Ini Daftar Sejumlah Kesalahan Putin dalam Invasi Rusia ke Ukraina

Jum'at, 23/09/2022 13:06 WIB
Vladimir Putin sedang menembak (Tribun)

Vladimir Putin sedang menembak (Tribun)

Jakarta, law-justice.co - Pemerintahan Rusia yang dipimpin Presiden Vladimir Putin disebut salah menerapkan strategi saat menyerang Ukraina pada 24 Februari lalu.

Kini Negeri Beruang Merah telah kehilangan banyak pasukan terlatih.

Analis lembaga riset RAND, William Courtney, mengatakan bahwa Putin telah mengorbankan banyak pasukan terlatihnya di fase awal perang.

Pasalnya, dia berharap perang bisa diselesaikan dengan cepat.

Namun, strategi tersebut meleset sehingga Rusia kini bergantung pada sukarelawan yang `bermotivasi buruk` dan para mantan tahanan.

"Rusia tampaknya mencari sukarelawan, bahkan membawa tahanan keluar dari penjara untuk berperang. Banyak pasukan yang terlatih menjadi korban dari pertempuran sebelumnya. Jadi ini mungkin menghasilkan kekuatan yang kurang mampu melakukan operasi ofensif," katanya seperti melansir cnbcindonesia.com.

Di sisi lain, tuturnya, Ukraina lebih terorganisir dan memiliki rekrutan yang lebih termotivasi dan mungkin lebih terlatih.

Menurutnya, hal itu dikarenakan Ukraina berjuang untuk negara mereka sendiri.

"Jadi semua indikasi sejauh ini adalah bahwa patriotisme cukup tinggi di Ukraina dan orang-orang Ukraina bersedia berjuang untuk negaranya. Sedangkan di Rusia, otoritas militer Rusia bahkan tidak memberi tahu pasukan mereka di awal perang bahwa mereka akan berperang," katanya.

Selain itu, Moskow telah diperingatkan bahwa stok senjata hampir habis sementara Ukraina terus menerima dukungan dari mitra internasional.

Pakar pertahanan Larisa Brown mengatakan pada tahun depan Rusia perlu berjuang lebih keras.

Mereka akan kesulitan mendapatkan pasokan tenaga dan persenjataan, sedangkan Ukraina akan mendapatkan lebih banyak perlengkapan Barat.

Putin juga kini dikatakan memiliki kemungkinan tidak memiliki jalan keluar dari kekalahan perangnya, termasuk soal penggunaan senjata nuklir.

Untuk seorang pemimpin yang mengklaim kepemimpinannya berfokus pada maskulinitas pribadi dan kekebalan politik, persepsi yang berkembang tentang ketidakmampuan militernya dan kelemahannya sendiri membahayakan pemerintahannya yang berkelanjutan.

"Saya khawatir (Putin) akan menyerang balik sekarang dengan cara yang benar-benar tidak terduga, dan cara yang bahkan mungkin melibatkan senjata pemusnah massal," kata Rose Gottemoeller, mantan wakil sekretaris jenderal NATO.

Hal itu tampaknya mulai mendorong pemikiran ulang di antara segelintir sekutunya, seperi Perdana Menteri India Narendra Modi dan Presiden China Xi Jinping.

Dalam KTT Organisasi Kerjasama Shanghai yang digelar di Samarkand, Uzbekistan, Modi mengungkapkan keprihatinannya tentang perang dengan mengatakan kepada Putin secara terbuka bahwa "era hari ini bukanlah era perang, dan saya telah berbicara dengan Anda di telepon tentang hal ini."

 

(Annisa\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar