Jokowi Sebut Referendum Ukraina Bikin Penyelesaian Perang Makin Rumit

Jum'at, 30/09/2022 09:15 WIB
Presiden Jokowidan Vladimir Putin (rmol)

Presiden Jokowidan Vladimir Putin (rmol)

Jakarta, law-justice.co - Untuk mengukuhkan legitimasinya di sebagian teritori negara tetangganya yaitu Ukraina, Rusia telah menggelar referendum.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) punya pandangan terhadap referendum itu.

"Apalagi urusan perang di Ukraina, lebih sulit lagi dihitung kapan selesainya," kata Jokowi dalam acara pengarahan kepada seluruh menteri, kepala daerah, dan jajaran pemerintahan, di JCC, Senayan, Jakarta, Kamis (29/9) kemarin.

Sebagaimana diketahui, referendum telah digelar di empat wilayah Ukraina yakni di Dontesk, Luhansk, Zaporizhzhia, dan Kherson.

Rusia mengklaim diri sebagai pemenang referendum, karena hasil referendum itu menunjukkan warga di empat wilayah itu mau bergabung dengan Rusia dan memisahkan diri dengan Ukraina. Menurut Jokowi, referendum itu bikin ruwet situasi.

"Referendum yang kemarin dilakukan di empat wilayah Ukraina: Di Donetsk, di Luhansk, di Zaporizhzhia, dan Kherson, makin merumitkan lagi kapan akan selesai dan imbasnya kepada ekonomi seperti apa. Makin rumit," kata Jokowi.

Akibat global yang juga bakal berpengaruh ke Indonesia adalah dampak ekonomi. Sampai saat ini dan tahun depan, dunia bakal `gelap` karena dihantui satu momok.

"Momok terbesar semua negara sekarang ini adalah inflasi, kenaikan barang dan jasa. Momok semua negara saat ini," kata Jokowi.

Seperti melansir detik.com, Referendum pro-Rusia telah digelar di empat wilayah Ukraina sejak Jumat (23/9) lalu hingga Selasa (27/9) waktu setempat.

Badan jajak pendapat lokal di wilayah Zaporizhzhia selatan mengatakan 93,11 persen pemilih memilih aneksasi Rusia setelah semua surat suara dihitung. Namun dikatakan bahwa ini adalah hasil awal.

Di Kherson, juga di selatan, otoritas setempat yang pro-Rusia mengatakan 87,05 persen pemilih telah memilih aneksasi Rusia setelah penghitungan suara selesai.

Di wilayah Luhansk timur yang dikendalikan oleh separatis pro-Rusia, menurut kantor berita Rusia yang mengutip otoritas setempat, sebanyak 98,42 persen memilih aneksasi oleh Rusia.

Di wilayah Donetsk, badan pemungutan suara mengatakan 99,23 persen pemilih telah memilih aneksasi Rusia setelah semua surat suara dihitung.

"Kami semua menginginkan ini untuk waktu yang sangat lama," tegas pemimpin separatis pro-Rusia di Donetsk, Denis Pushilin, seperti dilansir kantor berita pemerintah Rusia RIA Novosti.

Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden secara tegas bersumpah tidak akan pernah mengakui hasil referendum palsu yang dipimpin Rusia di Ukraina.

Biden menegaskan tindakan itu merupakan pelanggaran mencolok atas prinsip-prinsip internasional

"Saya ingin menjadi sangat jelas tentang ini. Amerika Serikat tidak akan pernah, tidak akan pernah mengakui klaim Rusia di wilayah kedaulatan Ukraina," kata Biden saat bertemu dengan para pemimpin Kepulauan Pasifik di Washington.

(Annisa\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar