Upacara Hari Kesaktian Pancasila, Sudahkah Melihat Dua Sisi? (2)

Sabtu, 01/10/2022 09:00 WIB
Film G30S PKI ( foto: tribunnews.com)

Film G30S PKI ( foto: tribunnews.com)

Jakarta, law-justice.co - Sejarah berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia memang penuh perjuangan, keringat, darah dan semua pengorbanan. Bahkan, setelah merdeka pun berbagai peristiwa-peristiwa berdarah tetap terjadi dan tak jarang dilatarbelakangi isu politik.

Salah satu sejarah kelam bangsa Indonesia adalah Gerakan 30 S  yang akhirnya mencetuskan 1 Oktober sebagai hari Kesaktian Pancasila. Gerakan 30 S/PKI sendiri dicap sebagai gerakan pengkhiatan bangsa yang dengan brutal merenggut nyawa 6 jendral kenamaan Indonesiayang konon dilakukan oleh para partisipan PKI.

Saat ini kita pun memasuki momen-momen peringatan tersebut. Beberapa stasiun TV dan aparat atau kelompok lain mengadakan nonton bareng film yang sering diputar pada tanggal 30 September ini, yang berjudul sama dengan peristiwanya, Pengkhianatan G30 S


Tapi tahukah, bahwa ada film lain yang bertemakan peristiwa G30S/PKI dengan latar tahun 1965-1966. Film-film ini mengambil tema di balik dan setelah peristiwa tersebut. Sayangnya, mereka jarang—bahkan dilarang diputar di Indonesia—karena menuai pro dan kontra. Meski begitu, film-film tersebut masuk dalam nominasi Oscar sebagai film dokumenter terbaik.

Film itu berjudul Jagal dan sekuelnya, Senyap. Kedua film ini menggambarkan sisi lain kejadian G30S/PKI. Untuk itu, yuk, lebih jauh melihat dua sisi sejarah dengan film-film ini.

 

Spekulasi Peristiwa G30S/PKI


Banyak spekulasi mendasari peristiwa G30S/PKI. Gerakan 30S/PKI terjadi pada akhir bulan September 1965. Pada saat-saat yang genting sekitar bulan September 1965, muncul isu adanya ‘Dewan Jenderal’ yang mengungkapkan adanya beberapa petinggi Angkatan Darat yang tidak puas terhadap Soekarno dan berniat untuk menggulingkannya.

Menanggapi isu ini, Soekarno disebut-sebut memerintahkan pasukan Cakrabirawa untuk menangkap dan membawa mereka untuk diadili oleh Soekarno. Namun yang tidak diduga-duga, dalam operasi penangkapan jenderal-jenderal tersebut, terjadi tindakan beberapa oknum yang termakan emosi dan membunuh Letjen Ahmad Yani, Panjaitan, serta Harjono.

Beberapa perwira lain di daerah di Jawa dan Sumatera juga turut menjadi korban nyawa. Mereka turut menculik dan membunuh perwira-perwira ini karena dianggap terlibat dalam `Dewan Jenderal` dan menolak berhubungan dengan `Dewan Revolusi` yang akan mengkudeta pemerintah.


Sejumlah pihak menduga Partai Komunis Indonesia atau PKI sebagai dalang peristiwa ini. Banyak memang yang mengatakan PKI tak hanya membantai para jenderal, tapi juga organisasi bahkan warga sipil lainnya. Kendati demikian, dalang dari G30S/PKI sejatinya masih menjadi misteri hingga kini.

Kebenarannya sendiri hanya mereka yang terkait di dalamnya saja yang mengetahuinya. Meski begitu, pandangan saat ini, peristiwa keji tersebut benar-benar didalangi oleh PKI dan menganggap PKI beserta semua yang ‘dekat’ dengannya dicap sebagai pengkhianat bangsa.

Bahkan para keturunan Tionghoa hingga kini banyak menerima diskriminasi, perundungan, sikap skeptis dan sinis dari banyak pihak, walau kenyataanya banyak dari keturunan Tionghoa pun adalah rakyat Indonesia yang hormat dan cinta tanah air Indonesia.

Film Pengkhianatan G30S/PKI untuk kenang masa kelam Indonesia dan kesaktian Pancasila

 

(Devi Puspitasari\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar