuan berjumlah 718.791 buah dengan nilai jual sebesar Rp185,2 miliar.

Kata dia, temuan tersebut merupakan hasil pengawasan selama periode Oktober 2021 sampai dengan Agustus 2022.

Dia menjelaskan, penjualan ilegal itu juga diidentifikasi dari 19.703 tautan atau link yang melakukan penjualan produk vitamin Tanpa Izin Edar (TIE).

"Dari hasil pengawasan ini, terungkap bahwa jenis vitamin ilegal yang paling banyak ditemukan adalah Vitamin D3 dan Vitamin C. Terhadap temuan produk vitamin ilegal tersebut, BPOM telah melakukan beberapa upaya, termasuk intensifikasi kegiatan pengawasan, penindakan, dan pemberdayaan masyarakat," kata Nur dikutip dari situs resmi BPOM, Kamis (6/10).

Selain produk vitamin ilegal, BPOM juga menemukan peredaran obat tradisional, suplemen kesehatan, kosmetika mengandung Bahan Kimia Obat (BKO), serta bahan yang dilarang yang berbahaya bagi kesehatan.

Berdasarkan hasil sampling dan pengujian selama periode Oktober 2021 hingga Agustus 2022, terdapat 41 item obat tradisional mengandung BKO, serta 16 item kosmetika mengandung bahan dilarang/bahan berbahaya yang ditemukan.

Atas temuan tersebut, BPOM melalui Balai Laka POM di seluruh Indonesia telah melakukan penertiban ke fasilitas produksi dan distribusi, termasuk retail. Lebih lanjut, selain produk dalam negeri, BPOM juga menindaklanjuti temuan berdasarkan laporan beberapa otoritas pengawas obat dan makanan negara lain.

Berdasarkan laporan tersebut, sebanyak 95 obat tradisional dan suplemen kesehatan mengandung BKO, serta sebanyak 46 kosmetika ditarik dari peredaran karena mengandung bahan dilarang, cemaran mikroba, ataupun merupakan kosmetika palsu.

Produk obat tradisional, suplemen kesehatan, dan kosmetika yang ditemukan juga telah dilakukan tindak lanjut berupa pencabutan izin edar untuk produk yang terdaftar di BPOM, penarikan dari peredaran, dan pemusnahan terhadap produk yang tidak memiliki izin edar (Tanpa Izin Edar/TIE).

"Total temuan obat tradisional dan suplemen kesehatan ilegal dan atau mengandung BKO lebih dari 658.205 pieces dengan nilai keekonomian sebesar Rp27,8 miliar," kata Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik BPOM Reri Indriani.

"Sedangkan total temuan kosmetik ilegal dan atau mengandung bahan dilarang selama periode yang sama, yaitu sebanyak lebih dari 1 juta pieces dengan nilai keekonomian sebesar Rp34,4 miliar," lanjutnya.

Peredaran produk-produk ilegal dan tidak sesuai ketentuan tersebut menurut Reri dapat berdampak negatif terhadap iklim usaha di Indonesia.

Serta menurunkan tingkat konsumsi masyarakat, sehingga berimbas pada turunnya omzet dari anggota asosiasi yang telah memproduksi sesuai Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB).

(Ade Irmansyah\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar