Pakar Bongkar Modus Peretas Narasi: Waspada Klik Tautan URL!

Selasa, 27/09/2022 17:00 WIB
Belasan hacker berusaha meretas laman KPU (ilustrasi: tribune)

Belasan hacker berusaha meretas laman KPU (ilustrasi: tribune)

Jakarta, law-justice.co - Hingga Senin, 26 September 2022, tercatat akun media sosial milik 24 karyawan dan eks karyawan Narasi mengalami peretasan. Upaya peretasan secara serentak dan pengambilalihan nomor seluler itu terjadi pada akun WhatsApp, Telegram, Facebook, dan Instagram tidak dapat diakses.

Pakar telematika Abimanyu Wachjoewidajat mengatakan modus peretasan yang dialami Narasi kemungkinan bukan berasal dari tautan yang diterima, seperti yang sebelumnya diduga sebagai awal mula peretasan.

Abimanyu menjelaskan bahwa secara logika digital pengiriman suatu tautan baru merupakan suatu teks biasa tanpa pengaruh digital apapun, melainkan sekadar susunan URL atau universal resource locator yang merupakan suatu petunjuk (berbasis teks biasa) mengarah kepada suatu sumber informasi.

Sebelumnya beberapa awak redaksi Narasi mengaku mendapatkan pesan berisi tautan URL, namun mereka tak menghiraukannya. Hal tersebut, menurut Abimanyu, mustahil dilakukan jika menggunakan modus peretasan dengan URL.

“Teks tersebut (tautan yang diterima) harus diklik oleh penggunanya sebagai tanda bahwa pemegang device (HP/PC/NB/Tab) ingin mengunjungi alamat URL (sesuai isi teks), baru kemudian program pada URL tersebut menjadi efektif,” ujar Abimanyu, dilansir dari Tempo, Selasa (27/9/2022)

Penggunaan tautan URL sebagai modus peretasan biasa disebut sebagai phishing. Kegiatan phishing ini memang bertujuan memancing korban untuk memberikan informasi pribadi secara sukarela tanpa disadari. Padahal informasi yang dibagikan tersebut akan digunakan untuk tujuan kejahatan.

Abimanyu mengatakan bahwa peretasan yang terjadi bukan sekedar penggunaan tautan, melainkan ada sebuah program yang dirancang guna melacak penggunaan internet si korban untuk kemudian menyimpan atau menjual data-data penting.

“Kalau memang ada aktivitas yang mampu langsung mengganggu device yang dimiliki oleh pengguna gadget, hal itu pasti bukan sekedar merupakan tautan, tapi bisa merupakan program atau aplikasi yang terpasang pada perangkat si korban tetapi saat itu si korban tidak mengetahui bahwa yang dia install adalah suatu program jahat,” ujar Abimanyu.

Pakar telematika itu juga menjelaskan bahwa program yang digunakan untuk melakukan peretasan biasanya adalah program spyware yang sudah terinstall di dalam gadget korban. “Program (spyware) tersebut yang akan menjadi kunci pembuka atau pengontrol bagi si hacker untuk mengetahui bagaimana cara menerobos suatu perangkat,” Ujar Abimanyu.

Abimanyu juga memberikan informasi untuk melakukan pemulihan ketika terjadi peretasan seperti yang dialami oleh tim Narasi, yaitu dengan membackup data dan kemudian melakukan factory reset.

“Cara paling mudah adalah membackup dulu data-data yang ada lalu cukup lakukan factory reset, dan install kembali aplikasi-aplikasi yang dibutuhkan lalu restore kembali data-data yang tadi di backup,” ujarnya.

(Devi Puspitasari\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar